Rumah Sunyi Di Ujung Pesantren Raudhatul Falah Kota Laragiri
ASKARA - Hujan turun tipis di Kota Laragiri ketika seorang perempuan bernama Salma akhirnya memutuskan membuka ingatan yang selama bertahun tahun ia kubur rapat dalam dirinya. Di rumah kecil bercat kusam yang berdiri di ujung gang sempit, ia duduk berhadapan dengan seorang penulis bernama Rendra sambil menahan gemetar di kedua tangannya. Tidak ada suara selain rintik hujan dan detak jam tua yang terdengar lambat dari ruang tengah. Malam itu, sebuah kisah lama mulai dibuka perlahan, membawa mereka pada rahasia yang tak pernah benar benar hilang dari ingatan.
Salma berusia tiga puluh tahun, tetapi wajahnya menyimpan kelelahan yang membuatnya tampak jauh lebih tua. Matanya cekung dan sorotnya sering kosong ketika pembicaraan mulai menyentuh masa lalu. Sejak sore ia tampak beberapa kali berubah pikiran sebelum akhirnya benar benar bersedia bercerita. Rendra yang duduk di depannya hanya membuka buku catatan kecil tanpa banyak bertanya, seolah memahami bahwa luka tertentu membutuhkan waktu sebelum menemukan suara.
“Aku dulu percaya tempat itu akan menyelamatkan hidupku,” ucap Salma lirih sambil menunduk. Suaranya nyaris tenggelam oleh bunyi hujan yang memukul genting tua rumah tersebut. Sesaat ia terdiam cukup lama, seperti sedang memilih bagian mana dari ingatannya yang sanggup ia keluarkan lebih dulu. Rendra tidak memotong pembicaraan dan membiarkan malam bergerak perlahan bersama cerita yang mulai mengalir.
Tahun 2008 menjadi awal semuanya berubah. Saat itu Salma masih berusia lima belas tahun dan tinggal di Desa Karangwuni, sebuah desa kecil yang dikelilingi sawah dan kebun tebu. Kehidupan keluarganya sederhana, bahkan sering kekurangan ketika musim panen gagal datang tepat waktu. Karena itulah orang tuanya merasa bahagia ketika seorang tokoh agama menawarkan kesempatan bagi Salma untuk belajar di sebuah pesantren tanpa biaya besar.
Pesantren itu bernama Raudhatul Falah dan terletak cukup jauh dari desanya. Bangunannya luas dengan dinding bercat hijau pucat yang mulai mengelupas di banyak sisi. Dari luar tempat itu terlihat tenang dan teduh, terutama karena suara lantunan ayat suci hampir terdengar sepanjang hari. Banyak warga percaya pesantren tersebut melahirkan murid murid yang saleh dan memiliki masa depan baik.
Pada minggu minggu pertama, Salma masih merasa nyaman berada di sana. Para santri bangun sebelum subuh, membersihkan halaman, lalu mengikuti pengajian hingga malam. Namun perlahan ia menyadari sebagian besar waktunya justru dihabiskan untuk bekerja. Bersama puluhan santri lain, ia mengangkut pasir, membersihkan bangunan baru, dan membantu pembangunan mushola yang tak kunjung selesai selama bertahun tahun.
Tidak ada yang berani mengeluh karena semua pekerjaan disebut sebagai bentuk pengabdian. Para pengurus sering mengatakan bahwa kelelahan adalah jalan menuju keberkahan hidup. Jika ada santri yang terlihat malas, hukuman langsung diberikan di depan banyak orang. Pernah seorang anak laki laki dipaksa berdiri di halaman semalaman hanya karena tertidur saat pengajian setelah bekerja seharian.
Salma mulai merasa ada sesuatu yang janggal ketika ibunya mengirim surat berisi kabar bahwa ayahnya menjual sebidang tanah kecil milik keluarga. Tanah itu dijual demi memenuhi kebutuhan pondok yang terus meminta biaya tambahan pembangunan. Dalam surat tersebut, ibunya menulis bahwa pengorbanan itu dilakukan agar Salma bisa menjadi anak yang membawa kemuliaan bagi keluarga. Setelah membaca surat itu, Salma menangis diam diam di kamar sempit yang dihuni sepuluh santriwati.
Meski hidup terasa berat, sebagian besar santri tetap bertahan karena sangat menghormati pimpinan pesantren bernama Kiai Harun. Lelaki itu dikenal tenang, jarang berbicara keras, dan selalu terlihat ramah di depan tamu. Banyak cerita beredar bahwa ia memiliki kemampuan membaca isi hati seseorang. Ada pula kisah tentang orang sakit yang sembuh setelah diberi air doa olehnya.
Salma pun pernah mempercayai cerita cerita tersebut. Suatu hari ia melihat seorang perempuan tua datang dengan tubuh lemah lalu pulang sambil menangis haru setelah bertemu Kiai Harun. Para santri menganggap kejadian itu sebagai bukti bahwa pemimpin mereka memiliki keistimewaan. Di usia yang masih muda, Salma merasa dirinya sedang berada di tempat yang benar.
Namun keyakinan itu perlahan berubah menjadi kegelisahan. Pada suatu malam, Salma diminta membantu membersihkan rumah utama tempat Kiai Harun menerima tamu penting. Rumah itu berbeda dengan bangunan asrama santri karena lantainya keramik putih mengilap dan udara di dalamnya selalu harum seperti kayu cendana. Ketika sedang menyapu lorong belakang, ia mendengar suara tangis tertahan dari salah satu kamar yang pintunya tertutup rapat.
Tak lama kemudian seorang santriwati senior keluar dari kamar tersebut dengan wajah pucat dan mata sembab. Perempuan itu berjalan cepat sambil merapikan jilbabnya yang kusut tanpa berani menatap siapa pun. Saat Salma mencoba bertanya, santriwati itu hanya menggeleng pelan lalu pergi meninggalkan lorong. Keesokan harinya, perempuan tersebut mendadak dipulangkan ke rumah tanpa penjelasan.
Peristiwa itu terus mengganggu pikiran Salma selama berbulan bulan. Ia mulai memperhatikan banyak hal yang sebelumnya tidak pernah ia sadari. Ada tamu perempuan yang keluar dari rumah utama dengan wajah tegang dan langkah gemetar. Ada pula beberapa santriwati yang tiba tiba menghilang dari pondok tanpa kabar jelas.
Akan tetapi tidak seorang pun berani membicarakan semua itu secara terbuka. Di pesantren tersebut, rasa takut tumbuh seperti bayangan yang selalu mengikuti setiap langkah para santri. Mereka diyakinkan bahwa melawan pemimpin pondok sama saja melawan keberkahan hidup. Cerita tentang mantan santri yang hidup sengsara setelah keluar dari pondok terus disebarkan dari mulut ke mulut.
Rasa takut itulah yang membuat Salma memilih diam. Ia mencoba meyakinkan dirinya bahwa semua kegelisahan itu mungkin hanya prasangka buruk. Selain itu, keluarganya sudah mengorbankan terlalu banyak hal demi dirinya. Ia tidak ingin mengecewakan orang tua yang percaya penuh pada pesantren tersebut.
Suatu malam di musim hujan, seorang pengurus datang ke asrama dan meminta Salma menuju rumah utama. Hujan turun deras ketika ia berjalan melewati halaman pondok yang gelap. Angin membawa bau tanah basah dan suara ranting pohon yang saling bergesekan. Semakin dekat ke rumah utama, jantung Salma berdetak semakin keras tanpa alasan yang ia mengerti.
Kiai Harun menyambutnya dengan suara lembut dan senyum tenang. Lelaki itu berbicara panjang tentang kesetiaan, pengabdian, dan pentingnya membersihkan hati dari keraguan. Salma hanya duduk diam sambil menunduk karena merasa tidak nyaman berada sendirian di ruangan tersebut. Lampu minyak di sudut ruangan membuat bayangan mereka tampak bergerak pelan di dinding.
Di tengah pembicaraan, Kiai Harun memberikan segelas air yang katanya telah dibacakan doa khusus. Salma meminumnya karena terlalu takut menolak. Beberapa menit kemudian kepalanya terasa berat dan pandangannya mulai kabur. Ia masih sempat mendengar suara hujan menghantam atap sebelum kesadarannya perlahan menghilang.
Saat membuka mata, Salma mendapati dirinya berada di sebuah kamar kecil dengan tubuh lemas dan kepala berdenyut. Jilbabnya tergeletak di lantai dekat pintu kayu yang setengah terbuka. Seorang santriwati senior duduk di sampingnya dengan wajah cemas sambil meminta Salma segera kembali ke asrama. Tidak ada penjelasan apa pun malam itu, tetapi sejak saat itu sesuatu dalam diri Salma terasa berubah.
Ia mulai sering terbangun di tengah malam karena mimpi buruk yang sulit dijelaskan. Setiap mendengar suara hujan deras, tubuhnya mendadak gemetar dan napasnya menjadi sesak. Di hadapan santri lain ia tetap terlihat tenang, tetapi diam diam ia mulai mempertanyakan semua hal yang dulu dipercaya sepenuh hati. Perasaan bersalah bercampur takut membuatnya hidup seperti berjalan di lorong tanpa ujung.
Butuh waktu bertahun tahun sebelum Salma akhirnya keluar dari pesantren tersebut. Bahkan setelah kembali ke rumah, bayangan masa lalu masih terus mengikutinya. Ia sulit mempercayai orang lain dan sering merasa bersalah tanpa alasan jelas. Kadang ia bertanya dalam hati apakah dirinya memang terlalu lemah atau justru pernah memaksa diri menolak kenyataan.
Rendra mendengarkan semua cerita itu tanpa banyak bicara. Sesekali ia menuliskan sesuatu di buku kecilnya, lalu kembali menatap Salma dengan wajah serius. Di luar rumah, hujan mulai mereda dan menyisakan bunyi air menetes dari atap seng yang bocor. Malam terasa semakin sunyi ketika Salma akhirnya berhenti berbicara.
“Aku tidak tahu apakah orang akan percaya,” ucap Salma pelan sambil menatap lantai. Ada rasa ragu yang masih tersisa dalam suaranya, seolah sebagian dirinya ingin kembali menyimpan semua kenangan itu rapat rapat. Namun setelah bertahun tahun hidup dalam ketakutan, ia mulai lelah memendam semuanya sendirian. Untuk pertama kalinya, ia mencoba menerima bahwa luka juga membutuhkan saksi.
Rendra menutup buku catatannya perlahan. Ia lalu berdiri dan berjalan menuju jendela sambil memandangi jalanan basah di luar rumah. Wajahnya tampak berubah muram sejak mendengar cerita Salma tentang rumah utama pesantren dan malam hujan itu. Ada sesuatu dalam dirinya yang seperti ikut terseret ke masa lalu.
“Aku datang bukan hanya untuk menulis cerita,” katanya akhirnya tanpa menoleh. Salma mengangkat kepala dan memandang lelaki itu dengan bingung. Untuk beberapa detik, hanya suara tetesan air yang terdengar memenuhi ruangan sempit tersebut. Lalu Rendra mengeluarkan sebuah foto lama dari dalam dompetnya.
Foto itu sudah kusam dan warnanya mulai pudar dimakan usia. Di dalam gambar terlihat seorang lelaki muda berdiri di depan gerbang Pesantren Raudhatul Falah bersama Kiai Harun yang tersenyum ke arah kamera. Begitu melihat wajah lelaki muda itu, napas Salma tercekat dan tubuhnya membeku.
“Itu ayahku,” bisiknya pelan dengan mata melebar.
Rendra menggenggam foto tersebut cukup lama sebelum akhirnya mengangguk perlahan. Ia mengaku selama bertahun tahun mencoba menjauh dari masa lalu keluarganya sendiri. Setelah kematian ayahnya, ia menemukan banyak catatan dan surat yang membuatnya mulai meragukan sosok yang selama ini dihormati banyak orang. Karena itulah ia diam diam mencari para mantan santri untuk mendengar cerita mereka satu per satu.
Salma terdiam tanpa mampu berkata apa apa. Di luar rumah, hujan benar benar berhenti dan udara malam terasa jauh lebih dingin dibanding sebelumnya. Ia baru menyadari bahwa lelaki yang duduk mendengarkan seluruh kisahnya sejak tadi ternyata juga membawa luka yang tidak kalah berat. Malam itu, keduanya memahami bahwa beberapa rahasia tidak pernah benar benar hilang, hanya menunggu keberanian untuk dibuka kembali.

Komentar