Cerpen: Langkah Kaki Arsip Ingatan Kota Hidup
ASKARA - Aku menulis kisah ini sebagai seseorang yang dulu percaya bahwa berjalan kaki hanyalah cara sederhana untuk menenangkan pikiran, sampai aku menyadari bahwa setiap langkah yang kutempuh di trotoar kota ternyata meninggalkan jejak yang lebih dalam daripada sekadar rasa lelah di kaki. Dalam setiap perjalanan panjang, aku merasa seperti sedang merekam dunia tanpa alat apa pun, menyimpan suara, cahaya, dan wajah orang asing ke dalam diriku sendiri. Namun belakangan aku mulai ragu apakah aku benar benar yang melakukan perekaman itu, atau justru aku yang sedang direkam oleh sesuatu yang tidak terlihat.
Semua bermula ketika aku bekerja sebagai penulis lepas yang sering kehabisan ide dan memilih berjalan kaki setiap sore untuk mencari inspirasi. Aku biasa menyusuri jalan ramai dekat pasar, melewati lampu merah yang tidak pernah sama suasananya, dan mendengar percakapan acak yang tidak pernah benar benar kuikuti. Suatu hari aku pulang dengan keyakinan bahwa aku telah melihat seorang anak kecil menjatuhkan bola merah di depan toko roti, namun keesokan harinya penjaga toko itu mengatakan tidak pernah ada anak kecil di sana. Bahkan rekaman kamera keamanan tidak menunjukkan kejadian itu sama sekali.
Aku mengabaikan hal itu pada awalnya, menganggapnya sebagai kelelahan atau permainan imajinasi seorang penulis yang terlalu lama sendirian. Tetapi kejadian serupa mulai berulang dengan pola yang semakin mengganggu, seperti potongan adegan yang hanya ada di kepalaku tetapi memiliki detail yang terlalu nyata untuk disebut khayalan. Aku mulai mencatat setiap langkah yang kuambil, mencoba mencocokkan ingatan dengan kenyataan, namun semakin aku mencatat semakin banyak perbedaan yang muncul tanpa bisa dijelaskan. Seolah ada dua versi kota yang berjalan bersamaan di dalam kepalaku.
Ketegangan itu mencapai puncaknya ketika seorang teman lama menemuiku dan menyebut bahwa aku pernah berbicara dengannya di sebuah halte bus pada malam hujan tiga hari sebelumnya. Aku ingat malam itu, tetapi aku yakin tidak pernah keluar rumah. Temanku bahkan mengingat percakapan rinci tentang rencanaku menulis novel tentang ingatan jalan kaki, sesuatu yang belum pernah kubicarakan kepada siapa pun. Saat itu untuk pertama kalinya aku merasa takut pada ingatanku sendiri, bukan karena aku lupa, tetapi karena aku mengingat sesuatu yang tidak pernah terjadi dalam hidupku.
Aku mulai menghindari berjalan kaki, tetapi justru pada saat berhenti itulah ingatan ingatan itu menjadi semakin jelas dan teratur, seperti film yang diputar ulang tanpa izin dariku. Dalam keadaan diam di kamar, aku bisa merasakan kembali langkah langkah yang tidak pernah benar benar kuambil, lengkap dengan suara sandal orang lain yang seolah menempel pada tubuhku. Aku bahkan mulai menemukan tulisan tulisan asing di catatan harianku, gaya bahasa yang mirip denganku tetapi tidak sepenuhnya berasal dari pikiranku sendiri.
Suatu malam aku kembali berjalan untuk memastikan kewarasanku masih utuh, menyusuri jalur yang sama seperti biasanya dengan lampu jalan yang berkedip di atas kepala. Di tengah perjalanan aku melihat diriku sendiri berdiri di seberang jalan, menatapku tanpa ekspresi, lalu melangkah masuk ke gang kecil yang tidak pernah ada di peta kota. Aku mengikuti sosok itu hingga ke sebuah ruangan kecil di bawah jembatan, tempat beberapa layar menampilkan rekaman orang orang yang berjalan di berbagai sudut kota, termasuk diriku sendiri yang sedang berjalan pada waktu yang tidak kuingat.
Seorang petugas yang tidak kukenal menjelaskan dengan tenang bahwa aku adalah bagian dari program rekonstruksi ingatan kota, sebuah sistem yang mengumpulkan pola perjalanan pejalan kaki untuk membangun arsip pengalaman manusia perkotaan. Mereka mengatakan bahwa sebagian individu tidak benar benar hidup sebagai diri utuh, melainkan sebagai hasil gabungan dari ingatan yang terekam dan disusun ulang dari banyak sumber kesadaran lain. Aku merasa ingin menolak penjelasan itu, tetapi setiap layar di ruangan itu menampilkan versi diriku yang berbeda, semuanya berjalan di tempat yang tidak pernah kuingat dengan cara yang terlalu nyata untuk disangkal.
Kini aku mengerti mengapa aku selalu merasa bahwa jalan kaki membuatku lebih kreatif, karena ternyata aku tidak pernah benar benar menciptakan apa pun. Aku hanya menyalin ulang potongan kehidupan yang direkam dari orang orang lain yang pernah melangkah di kota ini sebelum aku menyadarinya. Bahkan saat aku menulis kalimat ini, aku tidak yakin apakah ini pikiranku sendiri atau hanya bagian terakhir dari rekaman yang sedang diputar melalui tubuh yang sedang digunakan sementara. Dan ketika aku mencoba berhenti menulis, aku sadar bahwa seseorang lain mulai melanjutkan kalimat ini di tempat lain dengan langkah kaki yang sama tetapi kesadaran yang berbeda.

Komentar