Cerpen: Kebohongan Kecil Yang Menunda Takdir
ASKARA - Pagi itu suasana kantor cabang bank tempat Rani bekerja terasa seperti biasanya. Mesin antrean berbunyi bersahutan, suara printer sesekali memecah keheningan, dan beberapa nasabah duduk menunggu giliran sambil menatap layar informasi. Dari balik meja layanan pelanggan, Rani menyapa setiap orang dengan senyum yang sudah terlatih selama bertahun tahun. Ia mengira hari itu akan berlalu tanpa kejutan, sama seperti ratusan hari kerja sebelumnya.
Selama hampir empat tahun bekerja, Rani merasa sudah bertemu berbagai macam karakter manusia. Ada yang datang dengan wajah tegang lalu pulang lega, ada yang marah marah karena lupa membawa dokumen, dan ada pula yang menganggap petugas bank sebagai tempat curhat segala persoalan hidup. Namun pengalaman yang akan dialaminya pagi itu sama sekali belum pernah masuk dalam daftar kejadian paling aneh yang pernah ia hadapi.
Di usia dua puluh tujuh tahun, satu pertanyaan yang paling sering membuatnya lelah bukanlah soal pekerjaan, melainkan soal pernikahan. Setiap menghadiri acara keluarga, selalu ada yang bertanya kapan menyusul sepupunya yang sudah menikah. Setiap bertemu tetangga, selalu ada yang penasaran apakah ia sudah punya calon. Padahal diam diam ia sendiri masih menikmati hidup tanpa pasangan dan belum ingin terburu buru mengambil keputusan besar.
Sekitar pukul sembilan pagi, seorang ibu paruh baya mengambil nomor antrean dan duduk di hadapan mejanya. Wajahnya ramah dengan sorot mata yang hangat. Ia datang untuk memperbarui data rekening dan membawa beberapa dokumen yang tersusun rapi dalam map plastik berwarna biru. Semua terlihat biasa saja sampai percakapan yang tidak terduga itu dimulai.
Sambil menunggu proses pembaruan data, sang ibu memperhatikan wajah Rani beberapa kali. Tatapan itu membuat Rani sempat mengira ada kesalahan pada berkas yang sedang diperiksanya. Namun beberapa saat kemudian, sang ibu tersenyum dan mengajukan pertanyaan yang membuat jemari Rani berhenti mengetik.
“Mbak, sudah nikah belum?”
Rani tersenyum sopan. Pertanyaan seperti itu sudah terlalu sering ia dengar sehingga tidak lagi membuatnya tersinggung. Dengan nada ramah ia menjawab bahwa dirinya belum menikah.
Mata sang ibu langsung berbinar seperti menemukan sesuatu yang selama ini dicari. Ia sedikit memajukan kursinya dan berbicara dengan nada penuh antusias. Reaksi itu membuat Rani mulai merasa ada sesuatu yang tidak beres.
“Kalau begitu, mau tidak nikah sama anak saya?”
Rani hampir menjatuhkan pulpen yang sedang dipegangnya. Untuk beberapa detik, ia tidak yakin apakah pertanyaan itu serius atau sekadar gurauan. Namun ekspresi wajah sang ibu menunjukkan bahwa ia benar benar bersungguh sungguh.
Tanpa menunggu jawaban, sang ibu mulai mempromosikan putranya dengan penuh semangat. Katanya, anaknya bekerja tetap di sebuah perusahaan besar, bertanggung jawab, rajin beribadah, dan tidak pernah membuat masalah. Saat itu putranya sedang menjalankan tugas di luar pulau sehingga tidak memiliki banyak kesempatan untuk mencari pasangan hidup.
“Anak saya itu baik sekali, Mbak. Orangnya juga sopan. Kalau pulang ke rumah masih suka membantu saya. Sekarang susah mencari laki laki seperti itu,” ujar sang ibu dengan penuh keyakinan.
Rani hanya bisa tersenyum tipis. Di dalam hati, ia berusaha mencari cara paling aman untuk mengakhiri pembicaraan tersebut. Ia tidak ingin membuat sang ibu kecewa, tetapi juga tidak ingin tiba tiba dijodohkan oleh orang yang baru dikenalnya beberapa menit.
“Maaf, Bu. Saya sudah punya pacar,” jawabnya akhirnya.
Menurut pengalaman Rani, kalimat itu biasanya cukup ampuh menghentikan segala bentuk usaha perjodohan. Namun kali ini hasilnya jauh dari harapan. Sang ibu justru semakin bersemangat, seolah baru memasuki babak berikutnya dalam proses negosiasi.
“Kalau sama pacarnya sudah ada rencana nikah belum?”
Pertanyaan itu datang begitu cepat hingga Rani tidak sempat menyusun jawaban yang masuk akal. Ia melihat wajah penuh harap di hadapannya dan mulai merasa terjebak dalam situasi yang tidak pernah ia pelajari selama pelatihan layanan pelanggan.
“Kalau belum ada rencana, sama anak saya saja. Anak saya pekerja tetap juga. Orangnya manis. Saya yakin cocok sama Mbak.”
Dalam hati, Rani hampir tertawa sekaligus panik. Ia bahkan tidak pernah melihat wajah pria yang sedang dipromosikan itu. Namun sang ibu berbicara seolah mereka sudah saling mengenal bertahun tahun dan hanya tinggal menentukan tanggal pernikahan.
Karena merasa harus segera menyelamatkan diri, Rani mengarang cerita yang lebih besar. Dengan wajah setenang mungkin, ia berkata bahwa dirinya dan sang pacar sudah merencanakan pertunangan pada akhir tahun. Kalimat itu meluncur begitu saja tanpa sempat dipikirkan matang matang.
“Oh, sudah mau tunangan ya?” tanya sang ibu.
“Iya, Bu. Insya Allah tahun ini,” jawab Rani sambil tersenyum.
Sang ibu mengangguk pelan. Wajahnya tampak sedikit kecewa, tetapi ia tetap menunjukkan keramahan yang sama seperti sebelumnya. Beberapa detik kemudian ia tertawa kecil.
“Wah, saya kira belum. Padahal tadi sudah kepikiran mau dijadikan menantu.”
Rani membalas dengan senyum selebar mungkin. Senyum yang begitu dipaksakan hingga pipinya terasa pegal. Di dalam hati ia hanya bisa berkata bahwa pacar saja tidak punya, bagaimana mungkin sudah mau bertunangan.
Setelah urusan administrasi selesai, sang ibu berpamitan. Rani mengembuskan napas panjang begitu sosoknya menghilang di balik pintu keluar. Rasanya seperti baru saja lolos dari wawancara calon mertua yang datang tanpa pemberitahuan.
Sejak hari itu, kisah tersebut menjadi bahan candaan di kantor. Teman temannya sering menggoda dan bertanya apakah ada calon suami baru yang sedang menunggu di ruang antrean. Rani selalu tertawa mendengarnya, meskipun jauh di dalam hati ia menyadari bahwa pertanyaan soal jodoh memang tidak pernah benar benar berhenti mengejar perempuan seusianya.
Tiga bulan berlalu. Musim hujan mulai berganti dengan hari hari yang lebih cerah. Kehidupan berjalan normal hingga suatu ketika kantor pusat mengadakan pelatihan layanan pelanggan tingkat regional yang mempertemukan pegawai dari berbagai kota.
Pada hari pertama pelatihan, Rani datang lebih awal dan memilih duduk di salah satu meja bundar. Tidak lama kemudian seorang pria mengambil kursi di hadapannya. Penampilannya sederhana, tetapi rapi dan berwibawa. Senyumnya tenang, sementara cara bicaranya menunjukkan kecerdasan yang tidak dibuat buat.
Selama sesi diskusi berlangsung, mereka beberapa kali bertukar pendapat. Pria itu ternyata menyenangkan diajak berbicara. Ia memiliki selera humor yang baik dan mampu membuat suasana kelompok menjadi lebih hidup. Tanpa disadari, Rani menikmati setiap percakapan yang terjadi di antara mereka.
Hari kedua dan ketiga membuat keduanya semakin akrab. Mereka berbincang saat istirahat makan siang, bertukar cerita tentang pekerjaan, keluarga, dan cita cita yang belum tercapai. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Rani merasa nyaman mengenal seseorang tanpa tekanan atau pertanyaan tentang kapan akan menikah.
Menjelang acara penutupan, mereka duduk bersama di lobi hotel yang mulai sepi. Percakapan mengalir ringan hingga akhirnya pria itu bercerita tentang keluarganya. Ia menyebut nama ibunya dengan santai, seolah itu hanya bagian kecil dari obrolan biasa.
Namun bagi Rani, nama itu terdengar seperti petir yang menyambar siang bolong.
Jantungnya berdegup lebih cepat. Nama tersebut terasa sangat familiar. Ia pernah mendengarnya dengan jelas beberapa bulan sebelumnya.
“Kenapa?” tanya pria itu ketika melihat ekspresinya berubah.
“Tidak apa apa,” jawab Rani pelan.
Pria itu kemudian membuka galeri foto di ponselnya. Ia menunjukkan potret keluarganya saat berkumpul pada hari raya. Di tengah foto itu berdiri seorang ibu dengan senyum hangat yang sangat dikenali Rani.
Dunia seakan berhenti berputar sesaat.
Itu adalah nasabah yang pernah duduk di hadapannya.
Itu adalah ibu yang menawarkan putranya sebagai calon suami.
Dan pria yang kini duduk di depannya adalah putra yang selama ini dipromosikan dengan penuh semangat.
Pria itu tertawa kecil ketika melihat wajah Rani yang mendadak pucat.
“Lucu juga,” katanya. “Ibu saya pernah cerita tentang seorang pegawai bank yang menurut beliau sangat baik. Sayangnya, kata ibu, perempuan itu sudah punya pacar dan akan bertunangan tahun ini.”
Rani merasa darah di wajahnya menghilang perlahan. Semua kebohongan yang dulu ia ciptakan demi menghindari perjodohan tiba tiba kembali menghantuinya.
Pria itu menatapnya dengan rasa penasaran yang tulus.
“Ngomong ngomong, bagaimana persiapan tunangannya sekarang?”
Rani terdiam cukup lama. Ia menatap pria itu, lalu menatap lantai mengilap di bawah kakinya. Setelah beberapa detik yang terasa seperti satu abad, ia akhirnya tertawa pelan.
“Tunangannya batal,” jawabnya.
“Batal?”
“Iya. Soalnya calon tunangannya ternyata tidak pernah ada.”
Untuk beberapa saat suasana menjadi sunyi. Lalu pria itu tertawa terbahak bahak hingga menarik perhatian beberapa orang di sekitar mereka. Rani ikut tertawa sambil menutupi wajahnya karena malu.
Saat itulah ia menyadari sesuatu yang ironis sekaligus lucu. Selama ini ia mengira kebohongan kecil hanya akan menyelamatkannya dari percakapan yang tidak nyaman. Namun ternyata kebohongan itu hampir membuatnya kehilangan kesempatan mengenal seseorang yang benar benar ingin ia kenal.
Dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Rani merasa bahwa takdir kadang tidak datang terlambat.
Takdir hanya menunggu seseorang berhenti berbohong untuk membukakan pintu.

Komentar