Cepen: Koran Kemarin dan Rahasia Ayah Hilang
ASKARA - Siang itu jalanan terasa padat dan panas seperti menempel di kulit tanpa ampun. Kami berhenti di lampu merah yang cukup lama membuat orang mulai gelisah di dalam kendaraan. Di antara deru kendaraan dan suara klakson, seorang bapak penjual koran berjalan pelan mendekati mobil demi mobil. Wajahnya tampak lelah tetapi matanya masih menyisakan harapan kecil yang sulit dijelaskan.
Saya menatapnya cukup lama sebelum akhirnya berkata pelan kepada istri untuk membeli satu koran saja. Sebenarnya kami sudah tidak membutuhkan koran cetak, semua berita sudah ada di ponsel. Namun ada sesuatu dari cara bapak itu berdiri di bawah terik yang membuat hati terasa tidak enak. Istri saya mengangguk lalu membuka kaca mobil sambil memanggil bapak itu dengan ramah.
Bapak itu mendekat dengan langkah ragu seperti menyimpan banyak beban di pundaknya. Ia menyebut harga sepuluh ribu dengan suara singkat tanpa banyak basa basi. Istri saya menyerahkan uang dua puluh ribu tanpa menawar karena merasa ingin membantu. Bapak itu menerima uangnya lalu pergi begitu saja tanpa memberi kembalian dan tanpa menoleh kembali.
Kami sempat saling pandang di dalam mobil lalu tersenyum kecil karena merasa situasi itu agak janggal. Namun tawa kecil itu tidak bertahan lama karena ada rasa tidak nyaman yang mulai tumbuh perlahan. Saya membuka koran itu untuk melihat isinya sambil menunggu lampu hijau menyala. Ternyata halaman depannya sudah agak lusuh dan terlihat bukan edisi terbaru.
Di pojok halaman tertulis harga eceran yang jauh lebih murah dari uang yang kami berikan. Tanggal terbitnya juga menunjukkan bahwa koran itu adalah terbitan beberapa hari sebelumnya. Istri saya menghela napas pelan sambil berkata bahwa mungkin bapak itu sedang sangat membutuhkan uang. Saya mencoba menenangkan diri dengan berpikir bahwa ini mungkin sekadar kesalahpahaman kecil di jalan.
Namun ada satu hal yang membuat saya kembali memperhatikan wajah bapak tadi di ingatan saya. Cara ia berjalan dan cara ia menunduk terasa seperti sesuatu yang pernah saya lihat sebelumnya. Saya mencoba mengabaikan pikiran itu karena terasa tidak masuk akal. Lampu hijau akhirnya menyala dan kami melanjutkan perjalanan dengan perasaan yang sedikit ganjil.
Sepanjang jalan pulang, koran itu masih saya pegang tanpa benar benar membacanya. Istri saya beberapa kali mengatakan bahwa ia merasa kasihan sekaligus sedikit bingung dengan kejadian tadi. Saya hanya mengangguk sambil tetap mencoba menenangkan pikiran yang terasa tidak fokus. Namun ada dorongan aneh yang membuat saya ingin membuka seluruh halaman koran itu.
Sesampainya di rumah saya akhirnya duduk dan membaca koran itu lebih teliti. Hampir semua berita sudah basi dan tidak lagi menarik untuk dibaca. Tetapi di halaman belakang saya menemukan satu kolom kecil berisi daftar orang hilang. Nama nama yang tercantum membuat saya berhenti membaca seketika karena ada satu nama yang sangat familiar.
Nama itu adalah nama ayah saya yang sudah lama menghilang dari rumah tanpa kabar pasti. Kami selama ini hanya mendapat kabar bahwa beliau pergi dan tidak pernah kembali. Tidak ada kepastian apakah beliau masih hidup atau sudah tidak ada. Yang ada hanya rasa kosong yang bertahan bertahun tahun di dalam keluarga kami.
Saya memanggil istri saya dengan suara yang lebih serius untuk menunjukkan bagian itu. Istri saya membaca pelan lalu wajahnya berubah menjadi bingung dan sedikit tegang. Ia mengatakan bahwa nama itu benar sama dengan nama bapak yang tadi menjual koran. Saya mulai merasa ada sesuatu yang tidak wajar tetapi belum berani menarik kesimpulan.
Saya mencoba menghubungi nomor yang tercantum di bagian pengumuman itu. Seorang perempuan menjawab dengan suara yang terdengar lelah dan penuh harap. Saya menjelaskan bahwa kami baru saja bertemu seseorang yang mirip dengan ciri ciri yang disebutkan. Di seberang sana terdengar suara tangis yang tertahan cukup lama.
Perempuan itu kemudian mengatakan bahwa orang yang kami lihat kemungkinan besar adalah suaminya yang sudah lama hilang ingatan. Ia menjelaskan bahwa suaminya sering pergi tanpa arah dan kadang lupa siapa dirinya sendiri. Saya terdiam mendengar penjelasan itu karena semuanya mulai masuk akal dengan cara yang menyedihkan. Kami berjanji akan mencoba kembali ke lokasi lampu merah itu.
Namun saat kami kembali ke sana keesokan harinya, bapak penjual koran itu tidak lagi terlihat. Para pedagang lain mengatakan bahwa ia sering datang dan pergi tanpa pola yang jelas. Ada yang mengatakan ia seperti mencari sesuatu yang tidak pernah ia temukan. Kami berdiri cukup lama di pinggir jalan dengan perasaan yang semakin berat.
Di tangan saya masih ada koran yang sama yang belum sempat saya buang. Saya kembali membuka halaman belakang itu sekali lagi dengan perasaan yang semakin tidak tenang. Kali ini saya memperhatikan lebih detail setiap informasi yang tertulis di sana. Dan di bagian bawah terdapat catatan kecil yang sebelumnya tidak saya perhatikan.
Catatan itu menyebutkan bahwa pria tersebut terakhir terlihat membawa koran lama dan sering menyebut nama seseorang yang tidak jelas. Ia juga sering berdiri di lampu merah yang sama setiap hari pada jam yang hampir sama. Saya mulai merasa ada pola yang tidak kebetulan di balik semua ini. Istri saya menatap saya dengan wajah yang sulit dijelaskan.
Saat kami hendak pergi dari lokasi itu, seorang pedagang lain menghampiri kami dan bertanya tentang bapak penjual koran. Ia mengatakan bahwa bapak itu sering menyebut nama anaknya setiap kali orang membeli korannya. Nama yang ia sebut terdengar samar tetapi cukup membuat saya menahan napas. Nama itu mirip dengan nama kecil saya di rumah.
Saya terdiam cukup lama mencoba menghubungkan semua potongan yang ada di kepala saya. Namun belum sempat saya menarik kesimpulan, tiba tiba saya merasakan sesuatu yang dingin di dada. Saya membuka koran itu sekali lagi dan memperhatikan bagian sudut yang sebelumnya terlipat. Di sana terdapat tulisan tangan kecil yang hampir terhapus.
Tulisan itu menyebutkan sebuah nama panggilan yang hanya digunakan oleh keluarga saya di rumah. Istri saya menatap saya dan berkata pelan bahwa mungkin kami harus berhenti mencari penjelasan yang terlalu jauh. Namun di dalam hati saya muncul keyakinan yang sulit ditolak. Bapak penjual koran itu bukan orang asing seperti yang kami kira.
Hari berikutnya saya kembali ke lampu merah itu sendirian. Saya berdiri cukup lama di tempat yang sama sambil memperhatikan setiap orang yang lewat. Sampai akhirnya saya melihat sosok itu lagi berjalan pelan membawa koran yang sama. Ia berhenti di depan saya dan menatap cukup lama tanpa mengatakan apa pun.
Untuk sesaat waktu terasa berhenti di antara kami berdua. Saya tidak tahu apakah ia mengenali saya atau tidak. Namun ia tiba tiba tersenyum kecil dan mengulangi satu kalimat yang membuat tubuh saya kaku. Kalimat itu adalah panggilan yang dulu selalu ia gunakan ketika saya masih kecil.
Saya mencoba berbicara tetapi suara saya tidak keluar dengan jelas. Bapak itu kemudian berjalan perlahan menjauh sambil tetap membawa korannya. Di belakangnya saya berdiri diam dengan perasaan yang sulit dijelaskan. Di tangan saya masih ada koran lama yang ternyata menyimpan lebih banyak rahasia daripada yang saya bayangkan.

Komentar