Jumat, 30 Oktober 2020 | 14:43
OPINI

Bila Pipi Kananmu Ditampar, Berikan Pipi Kirimu Juga

Bila Pipi Kananmu Ditampar, Berikan Pipi Kirimu Juga
Dok Pribadi

ASKARA - Saat saya kanak-kanak, pernah saya dengar sebuah kalimat yang begitu menancap pada sanubari saya, yaitu : "Bila pipi kananmu di tampar, berikan pipi kirimu juga". 

Namanya anak-anak sekitar usia 8 tahun, sulit sekali untuk bisa mengerti, tapi kata-kata itu selalu terngiang di telinga. Akhirnya saya pahami bahwa tidak perlu membalas. Tetaplah mengasihinya.

Kalau kita membalas perbuatan jahat dengan kejahatan pula, lalu apa bedanya diri kita dengan orang itu?

Seberapapun orang lain ingin membangkitkan emosimu, lama-lama dia akan jenuh, bahkan bingung mau berbuat jahat apalagi kalau kita tetap menerimanya dengan senyum dan membalas dengan kasih sayang. Balaslah dengan kebaikan. Dampaknya akan luar biasa, dan itu sudah pernah saya buktikan.

Mau di fitnah, mau dijelek-jelekin di belakang, mau apapun lah, tidak perlu risau dan tidak perlu galau apalagi terbawa emosi terus mendamprat pelaku. Gak perlu, kebenaran itu akan mencari jalannya sendiri. 

Orang-orang yang suka melakukan kejahatan itu, akan dapat balasannya dari orang lain, maka itu jangan mengotori hati dan tangan kita untuk yang tidak perlu.

Intinya, milikilah hati dan jiwa welas asih, jangan mudah tersulut emosi.  Kalau kita tidak salah tapi tiba-tiba kita didamprat orang (ada yang pernah ngalamin nggak?). Gak usah sakit hati, gak usah ngelawan, makin emosi dianya, apalagi kalau itu pimpinan kita. Cukup dengerin saja, kasihan sebenernya orang-orang seperti itu. Dia sebetulnya jengkel pada dirinya sendiri atau pada kondisi, entah masalahnya apa, atau sedang sakit gigi. Diam dan dengerin, lalu buang. Kita juga bukan tempat sampah. Jangan menyimpan amarah.

Andaikan memang kita berbuat salah, enggak usah bikin pembelaan apalagi berkelit sana-sini. Dengarkan baik-baik, akui dan berniatlah sungguh-sungguh memperbaikinya. 

Sehebat-hebatnya orang adalah yang berani mengakui kesalahan secara sportif. Berani minta maaf. Semua itu untuk tumbuh kembang jiwa pribadi, untuk menjadi lebih baik.

Tidak perlu takut salah, karena salah itu biasa. Asal jangan diulang-ulang pada kesalahan yang sama. Karena salah maka kita jadi tahu hal yang benar. Teruslah berusaha untuk menjadi yang terbaik dari diri sendiri. 

Dalam berteman bahkan dalam hubungan saudara, bila ada yang tidak suka itupun biasa. Intropeksi diri, untuk bisa memperbaiki, mungkin memang sikap kita menjengkelkan. 

Tidak ada satupun yang bisa cocok persis dengan apa yang kita pikirkan maupun harapkan, tidak semua hal menyenangkan, itu biasa saja. Karena tiap pribadi punya hak untuk berpersepsi dan bersikap, termasuk diri kita sendiri. 

Yang terpenting, jaga hati dan jiwa pribadi untuk selalu penuh dengan kasih sayang, welas asih, karena hidup ini hanya sebuah perjalanan dengan banyak perbaikan. Tidak ada yang perlu dibela mati-matian, apalagi hingga bermusuhan. 

Bila kita selalu membalasnya dengan kasih dan senyum, maka semua akan jadi baik-baik saja. Dan orang yang berbuat burukpun akan berubah baik dengan sendirinya.

Emosi akan merusak sekian ribu syaraf kita, dan sumber penyakit lebih banyak di pengaruhi cara berpikir kita, tentunya di tambah dengan pola makan dan hidup.

Memaafkan apa yang menyakitkan itu jauh lebih baik, buat diri sendiri. Hidup menjadi ringan, rejekipun berdatangan. Tubuhpun akan sehat dan kuat tanpa obat-obatan. Jadi senyumin aja dan tetaplah bahagia.

Seiring berjalannya waktu, orang yang membenci akhirnya tahu walau tanpa harus kita jelaskan, bahwa yang dia benci tidak seburuk itu. Dan akhirnya kebanyakan akan menjadi sahabat sejati. 

Komentar