Kamis, 18 Juni 2026 | 15:43
OPINI

Dialog Sejenak Dengan Allah

Dialog Sejenak Dengan Allah
Ilustrasi dialog dengan Tuhan

Tulisan ini terinspirasi oleh neng Gina dan sohib baik saya Pak Panji. Menurut beliau berdoa itu bukan hanya sekedar order pesanan saja seperti ke Go Food melainkan berkomunikasi dengan Allah.

Namun kalau saya jujur belum pernah dan juga belum tahu bagaimana caranya agar bisa berdialog secara langsung dengan Tuhan. Jangankan untuk bisa berdialog dengan Tuhan yang tidak kelihatan, dengan istri yang jelas-jelas nampak di depan mata saja sudah sulit sekali.

Tidak bisa dipungkiri bahwa saya selalu berdoa dengan cara doa baku standard yang sama ialah “Doa Bapak Kami” yang mengalir keluar dari mulut seperti juga sedang bernyanyi. Bahkan kata-kata doa tersebut pun hanya sekadar numpang lewat di jidat saja tanpa dihayatinya.

Saya berdoa “Bapak Kami” itu seperti juga tugas wajib yang saya panjatkan 3 kali sehari. Seperti juga bayar cicilan hutang, kalau tidak berdoa rasanya ada sesuatu yang kurang, walaupun isi teks doanya tidak pernah keluar dari pakem. Maklum selain dari itu tidak tahu lagi apa yang harus dikatakan kepada Tuhan!

Doa itu sama seperti juga komunikasi satu arah yang sering dilakukan oleh istri kalau sedang ngambek. Apakah anda tahu bahwa nanti di Surga itu tidak akan ada doa lagi, karena anda akan bisa bicara secara langsung Man To Man. Maaf, dengan Allah seharusnya Man To God.

Walaupun saya tahu bahwa apa yang saya tulis ini durhaka namun saya berusaha untuk berdialog dengan Tuhan secara imajiner. Maklum hal-hal inilah yang akan saya tanyakan kepada Tuhan, apabila saya bertemu dengan Dia secara langsung alias Man To God bukannya melalui Zoom lho.

U: Met Pagi God – ini saya Ucup.

G: Met malam Cup maklum ada perbedaan waktu antar Surga dan dunia.

U: Apa kabar God?

G: Pertanyaan Basa-Basi saja, sebab sebagai God itu sudah pasti selalu baik all the time.

U: Apakah di Surga juga ada pandemi corona?

G: Jelas tidak, sebab di Surga ini bukan hanya sekedar Klinso Klin melainkan Surgawi klin.

G: Dan apa kata Dunia? Kalau para bidadari disini pakai masker semua, memalukan.

U: Mau lapor God, kemarin si Akong meninggal dunia, mohon bantuannya agar arwah si Akong bisa diterima di sisi God.

G: Disisi-Ku sudah fully book bahkan overloaded, maklum setiap orang mati entah kenapa, selalu saja ingin berada di sisi Ku, memangnya Surga ini hanya seluas daun kelor.

U: kalau saya nanti mati, saya tidak keberatan ditempatkan disisi bidadari yang paling cantik, karena saya tidak mau merepotkan God.

U: Kenapa saya tidak pernah bisa berdialog secara langsung dengan God seperti para Nabi dahulu, jadi kita bisa berkomunikasi secara dua arah?

G: Masalahnya kalau kamu ngoceh (berdoa) itu tidak pernah ada titiknya. Kamu tidak pernah memberikan kesempatan kepada Ku untuk berbicara sejenak. Bahkan begitu kata amin diucapkan langsung kabur dari tempat tanpa ada waktu maupun keinginan lagi untuk mendengarkan Aku alias No Time For God. Jadi bukannya Aku yang tidak mau bicara padamu, melainkan kamu yang tidak mau dengarkan Suara Ku.

G: Apabila kamu benar-benar ingin mendengar Suara Ku, cobalah hening sejenak, sebab di dalam keheningan itulah kamu akan merasa kehadiran Ku dan di dalam keheningan inilah pula kamu akan bisa mendengar Suara Ku. Usahakanlah duduk dalam suasana hening sejenak, walaupun doa sudah diakhiri dengan kata Amin sekalipun.

U: Terima kasih God atas jawaban maupun waktu yang telah Engkau berikan padaku. Amin.

Bunda Teresa dari Kalkuta pernah mengatakan, “Tuhan berbicara melalui keheningan hati". Maklum seiring dengan berkembangnya teknologi, segala sesuatu dituntut untuk berjalan cepat dan seketika.

Dunia bisa menjadi sangat berisik, tanpa waktu untuk berhenti dan menunggu. Bahkan keheningan menjadi sesuatu yang sulit sekali bisa ditemukan. Padahal, Tuhan seringkali ingin berbicara atau menyatakan sesuatu di dalam keheningan.

Oleh sebab itulah saya akhiri tulisan ini dengan doa: “Tuhan, berbicaralah kepadaku dengan cara yang aku lakukan, buatlah aku mengetahui bahwa Engkaulah yang sedang berbicara kepadaku. Amin”.

Mang Ucup akhiri tulisan ini dengan permohonan maaf apabila ada kata-kata yang kurang berkenan sehingga membuat sahabat menjadi tersinggung karenanya. Maturnuwun sanget berkah dalem.

Mang Ucup

Menetap di Amsterdam, Belanda

Komentar