Rabu, 17 Juni 2026 | 17:06
OPINI

Saya Sudah Tidak Bisa Bernafas Lagi !

Saya Sudah Tidak Bisa Bernafas Lagi !
Mang Ucup bersama para anak asuhnya di Jakarta

Apabila seseorang mengungkap kalimat "Saya Sudah Tidak Bisa Bernafas Lagi !", berarti ia sudah berada diambang pintu kematian dan hitungannya pun bukan hari atau jam lagi melainkan detik, sehingga harus segera ditolong!

Nasib inilah yang dialami oleh George Floyd yang barusan saja di phk sebagai Satpam Resto. Uang terakhir yang ia miliki hanya USD 20 saja untuk beli rokok dan makanan untuk istri dan putrinya kesayangannya Giana (6). Ia sendiri menderita sakit jantung maupun kecanduan, terlebih lagi ia telah ketularan virus corona. Namun ia tetap berusaha terus untuk mencari pekerjaan maupun sesuap makanan bagi keluarganya.

Dalam kondisi seperti itulah ketika George ditangkap dengan tuduhan sebagai pengedar selembar uang palsu USD 20. Namun bukannya bantuan yang ia dapatkan, bahkan ditangkap dan dicekik lehernya dengan sekuat tenaga oleh Polisi setempat. Mana mungkin ia bisa menahan cekikan leher yang sedemikian keras maupun kuatnya dlm kondisi badan yang lemah dan sakit. Sehingga berulang kali ia telah memohon sambil meratap dan merintih dengan air mata berlinang karena kesakitan. Dimana ia menyatakan, bahwa ia sudah tidak kuat lagi dgn ucapan: “I cant breathe”.

Ia memohon dan merintih secara berulang kali, selama hampir sembilan menit lamanya, namun tetap saja tidak digubris Bagaimana kuatnya pun seseorang; apabila dicekik terus menerus selama 8 menit dan 45 detik non-stop lamanya; mana mungkin ia bisa bertahan. Dimana akhirnya dengan badan lemas terkulai ia menghembuskan nafasnya yang terakhir! “I cant breathe” itulah rintihan terakhir yang diucapkan oleh George sebelumnya ia meninggal!

Kalimat “I cant breathe” adalah jeritan dari orang yang sudah tidak kuat dan mampu lagi untuk bisa bertahan hidup! Kalimat tersebut menjadi viral sebagai lawan dari kalimat: “I cant breathe” yang diungkapkan oleh Martin Luther King.

Dalam situasi ini pulalah yang saat ini sedang dirasakan dan dialami oleh kebanyakan penduduk di Indonesia. Dimana mereka sudah tidak kuat lagi; sehingga menjerit minta ampun dengan ucapan diam “I cant breathe” karena sudah tidak bisa bernafas lagi menjelang tibanya sang ajal!

Cobalah renungkan sendiri berapa banyak perusahaan yg telah menjerit "I cant breathe", karena sudah tidak bisa bernafas lagi untuk mempertahankan usaha mereka. Mereka dicekik dengan berbagai cekikan, berupa peraturan wajib oleh pemerintah! Bukan hanya sekedar perusahaan saja yang menjerit, melainkan juga jutaan rakyat lainnya yang sudah tidak menerima gaji lagi akibat phk, padahal perut tidak bisa nunggu.

Apabila tidak segera dibantu, maka sudah bisa dipastikan banyak perusahaan akan ditutup alias dood. Bahkan hingga saat ini saja sudah lebih dari 200 perusahaan yg ditutup, akibat lockdown dan lebih dari 15.000 pekerja telah di phk. Sedangkan 70 persen perusahaan tekstil akan menyusul dan mengalami nasib yang sama.

Rakyat sudah hampir tidak bisa bernafas lagi, karena dicekik. Dan anehnya bukannya kelonggaran, yang mereka dapatkan, bahkan semakin dicekik lebih erat lagi dgn adanya tagihan listrik yang melambung. Iuran BPJS pun ditingkatkan yang menurut mereka masih wajar. Namun jangankan untuk bayar iuran BPJS untuk beli beras saja sudah ora-ono doku lagi.

Namun bukan cekikan ini diperlonggar, bahkan akan lebih dipererat lagi, dimana gaji pun akan dikurangi sebesar 2,5 persen untuk bayar Tapera. Mereka sudah menabung selama bertahun-tahun lamanya untuk biaya Naik Haji, hanya sayangnya usaha agar bisa lebih mendekat dengan Allah ini pun dibatalkan. Namun Alhamdulillah pemerintah telah menyatakan kesediaannya ganti rugi dimana biaya naik haji tsb akan diganti dengan one way ticket to Heaven!

Mang Ucup hanya bisa turut mendoakan agar jeritan “I cant breathe” ini bisa segera didengar oleh para pejabat sehingga diberikan kelonggaran untuk bisa bernafas sejenak saja. Mohon petromaknya apabila pandangan dan pendapat Mang Ucup ini salah. Matur nuwun sanget berkah dalem.

Mang Ucup

Menetap di Amsterdam, Belanda

Komentar