ASKARA – Krisis lingkungan hari ini adalah krisis moral dan keimanan. Penegasan itu disampaikan Anggota DPR RI Komisi IV, Prof. Dr. Ir. Rokhmin Dahuri, M.S., dalam refleksinya di Wakatobi, Sulawesi Tenggara, Kamis (5/11).
Guru Besar Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan IPB University itu mengingatkan, bumi adalah rumah bersama yang harus dirawat dengan cinta, bukan hanya dikeruk untuk keuntungan sesaat.
"Bumi adalah rumah bersama bagi seluruh umat manusia. Ia bukan sekadar tempat berpijak, melainkan anugerah Tuhan yang menyediakan kehidupan, sumber pangan, air, udara, energi, serta segala kekayaan alam," ujar Prof. Rokhmin.
Ia menegaskan manusia memang dipersilakan mencari rezeki dengan mengolah tanah, laut, hutan hingga mineral. Namun ada kewajiban yang tak boleh dilupakan.
"Jangan sampai manusia hanya pandai mengambil, tetapi lupa mengembalikan. Jangan sampai kekayaan alam menjadi kemakmuran sesaat, sementara generasi mendatang mewarisi hutan yang gundul, sungai yang tercemar, udara yang tidak sehat, dan tanah yang kehilangan kesuburannya," tegas Menteri Kelautan dan Perikanan 2001-2004 itu.
Iman Tercermin dari Cara Merawat Bumi
Menurut Prof. Rokhmin, kualitas iman tidak cukup hanya diucapkan lewat ritual dan simbol agama, tapi harus tercermin dalam perilaku menjaga ciptaan Tuhan.
"Merawat pohon, menjaga sumber mata air, tidak membuang sampah sembarangan, melindungi satwa, dan menggunakan sumber daya secara bijaksana adalah bentuk nyata cinta kasih terhadap kehidupan," katanya.
"Bumi tidak pernah bertanya apa agama, suku, bangsa, ataupun golongan manusia yang hidup di atasnya. Bumi memberikan ruang kehidupan kepada semuanya. Karena itu, tanggung jawab menjaganya pun merupakan tanggung jawab seluruh umat manusia," tambahnya.
Kunci Peradaban Damai
Prof. Rokhmin menghidupkan kembali nilai luhur bangsa: asih, asah, asuh. Asih berarti saling mengasihi, asah berarti saling mencerdaskan, dan asuh berarti saling menjaga.
"Nilai-nilai tersebut tidak boleh berhenti dalam hubungan antarmanusia saja. Ia juga harus diwujudkan dalam hubungan manusia dengan alam. Gotong royong membersihkan lingkungan, menanam pohon, menjaga sungai, melindungi hutan, adalah praktik nyata kehidupan sosial yang berlandaskan cinta kasih," jelasnya.
Ia juga menekankan kebhinnekaan — berbeda ormas, suku, bahasa, hingga partai — seharusnya menjadi kekuatan untuk memakmurkan bumi, bukan untuk memecah belah.
Pembangunan Jangan Gadai Masa Depan
Anggota Dewan Penasihat Ilmiah Internasional Pusat Pembangunan Pesisir dan Laut, Universitas Bremen, Jerman itu mengkritik keras paradigma pembangunan yang hanya diukur dari investasi dan pertumbuhan ekonomi.
"Pembangunan tidak boleh mengorbankan masa depan bumi dan persatuan. Ukuran keberhasilan pembangunan juga harus dilihat dari kualitas lingkungan yang diwariskan kepada generasi berikutnya. Alam bukan warisan yang boleh dihabiskan, melainkan amanah," tegasnya.
Ia menyebut negara, dunia usaha, masyarakat, pendidik, dan pemuka agama punya tanggung jawab yang sama untuk menanamkan kesadaran kolektif.
Pernyataan ini relevan dengan agenda besar yang akan dibahas pada The First Archipelago and Marine Biosphere International Seminar di Wakatobi, Sulawesi Tenggara, Jumat (6/11), sebagai tindak lanjut Kongres Dunia Cagar Biosfer ke-5 di Hangzhou, China, September 2025 yang melahirkan Hangzhou Strategic Action Plan 2025-2030. Saat ini, Jaringan Dunia Cagar Biosfer (WNBR) UNESCO telah mencakup 748 Cagar Biosfer di 134 negara, termasuk 21 di Indonesia, dengan lebih dari 280 juta penduduk hidup di dalamnya.
"Pada akhirnya, menjaga bumi bukan hanya persoalan lingkungan. Ini adalah persoalan moral, iman, kemanusiaan, dan masa depan peradaban. Mari membangun kehidupan dengan cinta. Mencari rezeki Tuhan tanpa merusak ciptaan-Nya. Bumi yang lestari adalah rumah bagi kemanusiaan. Salam lestari," pungkasnya.