ASKARA – Fakta mengejutkan diungkap Guru Besar Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan IPB University yang juga Anggota Komisi IV DPR RI Fraksi PDI Perjuangan, Prof. Dr. Ir. H. Rokhmin Dahuri, M.S., saat meninjau langsung bantuan budidaya ikan sistem bioflok di Cirebon.
Menteri Kelautan dan Perikanan RI periode 2001–2004 itu turun langsung ke Kelompok Belawa Selfish, Desa Belawa, Kecamatan Lemahabang, Kabupaten Cirebon, kelompok penerima program bantuan bioflok dari Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP).
Di hadapan pembudidaya, Prof. Rokhmin secara blak-blakan menyebut bahwa sekitar 70 persen program bantuan bioflok di Indonesia dinilai belum maksimal dan gagal menyejahterakan pembudidaya.
Penyebabnya, bukan karena petaninya malas, melainkan karena kesalahan teknis yang sangat mendasar: mesin aerasi.
"Mesin aerasi yang diberikan dalam paket bantuan itu daya-nya terlalu kecil, hanya sekitar 100 watt. Mana kuat mengaduk air kolam diameter besar? Akibatnya oksigen di dasar kolam sangat rendah, proses biologisnya terganggu, flok tidak terbentuk sempurna. Ikannya mabuk, pakannya boros, dan akhirnya merugi," tegas Prof. Rokhmin, dikutip IG wewara_rctv, Sabtu (31/10).
Namun di tengah potret kegagalan nasional itu, Kelompok Belawa Selfish justru menjadi oase keberhasilan. Kelompok yang digawangi pembudidaya muda bernama Bayu itu melakukan inovasi berani.
Mereka merakit dan memodifikasi sendiri mesin aerasi dengan daya 200 hingga 300 watt per kolam.
Hasilnya kontras dan terbukti secara ekonomi. Dengan aerasi yang kencang dan merata, pembentukan flok sebagai pakan alami ikan menjadi optimal.
"Di sini buktinya. Penggunaan pakan pelet bisa dihemat hingga 30 persen, kebutuhan ganti air jauh berkurang, pertumbuhan ikan lebih cepat, dan hasil panen meningkat drastis. Kuncinya hanya satu: kecukupan aerasi," jelas Prof. Rokhmin sambil menunjuk kolam bioflok yang airnya terus berputar kencang.
Temuan lapangan di Belawa ini tidak akan berhenti sebagai catatan pribadi. Sebagai mitra kerja KKP di Komisi IV DPR RI, Prof. Rokhmin menegaskan akan membawa kasus Belawa Selfish sebagai bahan pembelajaran atau lesson learned dalam rapat resmi bersama KKP di Senayan.
"Kelompok Belawa Selfish harus menjadi model nasional. Bantuan yang baik itu harus sesuai kebutuhan lapangan, bukan sekadar menggugurkan kewajiban program. Dengan aerasi yang tepat, bioflok ini luar biasa, bisa benar-benar menghemat pakan, meningkatkan produktivitas, dan menyejahterakan pembudidaya," ujarnya.
Menariknya, kunjungan kerja Prof. Rokhmin tidak hanya berhenti di kolam ikan. Ia juga menyempatkan diri mengunjungi wisata konservasi dan edukasi Kura-Kura Belawa yang legendaris.
Menurutnya, Desa Belawa memiliki dua kekuatan besar yang jika disinergikan akan menjadi model pembangunan desa yang sempurna.
"Ini paket komplit. Bioflok untuk memperkuat kemandirian ekonomi dan ketahanan pangan masyarakat. Sementara konservasi Kura-Kura Belawa untuk menjaga kelestarian plasma nutfah endemik yang tidak ada di tempat lain, sekaligus mendorong ekonomi baru berbasis wisata edukasi. Keduanya harus saling mendukung," pungkasnya.
Kunjungan diakhiri dengan dialog dan komitmen untuk mengawal agar program bioflok di seluruh Indonesia tidak lagi gagal karena persoalan aerasi.