Jumat, 30 Oktober 2026 | 14:35
COMMUNITY

Refleksi Sumpah Pemuda di UMC, Prof. Rokhmin Dahuri Ingatkan Mahasiswa: Maksimalkan Potensi dan Jangan Tinggalkan Tahajud

Refleksi Sumpah Pemuda di UMC, Prof. Rokhmin Dahuri Ingatkan Mahasiswa: Maksimalkan Potensi dan Jangan Tinggalkan Tahajud
Prof. Rokhmin Dahuri menyerahkan bibit tanaman kepada mahasiswi Universitas Muhammadiyah Cirebon (foto. rd media)

ASKARA - Anggota DPR RI Prof. Dr. Ir. Rokhmin Dahuri, M.S., memberikan suntikan motivasi dan refleksi kebangsaan yang mendalam kepada ratusan mahasiswa Universitas Muhammadiyah Cirebon (UMC). Di hadapan generasi muda, ia mengajak mereka untuk tidak menjadi manusia rata-rata, melainkan menjadi manusia terbaik di bidangnya masing-masing.

“Jadi manusia yang terbaik, sesuai kelebihan yang dimiliki. Yakinlah setiap orang punya kelebihan, maksimalkan kemampuan itu untuk menjadi yang terbaik dan meraih prestasi,” tegas Prof. Rokhmin saat menjadi pembicara kunci dalam pertemuan mahasiswa Fakultas Ekonomi dan Bisnis (FEB) UMC di Kampus Jalan Tuparev, Kedawung, Kabupaten Cirebon, Jumat (30/10).

Acara yang dihadiri langsung oleh Dekan FEB UMC beserta jajaran dosen tersebut tidak sekadar kuliah umum biasa. Pertemuan tersebut dikemas dalam momentum Refleksi Sumpah Pemuda yang diinisiasi UMC Press dengan tema besar yang sangat relevan dengan tantangan zaman: Green Economy for Sustainable Living: Tumbuhkan Optimisme di Tengah Badai.

Tema tersebut, menurut Rokhmin, adalah jawaban atas kegelisahan anak muda hari ini yang dihadapkan pada ketidakpastian ekonomi global, krisis iklim, dan sempitnya lapangan pekerjaan.

Dua Kunci Sukses: Jaringan dan Spiritualitas

Sebagai Guru Besar Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan IPB University yang telah malang melintang di dunia akademik, birokrasi, dan politik, Prof. Rokhmin membagikan dua kunci sukses yang sering dilupakan mahasiswa.

Pertama adalah pentingnya membangun jaringan (networking) seluas-luasnya sejak di bangku kuliah. Kedua, yang paling fundamental, adalah menjaga kedekatan spiritual dengan Sang Pencipta.

“Jangan lupa dekat sama Allah SWT, karena semua itu atas kehendak-Nya. Jalankan sholat lima waktu, tambahkan shalat tahajud,” pinta Anggota DPR RI dari Dapil Cirebon-Indramayu tersebut yang disambut anggukan khidmat para mahasiswa.

Pesan religius dari politisi PDI Perjuangan itu terasa begitu membumi. Ia menekankan bahwa kecerdasan intelektual tanpa kecerdasan spiritual akan membuat manusia mudah goyah ketika menghadapi badai kehidupan, persis seperti tema acara hari itu.

Indonesia Seharusnya Kaya, Tapi...

Sesi menjadi semakin menarik ketika mantan Menteri Kelautan dan Perikanan RI periode 2001-2004 itu menyoroti potret buram perekonomian nasional.

Di hadapan calon-calon ekonom muda Cirebon, ia secara blak-blakan menyoroti persoalan klasik yang tak kunjung tuntas: kemiskinan dan pengangguran yang masih tinggi.

“Padahal, Indonesia itu seharusnya jadi negara kaya. Indonesia punya potensi besar di berbagai sektor. Masalahnya, potensi kekayaan yang ada belum bisa dikelola dan diberdayakan untuk kemakmuran rakyat,” ujarnya dengan nada prihatin.

Menurutnya, Indonesia dianugerahi Tuhan dengan 17.000 pulau, garis pantai terpanjang kedua di dunia, hutan tropis yang luas, dan bonus demografi yang melimpah. Namun, semua modal raksasa tersebut belum diterjemahkan menjadi kesejahteraan yang merata.

Ia kemudian melontarkan kritik tajam yang membuat suasana ruangan hening.

“Kekayaan yang dimiliki Indonesia justru hanya dinikmati segelintir orang, yakni para oligarki,” pungkasnya.

Pernyataan tersebut menjadi refleksi penting bagi mahasiswa FEB UMC. Bahwa tugas mereka sebagai generasi penerus bukan hanya mencari pekerjaan, tetapi menciptakan lapangan pekerjaan, mengelola potensi bangsa dengan paradigma Green Economy, dan memastikan ekonomi yang berkelanjutan dan berkeadilan.

Acara Refleksi Sumpah Pemuda ini diakhiri dengan dialog interaktif yang hangat. Banyak mahasiswa yang antusias bertanya tentang bagaimana implementasi ekonomi hijau di tingkat lokal Cirebon hingga strategi anak muda agar tidak terjebak dalam pesimisme di tengah badai disrupsi global.

Editor: Husnie

Berita Terkait