Selasa, 27 Oktober 2026 | 15:27
Editorial

Spons Raksasa yang Kita Khianati! Allah Ciptakan Basah Agar Tak Terbakar, Kita Keringkan Demi Sawit

Spons Raksasa yang Kita Khianati! Allah Ciptakan Basah Agar Tak Terbakar, Kita Keringkan Demi Sawit
Ilustrasi

ASKARA - Jauh sebelum ada peta konsesi, sebelum ada alat berat dan bibit sawit unggul, Allah lebih dulu menciptakan lahan gambut di Kalimantan, di Sumatera, di Papua. Ia tidak menciptakannya sebagai tanah kosong yang menunggu untuk dikeringkan. Ia menciptakannya sebagai spons raksasa.

Spons raksasa yang menampung cadangan air hujan berbulan-bulan lamanya. Yang menahan air di musim hujan agar Jawa tidak kebanjiran, dan melepasnya pelan-pelan di musim kemarau agar Kalimantan tidak kekeringan. Sebuah sistem penyimpanan air alami yang dirancang dengan maksud yang sangat presisi.

Tapi apa yang kita lakukan?

Kita datang dengan logika yang terbalik. Karena spons itu basah, ia dianggap tidak produktif. Maka kita buat parit-parit drainase. Kilometer demi kilometer kanal kita gali, kita kuras airnya, kita keringkan tanahnya. Tujuannya satu: supaya tanah yang becek itu bisa ditanami pohon sawit. Tanah yang oleh alam ditakdirkan untuk selalu basah, kita paksa untuk menjadi kering.

Di sinilah bencana itu bermula. Kita lupa satu hal paling mendasar yang dititipkan Sang Pencipta pada gambut itu.

Kenapa Allah ciptakan gambut itu basah?

Jawabannya sederhana: supaya ia tidak mudah terbakar.

Gambut bukanlah tanah biasa. Ia adalah tumpukan serabut kayu, daun, dan sisa-sisa hutan yang membusuk selama ribuan tahun. Tebalnya bisa puluhan meter. Dalam kondisi basah, ia aman. Dalam kondisi kering, ia adalah gudang bahan bakar terbesar di muka bumi.

Ketika api menyentuh gambut kering, ia tidak terbakar seperti hutan biasa. Apinya tidak hanya menjilat di permukaan. Ia merayap ke dalam, ke serabut-serabut di bawah tanah. Membara pelan, tanpa asap besar, tanpa kobaran yang terlihat.

Inilah yang paling mengerikan dari kebakaran gambut, dan mungkin banyak dari kita yang di Jawa tidak pernah membayangkan.

Petugas di lapangan menyiram dari atas dengan helikopter water bombing. Api di permukaan mati. Dari drone terlihat padam. Media menuliskan "titik api berkurang". Kita di sini lega.

Padahal di bawah, 1 meter, 2 meter di dalam tanah, bara itu masih hidup. Masih membara merah. Ia menunggu. Begitu angin bertiup sedikit lebih kencang, begitu ada celah oksigen, ia akan menyala kembali. Bahkan bisa muncul 100 meter dari titik api awal. Itulah mengapa kebakaran gambut bisa berbulan-bulan tak pernah benar-benar padam.

Satu-satunya pemadam yang mampu memadamkannya sampai ke akar bukanlah manusia.

Yang bisa memadamkannya hanyalah hujan. Bukan hujan rintik-rintik yang lewat satu jam. Tapi hujan lebat yang merata, yang turun berhari-hari, yang meresap jauh ke dalam tanah, mengisi kembali spons raksasa itu hingga jenuh air.

Jika tidak ada hujan itu, Kalimantan akan terus menjadi ruang asap.

Dan siapa yang paling menderita? Bukan kita yang menonton berita kebakaran dari layar ponsel di Pulau Jawa dengan AC menyala. Yang menderita adalah seorang ibu di Palangkaraya yang harus melahirkan di tengah kabut asap dengan ISPA. Seorang anak di Sampit yang tidak bisa sekolah berminggu-minggu karena indeks polusi di angka 1000. Orangutan, bekantan, rangkong, dan jutaan flora fauna yang habitatnya kita bakar pelan-pelan dari bawah.

Kita sering berdoa agar ekonomi lancar, agar harga sawit naik, agar investasi masuk. Tapi pernahkah kita berdoa untuk membasahi kembali spons itu?

Hari ini, mari kita jujur. Bencana asap tahunan di Kalimantan bukan lagi sekadar "bencana alam". Ia adalah konsekuensi logis dari keserakahan kita yang ingin mengubah kodrat alam. Kita mengeringkan apa yang seharusnya basah, lalu kita heran kenapa ia terbakar tak terkendali.

Maka, selagi pemerintah bekerja dengan satgas dan pemadaman, tugas kita yang jauh di sini adalah satu: tetap doakan tanah Kalimantan.

Doakan agar Allah menurunkan hujan lebat yang merata. Hujan yang bukan hanya membasahi daun, tapi memadamkan bara di perut bumi. Hujan yang mengembalikan fungsi spons raksasa itu. Agar saudara-saudara kita di Kalimantan bisa kembali bernapas lega, agar hutan bisa kembali menjadi rumah, bukan menjadi tungku.

Karena ketika gambut Kalimantan akhirnya padam, yang kita selamatkan bukan hanya paru-paru mereka. Tapi juga nurani kita sendiri. (MH)

Editor: Husnie