ASKARA - Detik-detik mencekam terjadi di perairan Merak. Kapal Motor Penumpang (KMP) Batumandi yang mengangkut 460 jiwa tiba-tiba dilalap si jago merah di tengah laut. Peristiwa yang nyaris mengubah Laut Merak menjadi kuburan massal ini berhasil diunggah dan dirangkum oleh akun TikTok Data Sosmed dan langsung viral.
Dalam video yang beredar, terlihat asap hitam pekat membumbung tinggi hingga ratusan meter. Api berkobar dari badan kapal feri kuning bertuliskan ferizy tersebut. Puluhan kapal kecil, tugboat, dan perahu nelayan terlihat berjibaku melakukan evakuasi darurat di sekitar kapal yang terbakar.
Keajaiban terjadi. Dikutip dari akun TikTok Data Sosmed, dari 460 nyawa yang berada di atas kapal, seluruhnya berhasil diselamatkan.
"Untungnya semua selamat walau 11 orang harus dilarikan ke rumah sakit," tulis narasi dalam video tersebut.
Proses evakuasi berlangsung dramatis. Penumpang terlihat melompat menggunakan perosotan darurat oranye dan sekoci karet dalam kondisi panik, sebagian hanya mengenakan pelampung oranye.
Namun, setelah kepanikan mereda, muncul pertanyaan besar yang justru menimbulkan kebingungan massal: dari mana sebenarnya api berasal?
Di sinilah kejanggalan dimulai.
Pihak Direktur Utama ASDP dengan percaya diri menyebutkan bahwa percikan api pertama kali muncul di buritan dek kendaraan. Pernyataan ini disampaikan sebagai versi resmi operator pelayaran.
Tapi, catatan resmi dari otoritas yang berbeda justru berkata lain. VTS Merak (Vessel Traffic Service) dengan tegas melaporkan dalam log resminya bahwa api berasal dari kamar mesin.
"Bagaimana bisa data sekritis ini simpang siur?" tanya akun Data Sosmed dalam videonya.
Perbedaan sumber api antara dek kendaraan dan kamar mesin bukanlah perbedaan sepele. Ini menentukan penyebab, kelalaian teknis, hingga siapa yang harus bertanggung jawab.
Kecurigaan publik makin menguat setelah orang nomor satu di Korps Bhayangkara angkat bicara. Kapolri Suyudi Aryo Seto menyatakan bahwa Polri tidak akan hanya melihat faktor teknis.
Dikutip dari Data Sosmed: "Polri enggak cuma lihat faktor teknis. Mereka menyelidiki kemungkinan nonteknis alias dugaan sabotase."
Pernyataan ini sontak membuat kasus kebakaran KMP Batumandi naik level. Jika benar ada unsur kesengajaan, maka ada pihak yang dengan sengaja ingin mencelakai ratusan orang di tengah laut.
Hingga kini, dua pertanyaan besar masih menggantung tanpa jawaban pasti:
1. Apakah ada pihak yang sengaja ingin mencelakai ratusan orang ini?
2. Siapa yang harus bertanggung jawab atas musibah yang nyaris menelan 460 nyawa ini?
Pihak kepolisian memastikan penyelidikan masih berjalan, termasuk memeriksa apakah ada pelanggaran SOP pemuatan kendaraan hingga kemungkinan korsleting di kamar mesin.
Sementara itu, 11 korban yang dilarikan ke rumah sakit dilaporkan mengalami luka bakar dan sesak akibat asap.