ASKARA – Anggota Komisi IV DPR RI Fraksi PDI Perjuangan, Prof. Dr. Ir. H. Rokhmin Dahuri, M.S., menyerahkan bantuan traktor roda dua secara simbolis kepada Kelompok Tani (Poktan) Si Randu di Kelurahan Pegambiran, Kecamatan Lemahwungkuk, Kota Cirebon, Jumat (31/10/2025).
Penyerahan bantuan yang menjadi bagian dari pengawalan aspirasi masyarakat melalui Komisi IV DPR RI ini disambut antusias petani. Namun, Prof. Rokhmin mengingatkan, bantuan fisik saja tidak cukup.
"Traktor ini harus dijaga, dirawat, dan dimanfaatkan optimal untuk produktivitas. Kelompok harus kelola keuangan dengan baik. Sisihkan sebagian pendapatan untuk BBM, operasional, perawatan, dan perbaikan. Jangan habis untuk konsumsi. Dengan begitu usaha tani bisa mandiri dan berkelanjutan," tegas Guru Besar FPIK IPB University itu.
Akar Masalah: Skala Ekonomi dan Lahan yang Menyusut
Dalam dialog hangat dengan petani, Menteri Kelautan dan Perikanan RI periode 2001-2004 itu membongkar akar persoalan kesejahteraan petani.
Menurutnya, secara ilmu ekonomi, usaha tani padi sawah idealnya minimal sekitar 3 hektare agar memenuhi skala ekonomi. Jika lahan terlalu sempit, petani akan sulit keluar dari kemiskinan meski panen berhasil.
"Kalau lahannya hanya 0,3 hektare, mau pakai traktor sebagus apapun, untungnya tipis. Makanya kita harus pikirkan konsolidasi lahan dan kelembagaan petani," jelasnya.
Ia juga menyoroti ancaman serius konversi lahan. Setiap tahun, sekitar 60.000 hektare lahan pertanian di Indonesia beralih fungsi menjadi jalan, perumahan, dan industri. Jika dibiarkan, ketahanan pangan terancam.
"Oleh karena itu, perlindungan Lahan Pertanian Pangan Berkelanjutan (LP2B) menjadi sangat penting. Jangan sampai sawah produktif di Cirebon habis jadi perumahan," tegasnya.
Kunci Sejahtera: Integrasi Hulu-Hilir
Lebih jauh, Prof. Rokhmin mendorong pembangunan pertanian terintegrasi dari hulu hingga hilir.
Di hulu, pemerintah harus pastikan sarana produksi murah dan berkualitas: alat mesin pertanian (alsintan) seperti traktor, benih unggul, dan pupuk organik yang terjangkau.
Di hilir, harus ada industri pengolahan, penggilingan padi modern, dan sistem pemasaran yang menjamin harga jual menguntungkan bagi petani.
"Petani harus dapat input yang murah, tapi output-nya mahal. Jangan terbalik: pupuk mahal, harga gabah murah. Dengan integrasi hulu-hilir, petani bisa untung layak, seperti di Jepang, Vietnam, dan Thailand yang sudah sejahterakan petaninya," pungkasnya.
Ketua Poktan Si Randu menyampaikan rasa bangga dan terima kasih. Bantuan traktor roda dua ini sangat membantu mengurangi biaya sewa dan mempercepat pengolahan lahan.
Prof. Rokhmin pun mengapresiasi semangat kemandirian kelompok dan berharap bantuan ini berdampak jangka panjang, bukan hanya seremonial.