ASKARA – Modernisasi industri pengolahan hasil perikanan melalui teknologi tepat guna dinilai menjadi kunci untuk meningkatkan produktivitas, nilai tambah, dan daya saing UMKM pesisir.
Hal itu ditegaskan Anggota Komisi IV DPR RI Fraksi PDI Perjuangan, Prof. Dr. Ir. H. Rokhmin Dahuri, M.S., saat menyerahkan bantuan mesin pengemasan produk terasi kepada Kelompok Pengolah dan Pemasar (Poklasar) Makmur Mandiri di Kabupaten Cirebon, Jumat (31/10/2025).
Bantuan yang difasilitasi melalui Ditjen Penguatan Daya Saing Produk Kelautan dan Perikanan (PDSPKP) Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) ini merupakan jawaban atas aspirasi nelayan dan pengolah yang disampaikan saat kunker reses tahun lalu.
"Sejak awal niat saya menjadi anggota DPR adalah ingin berbuat kebajikan dan menolong masyarakat Cirebon-Indramayu pada khususnya, serta Indonesia pada umumnya," ungkap Guru Besar FPIK IPB University itu.
Menurut Prof. Rokhmin, selama ini terasi Cirebon yang terkenal gurih terkendala pengemasan. Masih dikemas dalam ukuran jumbo, tidak praktis, dan kurang menarik bagi pasar modern. Akibatnya, harga tidak maksimal dan jangkauan pasar terbatas di sekitar Cirebon saja.
Melalui bantuan mesin sealer dan pengemasan otomatis ini, Poklasar Makmur Mandiri milik Pak Bambang dan keluarga kini bisa bertransformasi. Dari kemasan besar yang monoton, menjadi kemasan kecil, praktis, higienis, dan desain menarik yang sesuai selera konsumen milenial dan pasar ritel modern.
"Jangan lagi kita jual bahan mentah. Hilirisasi itu wajib. Terasi harus kita olah jadi produk premium yang punya merek, kemasan cantik, dan nilai jual tinggi. Dengan kemasan kecil, produk kita bisa masuk minimarket, supermarket, bahkan ekspor," tegas Menteri Kelautan dan Perikanan RI periode 2001-2004 itu.
Lebih jauh, Prof. Rokhmin menekankan pentingnya multiplier effect. Ketika kapasitas produksi dan pemasaran naik, kebutuhan bahan baku udang rebon dari nelayan juga akan meningkat. Artinya, manfaat ekonomi tidak hanya dirasakan UMKM, tapi juga nelayan penangkap, tenaga kerja pengolah, hingga pedagang di sekitar.
"Inilah esensi Blue Economy yang inklusif. Kita integrasikan produksi, pengolahan, pengemasan, distribusi, dan pemasaran agar nilai tambah sebesar-besarnya kembali ke rakyat," jelasnya.
Sementara itu, penerima bantuan, Pak Bambang dari Poklasar Makmur Mandiri, menyampaikan apresiasi. Menurutnya, mesin ini membuka peluang besar untuk bersaing.
"Selama ini kami ingin buat kemasan kecil 50 gram dan 100 gram tapi tidak punya alatnya. Dengan mesin ini, kami bisa buat kemasan sachet yang lebih laku. Terima kasih Prof. Rokhmin yang sudah memperjuangkan aspirasi kami," ujarnya.
Prof. Rokhmin berharap bantuan tidak berhenti sebagai seremonial, tapi benar-benar dimanfaatkan untuk meningkatkan kualitas, efisiensi, dan perluasan pasar.
"Bantuan pemerintah yang berhasil itu bukan sekadar mesinnya tersalur, tapi ketika usaha jadi produktif, pasar meluas, lapangan kerja bertambah, dan pendapatan nelayan serta UMKM naik. Itu tujuan akhirnya," pungkasnya.
Dengan hilirisasi terasi ini, diharapkan terwujud visi besar: UMKM Naik Kelas, Produk Perikanan Berdaya Saing, Nelayan Sejahtera, Menuju Indonesia Emas 2045.