Jumat, 30 Oktober 2026 | 16:24
NEWS
Di Pondok Pesantren Bina Insan Qur’ani, Desa Susukan, Cirebon

Prof. Rokhmin Dahuri: Bantuan Ayam Petelur Harus Menjadi Modal Awal Menuju Kemandirian Usaha

Prof. Rokhmin Dahuri: Bantuan Ayam Petelur Harus Menjadi Modal Awal Menuju Kemandirian Usaha
Prof. Rokhmin Dahuri di Pondok Pesantren Bina Insan Qur’ani, Desa Susukan, Cirebon (foto.rd media)

ASKARA – Bantuan pemerintah jangan sampai hanya menjadi program sesaat yang habis setelah dimakan. Pesan tajam dan penuh makna itu disampaikan Guru Besar IPB University yang juga Anggota Komisi IV DPR RI Fraksi PDI Perjuangan, Prof. Dr. Ir. H. Rokhmin Dahuri, M.S., saat turun langsung ke masyarakat.

Rabu, 28 Oktober 2026, suasana di Pondok Pesantren Bina Insan Qur’ani, Desa Susukan, Kecamatan Susukan, Kabupaten Cirebon, tampak berbeda. Di tengah kepulan debu kandang dan suara riuh ayam petelur, Prof. Rokhmin hadir menyerahkan secara simbolis bantuan ayam petelur kepada Kelompok Ternak Sinar Santrika Abadi.

Kunjungan kerja ini bukan sekadar seremoni serah terima. Mantan Menteri Kelautan dan Perikanan itu memilih berdialog langsung, duduk lesehan dengan para peternak, santri pengelola, dan pengasuh pondok. Ia bahkan masuk dan meninjau langsung kondisi kandang, mengecek sirkulasi udara, kebersihan, hingga tempat pakan dan sistem pengelolaan kotoran.

Dalam dialog yang berlangsung hangat namun serius tersebut, Prof. Rokhmin memberikan penekanan yang menjadi kunci utama keberhasilan program.

"Bantuan ini sifatnya stimulan, hanya berlangsung selama tiga bulan. Saya ingatkan, setelah tiga bulan ini selesai, Bapak-bapak dan adik-adik santri harus sudah siap 100 persen untuk mandiri," tegas Prof. Rokhmin di hadapan kelompok ternak.

Ia menjelaskan, kemandirian yang dimaksud bukan hanya soal mampu beternak, tetapi juga mampu berpikir sebagai seorang pengusaha peternakan. Mulai dari kemandirian pakan, manajemen kesehatan ayam, penanganan telur, pemasaran, hingga yang paling krusial adalah kemandirian operasional dan finansial.

"Banyak kelompok ternak yang gagal bukan karena ayamnya tidak bertelur, tapi karena manajemen keuangannya jebol. Begitu bantuan pakan habis, usaha ikut habis," ungkapnya.

Untuk mencegah hal itu, pakar pembangunan ekonomi yang dikenal dengan konsep Ekonomi Biru itu memberikan rumus praktis yang mudah diingat: rumus 25 persen.

Ia meminta agar kelompok ternak disiplin menyisihkan hasil usaha.

"Saya titip, dari setiap penjualan telur setiap hari, sisihkan minimal 25 persen. Jangan dihabiskan. Jadikan itu sebagai tabungan, sebagai dana cadangan usaha. Itu modal abadi Anda," pesannya.

Menurutnya, dana cadangan sebesar 25 persen tersebut akan menjadi penyelamat saat menghadapi tiga risiko besar peternak: saat harga pakan naik tiba-tiba, saat produktivitas ayam menurun karena sudah afkir, dan saat harga telur anjlok di pasaran.

"Kalau ada tabungan 25 persen itu, kelompok akan punya napas panjang. Saat pakan naik, tidak panik. Saat harus membeli bibit ayam petelur baru, sudah ada modalnya. Itulah esensi dari bantuan ini, dari modal awal menjadi modal kemandirian," tambahnya.

Program bantuan ayam petelur yang menjadi bagian dari tugas Komisi IV DPR RI yang membidangi pertanian, peternakan, dan ketahanan pangan ini dinilai sangat strategis. Selain meningkatkan produksi protein hewani nasional, program ini juga menjadi instrumen pemberdayaan ekonomi berbasis pesantren.

Pimpinan Pondok Pesantren Bina Insan Qur’ani menyambut baik pesan tersebut. Mereka berkomitmen tidak hanya menjadikan ternak ayam petelur sebagai unit usaha pesantren, tetapi juga sebagai laboratorium wirausaha bagi para santri.

Kunjungan diakhiri dengan doa bersama dan foto bersama, dengan harapan telur-telur yang dihasilkan dari Desa Susukan tidak hanya menyehatkan warga Cirebon, tetapi juga melahirkan para pengusaha muda yang mandiri dari lingkungan pesantren.

Editor: Husnie

Berita Terkait