Selasa, 15 September 2026 | 17:37
Editorial

Ketika Srikandi Naik Panggung, Indonesia Sedang Bercerita tentang Dirinya Sendiri

Ketika Srikandi Naik Panggung, Indonesia Sedang Bercerita tentang Dirinya Sendiri
Raisa saat memerangkan Srikandi pada Premier Show Pagelaran Sabang Merauke – Hanya Indonesia yang Punya “Hikayat Srikandi Nusantara” 2026 (Dok Lisa)

ASKARA - Ada sesuatu yang menarik dari sebuah pertunjukan budaya ketika ia tidak berhenti pada tari, musik, kostum, atau kemegahan panggung. Ia menjadi penting ketika penonton pulang membawa satu pertanyaan: seberapa jauh kita masih mengenal Indonesia yang kita miliki?

Pertanyaan itu terasa dalam Pagelaran Sabang Merauke, Hanya Indonesia yang Punya 2026 yang mengangkat Hikayat Srikandi Nusantara di Indonesia Arena, GBK Senayan, Jakarta, belum lama ini.

Sekitar 1.700 pelaku seni, kreatif, dan tim produksi terlibat. Ratusan penari, musisi, penyanyi, paduan suara, koreografer, desainer, hingga pekerja teknis menyatukan berbagai ekspresi Nusantara dalam sebuah pertunjukan kolosal.

Namun, angka-angka besar itu sesungguhnya bukan inti persoalannya.

Yang jauh lebih penting adalah bagaimana kebudayaan Indonesia mampu berbicara kepada generasi yang hidup dalam dunia serba digital, cepat, visual, dan mudah berpindah perhatian.

Di titik inilah Srikandi menjadi menarik.

Ia bukan sekadar tokoh pewayangan yang dipindahkan ke panggung modern. Srikandi digunakan sebagai pintu masuk untuk berbicara tentang keberanian, keteguhan, pengorbanan, cinta, dan pilihan untuk menjadi manusia yang lebih baik.

Pesannya sederhana, tetapi justru karena itu penting: “Yang paling penting adalah terus menjadi versi terbaik dirimu.”

Pesan tersebut menjadi relevan ketika budaya sering kali hanya diperlakukan sebagai sesuatu yang perlu dilestarikan, tetapi kurang dipikirkan bagaimana membuatnya tetap hidup.

Budaya tidak cukup disimpan di museum. Tidak cukup pula hanya muncul dalam seremoni, festival tahunan, atau pakaian tradisional pada hari tertentu.

Budaya harus mampu menemukan bahasa baru tanpa kehilangan jati dirinya.

Pagelaran Sabang Merauke menunjukkan salah satu kemungkinan itu. Musik tradisional bertemu orkestra dan musik populer. Ratusan penari bergerak dalam koreografi modern. Kostum etnik dan kontemporer bertemu teknologi panggung. Cerita lama mendapatkan ruang baru untuk dibaca oleh penonton hari ini.

Di sinilah teknologi seharusnya ditempatkan: bukan menggantikan budaya, melainkan membantu budaya kembali terlihat dan terdengar.

Kehadiran Raisa sebagai Srikandi juga memperlihatkan bagaimana seni tradisi dapat menjangkau penonton melalui figur yang dekat dengan generasi sekarang. Ia tidak sekadar bernyanyi, tetapi masuk ke dalam karakter, dialog, gerak, dan keseluruhan cerita.

Sementara Yura Yunita dengan karakter Mahadewi menghadirkan dimensi berbeda. Kemegahan naga berkepala tiga, permainan cahaya, musik dan koreografi memang memukau mata. Tetapi di balik spectacle itu ada kerja panjang para seniman dan pekerja kreatif yang membuat kebudayaan tidak sekadar menjadi latar dekoratif.

Justru di balik kemegahan itulah kita perlu melihat sesuatu yang lebih sederhana: gotong royong.

Sekitar 1.700 orang tidak mungkin menghasilkan pertunjukan sebesar itu tanpa kemampuan untuk bekerja bersama. Penari harus mengikuti koreografer. Musisi harus mendengarkan pengarah musik. Desainer harus memahami karakter. Tim teknis harus menjaga keselamatan dan ketepatan setiap perpindahan adegan.

Dengan kata lain, panggung besar tersebut sesungguhnya sedang memperagakan salah satu nilai paling tua yang dimiliki Indonesia: bekerja bersama.

Karena itu, keberhasilan sebuah pagelaran budaya seharusnya tidak hanya diukur dari berapa banyak penonton yang datang, seberapa megah panggungnya, atau seberapa populer nama-nama yang tampil.

Ukuran yang lebih penting adalah apakah setelah lampu panggung padam, ada rasa ingin tahu yang tumbuh.

Apakah anak muda kemudian ingin mencari tahu siapa Srikandi? Mengapa alat musik tertentu dimainkan? Dari mana sebuah tarian berasal? Mengapa sebuah motif kain memiliki makna tertentu? Dan yang paling penting, apakah mereka merasa bahwa kebudayaan itu bukan sesuatu yang kuno, melainkan bagian dari dirinya sendiri?

Jika jawabannya iya, maka pertunjukan budaya telah melakukan sesuatu yang jauh lebih besar daripada sekadar menghibur.

Ia telah menjadi jembatan.

Lima tahun perjalanan Pagelaran Sabang Merauke juga menunjukkan bahwa pelestarian budaya tidak harus selalu tampil dalam wajah yang serius dan berjarak. Kebudayaan bisa megah, modern, atraktif, bahkan spektakuler, selama substansinya tidak hilang.

Di tengah derasnya budaya global yang masuk melalui layar telepon setiap hari, Indonesia membutuhkan lebih banyak ruang semacam ini. Bukan untuk menutup diri dari dunia, melainkan agar ketika berhadapan dengan dunia, kita tahu siapa diri kita.

Sebab bangsa yang kuat bukan bangsa yang menolak perubahan.

Bangsa yang kuat adalah bangsa yang mampu berubah tanpa kehilangan ingatan.

Dan ketika Srikandi berdiri di tengah panggung Indonesia Arena, sesungguhnya yang sedang dipertontonkan bukan hanya kisah seorang perempuan pemberani.

Indonesia sedang bercerita tentang dirinya sendiri: beragam, penuh sejarah, terus berubah, tetapi tidak boleh kehilangan akar.

 

Komentar