Hasto: Islam Harus Jadi Kekuatan Pembebasan, Bukan Sekadar Ritual
ASKARA - Sekretaris Jenderal PDI Perjuangan Hasto Kristiyanto menegaskan Islam tidak boleh berhenti sebagai agama ritual. Islam harus hadir sebagai kekuatan pembebas yang menjawab persoalan nyata rakyat.
Pesan itu disampaikan Hasto saat membuka Rapat Kerja Pengurus Pusat Baitul Muslimin Indonesia (PP BAMUSI) di Aston Ciloto, Puncak, Cianjur, Jawa Barat, Jumat (11/9/2026).
Di hadapan kader BAMUSI, Hasto mengingatkan kembali pemikiran Bung Karno tentang Islam. Menurutnya, Islam dalam gagasan Bung Karno bukan agama yang melanggengkan struktur feodal, melainkan kekuatan yang berpihak kepada rakyat dan membebaskan manusia dari segala bentuk penindasan.
Gagasan tersebut, kata Hasto, sangat relevan dengan peran BAMUSI sebagai organisasi sayap PDI Perjuangan di bidang keislaman.
"Spirit Baitul Muslimin Indonesia adalah menjadi jembatan strategis antara ideologi partai, Islam, Pancasila, dan kerakyatan untuk menolong kaum dhuafa," ujar Hasto.
Ia menegaskan, kehadiran agama dalam kehidupan berbangsa tidak bisa diukur dari maraknya simbol dan kegiatan seremonial semata. Ujian sesungguhnya bagi agama adalah kemampuannya memberi jawaban atas kemiskinan, ketimpangan, dan ketidakadilan.
"Agama harus berpihak kepada kehidupan," tegasnya.
Karena itu, Hasto mendorong kader BAMUSI untuk tidak alergi pada persoalan sosial. Kemiskinan, penderitaan rakyat, dan berbagai bentuk ketidakadilan harus dilihat sebagai bagian dari tanggung jawab keagamaan.
Untuk meneguhkan pesan itu, Hasto mengajak peserta menengok sejarah para nabi. Menurutnya, sejarah kenabian adalah sejarah pengorbanan untuk umat.
Ia mencontohkan keberanian Nabi Ibrahim AS di Babilonia. Di tengah kekuasaan absolut Raja Namrudz, di mana penyembahan berhala telah menjadi kebenaran umum dan tatanan sosial, Ibrahim muda berani mempertanyakan, menentang, bahkan menghancurkan patung-patung yang menjadi simbol kemapanan tersebut.
"Sejarah para nabi adalah sejarah pengorbanan untuk umat. Nabi Ibrahim berani melawan tirani Namrudz dan sistem berhala yang telah dianggap sebagai kebenaran oleh masyarakat pada zamannya," kata Hasto.
Bagi Hasto, sikap Ibrahim adalah cerminan sikap revolusioner, keberanian mendobrak kemapanan yang bertentangan dengan kebenaran dan pembebasan manusia.
Pelajaran itu, lanjutnya, harus menjadi napas program kerja BAMUSI. Raker PP BAMUSI tidak boleh hanya menghasilkan agenda internal, tetapi harus melahirkan kerja sosial yang konkret dan menyentuh langsung kaum dhuafa.
"BAMUSI pada akhirnya bukan sekadar wadah aktivitas keislaman. Ia adalah wadah perjuangan kader partai untuk menghadirkan agama sebagai kekuatan pembebasan," pungkas Hasto.
Rapat kerja tersebut diharapkan menjadi momentum konsolidasi BAMUSI untuk menerjemahkan nilai Islam, Pancasila, dan ideologi kerakyatan ke dalam aksi nyata bersama rakyat tertindas.

Komentar