Singkawang Jadi Panggung Kebudayaan dan Toleransi 97 Kota Indonesia
ASKARA - Kota Singkawang bersiap menjadi tuan rumah Rembuk Kebudayaan Kota yang digelar Asosiasi Pemerintah Kota Seluruh Indonesia (APEKSI). Persiapan kegiatan dimatangkan Pemerintah Kota Singkawang bersama Direktur Eksekutif APEKSI dan jajaran melalui rapat koordinasi virtual, Jumat (11/9/2026).
Rembuk Kebudayaan tersebut akan melibatkan 97 kota di Indonesia. Selain menjadi ruang bertukar gagasan mengenai kebijakan kebudayaan, kegiatan ini diarahkan menjadi panggung untuk memperkenalkan kekayaan budaya, kuliner, seni, pariwisata, serta produk UMKM Singkawang ke tingkat nasional.
Wali Kota Singkawang Tjhai Chui Mie mengatakan, kegiatan tersebut menjadi momentum untuk memperlihatkan wajah Singkawang secara lebih utuh. Menurutnya, Singkawang tidak hanya dikenal karena keberadaan kelenteng yang tersebar di berbagai penjuru kota, tetapi juga karena kehidupan masyarakatnya yang tumbuh dalam keberagaman.
“Melalui kegiatan ini kita ingin menunjukkan bahwa Singkawang bukan hanya kota seribu kelenteng, tapi juga kota yang hidup dalam semangat toleransi, keberagaman kuliner, dan kreativitas seniman lokal,” ujar Tjhai Chui Mie.
Menurutnya, kebudayaan tidak boleh berhenti sebagai kenangan masa lalu. Karena itu, APEKSI bersama Pemkot Singkawang berkomitmen merawat memori kolektif, melindungi cagar budaya dan memastikan sejarah tetap hidup serta relevan bagi generasi mendatang.
Rembuk Kebudayaan juga akan disinergikan dengan perayaan Hari Ulang Tahun Pemerintah Kota Singkawang. Pengemasan kegiatan tersebut diharapkan semakin memperkuat identitas Singkawang sebagai kota pariwisata berbasis budaya sekaligus membuka ruang yang lebih luas bagi pertumbuhan ekonomi kreatif.
Empat pilar menjadi fokus utama kegiatan, yakni kebudayaan dan toleransi, kuliner dan UMKM lokal, pariwisata, serta seniman dan komunitas kreatif.
Pada aspek kebudayaan dan toleransi, Singkawang akan menampilkan harmoni keberagaman etnis, agama dan tradisi yang hidup berdampingan. Semangat yang diusung adalah menolak lupa, menolak runtuh, menolak punah, sebuah pesan agar identitas budaya tidak tergerus perubahan zaman.
Dari sisi kuliner dan UMKM, kegiatan akan memberikan ruang bagi pelaku usaha lokal untuk memperkenalkan makanan khas Singkawang, mulai dari bakcang, bubur pedas hingga aneka kue tradisional. Produk lokal diharapkan tidak hanya menjadi konsumsi masyarakat setempat, tetapi mampu naik kelas dan dikenal lebih luas.
Sementara sektor pariwisata akan dikemas beriringan dengan perayaan hari jadi Singkawang. Momentum tersebut diharapkan memperkuat branding kota sebagai destinasi wisata budaya sekaligus meningkatkan kunjungan wisatawan.
Para seniman, pegiat budaya dan komunitas kreatif lokal juga akan dilibatkan dalam pameran maupun pertunjukan seni. Dengan demikian, Rembuk Kebudayaan tidak hanya berbicara tentang kebijakan di ruang pertemuan, tetapi menghadirkan kebudayaan secara langsung melalui karya dan kreativitas masyarakat.
Bagi Singkawang, kebudayaan dengan demikian bukan sekadar warisan yang disimpan di masa lalu. Kebudayaan adalah kekuatan sosial yang dapat merawat persaudaraan sekaligus menggerakkan perekonomian masyarakat.
Tjhai Chui Mie berharap seluruh persiapan dapat berjalan optimal sehingga Rembuk Kebudayaan APEKSI mampu memberikan manfaat nyata bagi Singkawang dan kota-kota peserta.
“Semoga koordinasi hari ini berjalan lancar dan seluruh persiapan dapat dimaksimalkan,” pungkasnya.
Jika berjalan sesuai harapan, Singkawang bukan hanya menjadi tempat berlangsungnya rembuk kebudayaan. Kota ini akan menjadi panggung Indonesia untuk menunjukkan bahwa keberagaman yang dirawat dapat berubah menjadi kekuatan budaya, daya tarik wisata, sekaligus energi ekonomi masyarakat.

Komentar