Gempa Flores Jadi Pelajaran, BMKG Dorong Mitigasi Berbasis Sains
ASKARA - Gempa bumi tidak pernah datang dengan membawa kepastian waktu. Karena itu, kesiapan menghadapi bencana tidak cukup hanya mengandalkan respons setelah kejadian, tetapi harus dibangun jauh sebelum guncangan terjadi.
Pesan tersebut ditegaskan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) setelah Gempa Flores berkekuatan magnitudo 7,7 pada 15 Agustus 2026. Peristiwa tersebut menjadi momentum untuk memperkuat mitigasi bencana berbasis sains, teknologi, dan data.
Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani menyampaikan hal itu dalam Webinar “Gempa Flores 2026: Dampak serta Pembelajaran untuk Penguatan Mitigasi Bencana” yang digelar Fakultas Teknik Sipil dan Lingkungan (FTSL) Institut Teknologi Bandung (ITB) bersama Pusat Studi Gempa Nasional (PuSGeN) Kementerian Pekerjaan Umum, Akademi Ilmu Pengetahuan Indonesia (AIPI), dan Himpunan Ahli Konstruksi Indonesia (HAKI), Jumat (11/9/2026).
Menurut Faisal, posisi Indonesia yang berada di kawasan dengan dinamika geologi dan atmosfer tinggi membuat ancaman gempa, tsunami, maupun bencana hidrometeorologi harus selalu diperhitungkan dalam pembangunan.
“Kondisi ini mengingatkan kita bahwa risiko bencana bukan sekadar persoalan frekuensi kejadiannya, tetapi merupakan tantangan pembangunan yang membutuhkan pemahaman risiko berbasis sains, teknologi, dan data yang semakin presisi,” ujar Faisal.
Ia mengatakan paradigma penanggulangan bencana harus terus bergeser. Pemerintah dan masyarakat tidak boleh hanya bergerak setelah bencana terjadi, tetapi harus mampu mengantisipasi potensi dampaknya sejak dini.
Penguatan monitoring, sistem peringatan dini, penyebaran informasi, kesiapsiagaan masyarakat hingga pengurangan risiko berbasis wilayah menjadi bagian penting dari perubahan tersebut.
Peringatan Tsunami dalam 2 Menit 16 Detik
Dari sisi geofisika, BMKG terus mengembangkan layanan informasi gempa bumi dan tsunami, geofisika potensial, tanda waktu, serta seismologi teknik.
Salah satu pembelajaran penting dari Gempa Flores M7,7 adalah kinerja Indonesia Tsunami Early Warning System (INATEWS) dalam memberikan peringatan kepada masyarakat.
“Dalam waktu 2 menit 16 detik setelah terjadinya Gempa Flores, BMKG telah berhasil menyebarluaskan peringatan dini terkait potensi tsunami kepada masyarakat luas,” jelas Faisal.
BMKG juga menggunakan informasi shakemap berbasis dampak untuk membantu mengidentifikasi wilayah yang berpotensi terdampak, menentukan prioritas respons, serta mendukung perlindungan aset dan infrastruktur kritis.
Menurut Faisal, penguatan INATEWS dan informasi gempa berbasis dampak harus terus dilakukan dengan satu prinsip: early warning must lead to early action.
Sebab peringatan dini tidak akan memiliki arti maksimal jika tidak diikuti tindakan cepat dan tepat oleh masyarakat maupun pemangku kepentingan.
Ancaman Tidak Berhenti pada Guncangan
Faisal mengingatkan bahwa risiko gempa tidak berhenti pada guncangan utama. Peristiwa gempa dapat memicu bahaya sekunder seperti tsunami, longsor hingga likuifaksi.
“Gempa Flores M7,7 menunjukkan bahwa risiko bencana tidak hanya berhenti pada guncangan utamanya saja, tetapi dapat diikuti oleh bahaya sekunder seperti tsunami, longsor, dan likuifaksi,” ungkapnya.
Untuk memperkuat pemahaman mengenai kondisi aktual, BMKG juga menerjunkan tim survei dan verifikasi ke wilayah terdampak di Flores. Data lapangan tersebut kemudian menjadi bagian penting dalam pengambilan keputusan dan penguatan kajian kebencanaan.
BMKG memiliki 191 Unit Pelaksana Teknis (UPT) yang tersebar di seluruh Indonesia. Khusus di Pulau Flores terdapat empat UPT dan dua pos pengamatan yang mendukung penyebaran informasi serta pendampingan masyarakat.
“Dalam situasi keseharian maupun kondisi darurat bencana, BMKG harus menjadi rujukan utama dan sumber informasi resmi terkait gempa bumi, tsunami, serta informasi geofisika lainnya,” tegas Faisal.
Data Gempa untuk Infrastruktur Tangguh
Mitigasi tidak berhenti pada sistem peringatan dini. BMKG juga berkontribusi dalam membangun ketahanan infrastruktur melalui layanan seismologi teknik, Structural Health Monitoring, mikrozonasi, serta berbagai kajian kegempaan.
Informasi tersebut penting agar pembangunan di wilayah rawan bencana tidak hanya mengejar pertumbuhan, tetapi juga memperhitungkan keselamatan manusia dan ketahanan bangunan.
Gempa Flores M7,7 juga menjadi momentum bagi BMKG untuk melakukan validasi terhadap Peta Bahaya Gempa Bumi dengan menggabungkan data observasi instrumental dan hasil survei kerusakan di lapangan.
“Gempa Flores M7,7 ini menjadi momentum penting bagi BMKG untuk melakukan validasi Peta Bahaya Gempa Bumi. Hal ini dilakukan melalui integrasi antara data observasi instrumental dengan hasil survei dan verifikasi kondisi aktual kerusakan di lapangan,” katanya.
Menurut Faisal, langkah tersebut dapat meningkatkan akurasi pemodelan bahaya sekaligus memperkuat kebijakan mitigasi berbasis risiko.
Di tingkat masyarakat, BMKG juga terus memperluas edukasi melalui program Sekolah Lapang Gempabumi dan Tsunami (SLG) serta berbagai kegiatan literasi kebencanaan.
Tujuannya sederhana tetapi penting: masyarakat harus mengenali risiko, memahami peringatan, dan mengetahui tindakan yang harus dilakukan ketika bencana datang.
BMKG kini juga mendorong transformasi menuju ekosistem Impact-Based Early Warning Services, yakni layanan peringatan dini yang tidak hanya menjelaskan apa yang terjadi, tetapi juga membantu masyarakat dan pemangku kepentingan memahami kemungkinan dampaknya.
Bagi Faisal, keberhasilan layanan meteorologi, klimatologi, dan geofisika pada akhirnya tidak cukup diukur dari seberapa cepat sebuah bencana terdeteksi.
Ukuran yang lebih penting adalah apakah informasi tersebut mampu membuat masyarakat bersiap, membantu pemerintah mengambil keputusan, menyelamatkan kehidupan, dan mengurangi kerugian.
“Gempa Flores memberikan pengingat sekaligus peluang untuk belajar bersama, memperkuat data, menyempurnakan kebijakan, dan membangun Indonesia yang lebih tangguh. Dari satu kejadian kita membangun pengetahuan, dari pengetahuan kita merumuskan kebijakan yang kuat, dan dari kebijakan kita membangun infrastruktur yang tangguh,” pungkasnya.

Komentar