Romo Deo Sedih Lihat Bangsa, Ajak Umat Ikut MBG 17 Agustus di Katedral
ASKARA - Keprihatinan terhadap kondisi bangsa tidak membuat Romo Yohanes Deodatus, SJ, kehilangan kecintaannya kepada Indonesia. Di tengah sorotannya terhadap sejumlah kebijakan yang dinilai belum terlaksana dengan baik dan berpotensi merugikan masyarakat, ia justru mengajak umat untuk tetap merawat semangat kebangsaan melalui kegiatan sederhana di lingkungan gereja.
Dalam pesannya kepada umat, Romo Yohanes mengaku merasakan kesedihan melihat situasi Indonesia belakangan ini. Menurutnya, masih terdapat kebijakan-kebijakan yang belum dieksekusi dengan baik sehingga dampaknya justru dirasakan masyarakat.
"Saudara-saudara terkasih, hari-hari ini saya merasa begitu sedih melihat situasi bangsa kita Indonesia. Banyak kebijakan-kebijakan yang tidak dieksekusi dengan baik sehingga merugikan masyarakat," ungkap Romo Yohanes, Sabtu (15/8/2026).
Keprihatinan tersebut bahkan membuat perasaannya berat ketika menyanyikan lagu kebangsaan Indonesia Raya. Namun, kesedihan itu tidak membuatnya memilih menyerah atau menjauh dari kecintaan terhadap Tanah Air.
"Walaupun menyanyikan lagu Indonesia Raya sekalipun rasanya hati ini berat, tapi saya tidak akan menyerah untuk mencintai bangsa dan tanah air ini," tegasnya.
Tetap Merayakan Kemerdekaan
Alih-alih larut dalam kekecewaan, Romo Yohanes mengajak umat untuk tetap merayakan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia dengan penuh kegembiraan dan kebersamaan.
Ia memastikan kegiatan lomba 17 Agustus tetap digelar bersamaan dengan pesta rakyat dan pesta nama Paroki Gereja Katedral Jakarta pada 17 Agustus 2026.
Menurutnya, mencintai Indonesia tidak selalu harus diwujudkan melalui tindakan besar. Semangat kebangsaan juga dapat dirawat melalui kebersamaan warga, kepedulian terhadap lingkungan, serta kegiatan yang melibatkan anak-anak dan keluarga.
Sejumlah lomba unik pun disiapkan untuk memeriahkan perayaan tersebut. Di antaranya MBG (Menghias Bekal di Gereja), Meremas Botol Plastik dan memilah sampah.
Kegiatan tersebut tidak hanya menawarkan hiburan dalam suasana perayaan kemerdekaan, tetapi juga membawa pesan tentang kepedulian terhadap lingkungan dan kebiasaan hidup yang lebih bertanggung jawab.
Dari Kekecewaan Menjadi Gerakan Bersama
Bagi Romo Yohanes, kecintaan kepada Indonesia tidak boleh berhenti hanya karena kecewa terhadap situasi bangsa.
Pesannya justru mengandung ajakan agar masyarakat tetap menjaga harapan dan melakukan hal-hal positif dari lingkungan terdekat.
"Tidak akan menyerah untuk mengadakan lomba 17 Agustus, pesta rakyat dan pesta nama paroki Gereja Katedral Jakarta," ujarnya.
Ia pun mengajak umat dan masyarakat untuk hadir dan ikut memeriahkan kegiatan tersebut pada 17 Agustus 2026.
"Saya tunggu di Paroki Katedral Jakarta pada 17 Agustus 2026," katanya.
Pesan Romo Yohanes sederhana, tetapi kuat: boleh kecewa melihat keadaan bangsa, boleh merasa sedih ketika kebijakan tidak berpihak kepada masyarakat, tetapi jangan sampai rasa kecewa membuat kecintaan kepada Indonesia ikut padam.

Komentar