Minggu, 07 Juni 2026 | 19:54
COMMUNITY

Kotbah Malam Natal

Romo Edi Mulyono: Hutan Diganti Sawit, Alam Rusak, Banjir Datang

Romo Edi Mulyono: Hutan Diganti Sawit, Alam Rusak, Banjir Datang
Romo Yohanes Deodatus, SJ bersama Romo Edi Mulyono, SJ. ketika memimpin Misa Malam Natal di Gereja Katedral Jakarta (Dok Askara)

ASKARA - Misa kedua Malam Natal di Gereja Katedral Jakarta berlangsung khidmat dan sarat pesan reflektif. Ribuan umat memadati seluruh area gereja, baik di dalam maupun di luar gedung, pada Rabu malam, (24/12).

Perayaan Ekaristi dipimpin oleh Romo Yohanes Deodatus, SJ bersama Romo Edi Mulyono, SJ. Dalam homilinya, Romo Edi menekankan Natal sebagai momen kerinduan manusia akan terang di tengah berbagai bentuk kegelapan hidup.

“Tidak ada yang menyukai kegelapan. Kita ingin hidup dalam terang. Yesus adalah sumber terang dunia,” ujar Romo Edi di hadapan umat.

Ia menjelaskan bahwa kegelapan tidak hanya hadir dalam bentuk penderitaan batin dan kesepian, tetapi juga tampak nyata dalam kerusakan alam akibat keserakahan manusia.

Soroti Kerusakan Hutan Akibat Sawit

Romo Edi secara tegas menyoroti praktik penggantian hutan dengan tanaman kelapa sawit yang dinilainya merusak keseimbangan alam dan mengancam kehidupan manusia.

“Ketika hutan dirusak dan diganti dengan tanaman sawit, alam kehilangan daya dukungnya. Akibatnya banjir dan bencana menjadi bagian dari kehidupan kita,” tegasnya.

Menurutnya, keserakahan dan ambisi ekonomi yang mengabaikan etika dan keberlanjutan telah menjadi salah satu bentuk kegelapan zaman yang harus dilawan dengan terang kasih.

Natal dan Tanggung Jawab Moral

Romo Edi menegaskan bahwa Natal adalah perwujudan kasih karunia Allah yang mengajak umat untuk meninggalkan kejahatan dan ambisi duniawi. Ia mengingatkan bahwa keadilan, penghormatan terhadap martabat manusia, serta solidaritas kepada kaum lemah dan miskin merupakan nilai utama yang harus dihidupi.

Selain itu, umat diajak untuk menjaga kelestarian bumi sebagai rumah bersama. Tanpa kepedulian terhadap lingkungan, menurutnya, kehidupan manusia justru akan saling menghancurkan.

“Menerima Immanuel berarti kita meneladani Yesus: hidup benar, berbuat baik, dan peduli pada sesama serta alam ciptaan,” katanya.

Ia juga mengingatkan bahwa kabar kelahiran Yesus pertama kali dimaklumkan kepada para gembala, sebagai tanda bahwa Allah hadir dalam kesederhanaan, yang dilambangkan dengan palungan.

Menutup homilinya, Romo Edi mengajak umat untuk tetap bersyukur di tengah kehidupan yang sulit.

“Di tengah situasi yang tidak mudah, kita tetap bersyukur karena kita memiliki Yesus, Sang Terang Dunia,” tutupnya.

Perayaan Misa Malam Natal di Gereja Katedral Jakarta berlangsung tertib dan penuh kekhusyukan, sekaligus menjadi pengingat bahwa iman juga menuntut tanggung jawab moral terhadap sesama dan alam.

 

 

Komentar