Pengakuan Sejarah Gayo Menguat, Museum Negeri Gayo Didorong Jadi Pusat Peradaban
ASKARA - Pemerintah Pusat dinilai semakin menunjukkan komitmennya dalam mengakui sejarah panjang peradaban Gayo melalui dukungan terhadap pendirian dan pengembangan Museum Negeri Gayo di Kabupaten Aceh Tengah. Dukungan tersebut diwujudkan dengan alokasi Dana Alokasi Khusus (DAK) Nonfisik lebih dari Rp700 juta per tahun untuk mendukung operasional dan pengembangan museum.
Ketua Umum Pasak Opat Negeri Linge, Zamzam Mubarak, mengatakan keberadaan Museum Negeri Gayo menjadi langkah strategis untuk mengaktualisasikan sejarah dan identitas masyarakat Gayo yang selama ini lebih dikenal melalui komoditas Kopi Arabika, padahal memiliki jejak peradaban yang membentang sejak masa prasejarah hingga era Kerajaan Linge.
"Museum bukanlah benda mati. Museum adalah ruang kreativitas dan pembelajaran interaktif tentang peradaban," ujar Zamzam di Takengon, Selasa (22/7/2026).
Menurutnya, revitalisasi Museum Negeri Gayo merupakan bagian penting dalam menjaga warisan sejarah sekaligus memperkuat jati diri masyarakat. Ia menilai pembangunan daerah akan kehilangan arah apabila tidak berpijak pada sejarah dan identitas budaya.
"Revitalisasi Museum Negeri Gayo menjadi keharusan. Ini bukan hanya untuk menjaga warisan, tetapi juga memperkuat identitas dan semangat masyarakat," katanya.
Dukung Pariwisata Nasional
Zamzam menjelaskan, keberadaan Museum Negeri Gayo juga selaras dengan penetapan Aceh Tengah sebagai Kawasan Strategis Pariwisata Nasional (KSPN). Museum diharapkan berkembang tidak hanya sebagai tempat penyimpanan koleksi sejarah, tetapi juga menjadi pusat riset, edukasi, dan wisata budaya yang mampu menarik wisatawan domestik maupun mancanegara.
"Epicentrum keistimewaan Aceh adalah Gayo dan peradaban Kerajaan Linge. Karena itu, sejarah besar Gayo harus menjadi dasar dalam setiap kebijakan pembangunan daerah," ujarnya.
Menjaga Memori Kebangsaan
Menjelang peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia ke-81, Zamzam mengingatkan pentingnya menjaga memori kolektif bangsa, termasuk kontribusi masyarakat Gayo dalam perjalanan sejarah Indonesia.
Ia menyinggung peran Radio Rimba Raya yang menjadi salah satu simbol perjuangan mempertahankan kedaulatan Indonesia pada masa revolusi kemerdekaan.
"Melupakan Gayo sama dengan melupakan titik nol peradaban Aceh dan melupakan sejarah besar nasionalisme bangsa Indonesia. Bahkan sebelum Pancasila disahkan, Gayo telah memiliki suprastruktur yang dirangkum dalam 45 Pasal Adat Negeri Gayo," katanya.
Usulkan Ceruk Mendale Jadi Cagar Budaya Dunia
Selain penguatan museum, Zamzam juga mendorong pemerintah mempercepat penetapan berbagai situs bersejarah di kawasan Gayo sebagai cagar budaya, terutama setelah bencana alam yang melanda wilayah tersebut pada 26 November 2025.
Salah satu usulan yang disampaikan adalah menjadikan Ceruk Mendale sebagai cagar budaya dunia karena dinilai memiliki nilai arkeologis dan sejarah yang penting.
Ia berharap pemerintah daerah, komunitas adat, akademisi, dan masyarakat dapat bersinergi menghidupkan Museum Negeri Gayo melalui berbagai kegiatan edukasi dan kebudayaan.
"Museum harus menjadi penjaga peradaban yang hidup, bukan sekadar gedung penyimpan koleksi sejarah," pungkasnya.

Komentar