Kamis, 23 Juli 2026 | 07:14
COMMUNITY

Hari Anak Nasional 2026, Liza Maria Dorong Lahirnya Generasi Kreator Digital Indonesia

Hari Anak Nasional 2026, Liza Maria Dorong Lahirnya Generasi Kreator Digital Indonesia
Lisa Maria di acara Anugerah Anak Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) (Dok Pribadi)

ASKARA - Momentum Hari Anak Nasional 2026 dimaknai praktisi media dan pemerhati program anak, Liza Maria, sebagai saat yang tepat untuk memperkuat ruang kreativitas anak Indonesia di era digital. Berbekal pengalaman lebih dari 30 tahun di industri penyiaran televisi nasional, ia mendorong lahirnya generasi kreator yang mampu menghasilkan karya berkualitas dan berdaya saing internasional.

Komitmen tersebut mengantarkan Liza kembali dipercaya menjadi Assistant Board of Indonesia pada Southeast Asia Video Festival for Children (SEAVFC) atau Festival Video Anak ASEAN. Selain itu, ia juga telah tiga kali dipercaya sebagai dewan juri pada penyelenggaraan SEAVFC di Filipina (2018), Malaysia (2024), dan Thailand (2025).

"Latar belakang saya memang di dunia televisi. Saya pernah berkarya di SCTV, TV7, Trans7 hingga Rajawali Televisi selama lebih dari 30 tahun. Selama itu pula saya banyak memproduksi program berbasis video. Mungkin pengalaman itulah yang menjadi salah satu alasan saya dipercaya menjadi juri dan terus memiliki kepedulian terhadap pengembangan kreativitas anak," ujar Liza.

Menurutnya, pemilihan dewan juri dilakukan secara selektif dengan mempertimbangkan rekam jejak, kompetensi profesional, serta kontribusi dalam menghadirkan konten ramah anak di kawasan ASEAN.

Perjalanan Liza dalam dunia program anak dimulai sejak awal 2000-an. Pada 2003, ia memproduksi sinetron drama musikal anak Amelia yang tayang di RCTI dengan mengangkat lagu-lagu karya maestro musik anak A.T. Mahmud. Program tersebut meraih penghargaan Sinetron Anak Terpuji pada Festival Film Bandung.

Saat bergabung dengan Rajawali Televisi, Liza kembali menghadirkan program anak seperti Pesta Sahabat dan Dubidubidam. Kedua program itu turut mengantarkan stasiun televisi tersebut meraih tiga penghargaan Anugerah Anak Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) untuk kategori Program Anak Terbaik.

"Sejak lama saya memang fokus pada konten anak. Dari sinetron musikal hingga program televisi yang memberi ruang bagi kreativitas mereka. Itu yang membuat saya semakin yakin untuk terus mendukung lahirnya talenta kreatif anak Indonesia," katanya.

Liza menilai perkembangan teknologi digital membuka peluang besar bagi anak-anak untuk belajar membuat video, fotografi, menulis naskah, hingga mengedit konten secara mandiri. Namun, ia mengingatkan agar pemanfaatan teknologi diimbangi dengan pendidikan karakter dan nilai-nilai positif.

"Jangan hanya membuat konten demi viral. Anak-anak perlu menghasilkan karya yang memiliki pesan, manfaat, dan menjadi kebanggaan Indonesia," ujarnya.

Menurut Liza, karya video berdurasi singkat sekalipun dapat memberikan dampak besar jika didukung cerita yang kuat, kreativitas, dan nilai edukatif. Melalui ajang SEAVFC, karya-karya tersebut bahkan berpeluang mewakili Indonesia di tingkat ASEAN.

Dalam peringatan Hari Anak Nasional 2026, Liza juga mengajak anak-anak Indonesia untuk terus mengembangkan kemampuan kreatif sebagai bekal menghadapi persaingan global.

"Jangan takut berkreasi. Terus belajar menulis, membuat video, fotografi, editing, hingga bercerita. Semua keterampilan itu akan menjadi modal penting di masa depan," katanya.

Ia menegaskan, pengembangan talenta anak tidak bisa hanya mengandalkan sekolah. Orang tua, pemerintah, media, komunitas, dan berbagai pemangku kepentingan perlu membangun ekosistem yang mendukung tumbuhnya kreativitas anak di seluruh Indonesia, termasuk di daerah-daerah.

"Indonesia bukan hanya Jakarta atau kota besar. Anak-anak di daerah juga memiliki potensi luar biasa. Yang mereka butuhkan adalah kesempatan, pendampingan, dan ruang untuk menunjukkan kemampuan mereka," tutur Liza.

Ia optimistis, melalui pembinaan yang berkelanjutan dan ajang seperti SEAVFC, akan lahir semakin banyak generasi muda Indonesia yang mampu berprestasi di tingkat internasional sekaligus menciptakan lapangan kerja melalui kreativitas di bidang industri kreatif.

 

Komentar