Nusantara Centre: Industrialisasi Kunci Wujudkan Ekonomi Pancasila Berdaulat
ASKARA - Nusantara Centre menegaskan bahwa industrialisasi merupakan pilar utama dalam mewujudkan Ekonomi Pancasila yang berdaulat dan berkeadilan. Gagasan tersebut menjadi fokus kertas kerja keempat dalam rangkaian program Investasi, Inovasi, Hilirisasi, dan Industrialisasi (4i) yang tengah digelar melalui forum diskusi, seminar, riset, hingga penyusunan buku sebagai upaya memperkuat kedaulatan ekonomi nasional.
Dalam keterangan tertulis yang disampaikan Yudhie Haryono dan Agus Rizal dari Nusantara Centre, disebutkan bahwa pembahasan tersebut menjadi pengantar menjelang forum lanjutan di Semarang, sebelum ditutup melalui simposium dan peluncuran buku serta jurnal di Denpasar.
Menurut Yudhie dan Agus, kebangkitan Indonesia tidak cukup hanya bertumpu pada aspek budaya, agama, ekonomi, teknologi, maupun politik. Perubahan yang mendasar, kata mereka, harus diawali dari cara berpikir bangsa dalam menempatkan industrialisasi sebagai fondasi kedaulatan ekonomi nasional.
"Kami meyakini industrialisasi merupakan cara untuk memastikan nilai-nilai Pancasila dan amanat konstitusi benar-benar diwujudkan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara," tulis Yudhie dan Agus.
Dalam kajian tersebut, Nusantara Centre juga menawarkan konsep Panca Dharma sebagai penjabaran nilai-nilai Pancasila, yakni rekonstitusi, nasionalisasi, rekapitalisasi, refinansialisasi, dan reindustrialisasi. Kelima agenda itu dinilai penting untuk menjawab berbagai tantangan strategis yang dihadapi Indonesia.
Mereka menilai Indonesia saat ini menghadapi sejumlah persoalan mendasar, mulai dari melemahnya kualitas tata kelola negara, fragmentasi kehidupan sosial, perubahan orientasi masyarakat yang cepat, lemahnya daya saing elite, hingga sistem pendidikan yang dinilai belum mampu membangun visi masa depan bangsa.
Sebagai ilustrasi, Nusantara Centre menyoroti persoalan korupsi, pencemaran lingkungan, limbah industri, hingga rendahnya kualitas pelayanan publik sebagai tantangan yang harus diatasi melalui pembangunan ekonomi yang lebih produktif dan berbasis industri.
Dalam pandangan mereka, sektor industri memiliki peran strategis karena mampu menciptakan nilai tambah, membuka lapangan kerja, sekaligus menjadi instrumen efektif untuk menekan kemiskinan, pengangguran, dan meningkatkan kualitas sumber daya manusia.
Namun demikian, Nusantara Centre mengingatkan bahwa Indonesia saat ini justru menghadapi gejala deindustrialisasi yang ditandai dengan menurunnya kontribusi sektor industri terhadap produk domestik bruto (PDB), berkurangnya daya serap tenaga kerja, serta melemahnya jumlah perusahaan industri dalam lebih dari satu dekade terakhir.
"Kondisi ini membuat Indonesia berisiko hanya menjadi negara konsumen. Karena itu, reindustrialisasi harus menjadi agenda nasional agar bangsa ini kembali memiliki daya saing global," ujar mereka.
Nusantara Centre mendorong pembangunan arsitektur industri nasional yang mencakup sektor pertanian, kesehatan, kelautan, peternakan, perikanan, industri digital, teknologi informasi, keuangan, industri pertahanan, hingga sektor strategis seperti energi berkelanjutan, penerbangan, satelit, dan teknologi nuklir.
Menurut Yudhie dan Agus, pembangunan industri tersebut harus tetap berpijak pada prinsip keberlanjutan, menghormati lingkungan, serta menempatkan manusia sebagai pusat pembangunan sesuai nilai-nilai Pancasila.
Mereka berharap gagasan mengenai reindustrialisasi dapat memperkaya diskursus publik sekaligus menjadi masukan bagi perumusan kebijakan pembangunan ekonomi nasional yang lebih berdaulat, inklusif, dan berorientasi pada kesejahteraan rakyat.

Komentar