Nusantara Centre: Investasi Berkeadilan Harus Menjadi Fondasi Ekonomi Pancasila
ASKARA – Nusantara Centre meluncurkan gagasan "Investasi, Inovasi, Hilirisasi, dan Industrialisasi (4i)" sebagai upaya memperkuat diskursus mengenai kedaulatan ekonomi nasional. Program tersebut akan diwujudkan melalui rangkaian focus group discussion (FGD), seminar, riset, hingga penulisan buku yang diawali di Jakarta dan dilanjutkan di Medan, Bandung, Semarang, serta Denpasar.
Dalam kertas kerja perdana bertajuk "Investasi Berkeadilan: Fondasi Ekonomi Pancasila", Yudhie Haryono dan Agus Rizal dari Nusantara Centre menilai Indonesia perlu mengubah paradigma pembangunan ekonomi yang selama ini dinilai terlalu bergantung pada investasi asing.
Menurut keduanya, investasi memang merupakan instrumen penting dalam mendorong pertumbuhan ekonomi. Namun, investasi tidak boleh ditempatkan sebagai tujuan akhir pembangunan, melainkan sebagai sarana untuk mewujudkan kemandirian ekonomi, kemakmuran rakyat, dan keadilan sosial sebagaimana diamanatkan dalam nilai-nilai Pancasila.
Mereka menyoroti kecenderungan negara berkembang yang didorong membuka pasar seluas-luasnya bagi modal asing. Padahal, sejarah menunjukkan banyak negara maju justru membangun industrinya melalui kebijakan proteksi, subsidi, serta pengendalian investasi asing pada tahap awal pembangunan.
Nusantara Centre mengingatkan adanya fenomena kicking away the ladder, yakni kondisi ketika negara-negara yang telah maju mendorong negara berkembang menerapkan pasar bebas setelah mereka sendiri berhasil tumbuh melalui kebijakan ekonomi yang proteksionis.
Dalam kajian tersebut disebutkan bahwa ketergantungan terhadap investasi asing berpotensi menimbulkan kerentanan ekonomi, terutama ketika terjadi arus keluar modal (capital flight) saat krisis global. Karena itu, investasi lokal dinilai harus menjadi pilar utama dalam menjaga stabilitas ekonomi nasional.
Yudhie Haryono dan Agus Rizal menilai pemerintah perlu membangun ekosistem yang kondusif bagi investor domestik melalui kepastian hukum, kemudahan pembiayaan, dukungan riset, serta berbagai insentif yang mampu mendorong pelaku usaha nasional menanamkan modalnya di dalam negeri.
Mereka juga menekankan pentingnya menjaga sektor-sektor strategis, seperti energi, pangan, infrastruktur, dan teknologi dasar agar tetap berada dalam kendali nasional. Menurut mereka, penguasaan sektor-sektor tersebut oleh modal asing berpotensi mengurangi manfaat ekonomi yang seharusnya dinikmati masyarakat Indonesia.
Dalam pandangan Nusantara Centre, investasi asing tetap dibutuhkan, namun harus ditempatkan sebagai mitra yang mendukung kepentingan nasional melalui skema yang mewajibkan transfer teknologi, penggunaan komponen dalam negeri, serta regulasi yang menjamin negara tetap memiliki kendali atas aset-aset strategis.
Melalui program 4i, Nusantara Centre berharap lahir berbagai rekomendasi kebijakan yang mampu memperkuat investasi domestik, mendorong inovasi, mempercepat hilirisasi, serta memperkokoh industrialisasi nasional sebagai fondasi menuju Indonesia yang mandiri secara ekonomi.
"Sudah saatnya para pemimpin bangsa mengalihkan fokus dari sekadar menarik modal asing menjadi membangun ekosistem investasi domestik yang inklusif. Dengan memperkuat investasi lokal, menghargai inovasi anak bangsa, dan menjaga kedaulatan regulasi nasional, Indonesia dapat berdiri sebagai bangsa yang merdeka secara ekonomi," demikian salah satu kesimpulan dalam kertas kerja tersebut.

Komentar