Minggu, 12 Juli 2026 | 00:05
OPINI

Kesaksian Sang Ipar yang Mengubah Cara Kita Mengenal W.R. Soepratman

Ditulis hanya tujuh minggu setelah wafatnya W.R. Soepratman, artikel Oerip Kasansengari menjadi salah satu kesaksian keluarga paling awal yang menelusuri kehidupan sang pencipta Indonesia Raya.

Kesaksian Sang Ipar yang Mengubah Cara Kita Mengenal W.R. Soepratman
Halaman rubrik “Babad” dalam Panjebar Semangat edisi 8 Oktober 1938 yang memuat riwayat hidup W.R. Soepratman karya Mas Oerip Kasansengari (kiri), berdampingan dengan sampul buku biografinya terbitan 1967 (kanan). (Arsip YWRS–MCJ)

Oleh: Dr. Dario Turk

ASKARA — Hanya tujuh minggu setelah Wage Rudolf Soepratman wafat, seorang anggota keluarganya menuliskan riwayat hidup sang pencipta Indonesia Raya. Selama hampir sembilan puluh tahun, naskah itu nyaris tak pernah dibaca sebagai salah satu sumber primer keluarga paling awal mengenai kehidupan W.R. Soepratman. Penulisnya adalah Oerip Kasansengari — ipar sekaligus saksi mata hari-hari terakhir sang komponis.

Tulisan berjudul “Babad W.R. Soepratman” itu dimuat dalam majalah berbahasa Jawa Panjebar Semangat edisi 8 Oktober 1938. Artikel itu kelak menjadi cikal bakal buku biografi “Lagu Kebangsaan Indonesia Raya dan W.R. Soepratman Pentjiptanja” yang diterbitkan Oerip hampir tiga puluh tahun kemudian, pada 1967. Kini, setelah hampir sembilan dekade, naskah 1938 itu dibaca ulang, direkonstruksi, dan dialihbahasakan ke dalam Bahasa Indonesia modern dengan tetap mempertahankan urutan, isi, dan sudut pandang penulis aslinya. Rekonstruksi ini membuka kembali akses pembaca Indonesia terhadap sumber yang selama puluhan tahun hanya tersedia dalam bahasa Jawa dan hampir tidak pernah dikutip secara utuh dalam penulisan sejarah W.R. Soepratman.

Bukan Penulis Biasa

Nama Oerip Kasansengari nyaris tak pernah muncul dalam pembahasan sejarah Indonesia Raya, padahal kedudukannya penting. Huruf “M.” di depan namanya adalah singkatan dari Mas, sebagaimana dijelaskan oleh putranya, Soerachman Kasansengari.

Ia tidak menulis berdasarkan cerita yang didengar kemudian, melainkan dari pengalaman, kedekatan keluarga, serta keterangan yang diperoleh langsung dari orang-orang yang hidup bersama Soepratman. Oerip adalah ipar sekaligus kerabat dekat W.R. Soepratman: adik kandungnya, Bero Santoso Kasansengari, memperistri Gijem Soepratinah — adik kandung sang komponis — sehingga kedua keluarga menyatu. Selain sebagai keluarga, ia aktif dalam kepanduan Parindra dan menjabat Sekretaris Kwartir Besar Surya Wirawan pada 1932–1941 — korps yang Fluitkorps-nya dilatih sendiri oleh Soepratman.

Kedekatan hubungan mereka bahkan terekam dalam naskah itu sendiri. Menjelang akhir hayatnya, Soepratman memanggil sang ipar hanya dengan satu sapaan sederhana: “Rip”. Sapaan singkat itu menunjukkan bahwa Oerip bukan sekadar penulis biografi, melainkan orang yang benar-benar berada di sisi ranjang sang komponis ketika kata-kata terakhir itu diucapkan. Dalam penelitian sejarah, detail kecil semacam ini sering menjadi petunjuk penting bahwa penulis memang berada di dalam lingkaran peristiwa yang diceritakannya.

Riwayat yang Ditulis Orang Terdekat

Berbeda dengan biografi yang muncul jauh sesudahnya, artikel ini ditulis ketika ingatan para pelaku masih segar. Di dalamnya tersusun kronologi hidup Soepratman sejak kecil hingga wafat: lahir pada tanggal 9 Maret 1903, weton Wage — dinamai “Wage” sesuai hari pasaran kelahirannya — bersekolah di Boedi Oetomo, lalu menempuh pendidikan di Makassar mengikuti kakak iparnya, W.M. van Eldik, yang memberinya nama tambahan “Rudolf”.

Dari titik inilah riwayat itu membawa pembaca ke dunia yang paling dekat dengan jiwanya: pers dan musik. Ia menekuni jurnalistik — dari Kaoem-Moeda hingga Sin Po — sembari melahirkan karya demi karya, dari Kepandoean Bangsa Indonesia (1927) dan Indonesia Raja (1928, kelak dikenal sebagai Indonesia Raya) hingga Matahari Terbit, Parindra, Surya Wirawan, dan Indonesia Moeda. Namun kekuatan naskah ini bukan pada daftar itu, melainkan pada apa yang hanya bisa dicatat oleh orang yang hadir.

Kesaksian yang Sangat Personal

Nilai terpenting artikel ini terletak pada bagian yang tak ditemukan dalam dokumen resmi. Oerip mencatat bagaimana Soepratman, meski sakit keras, tetap memaksakan diri mengiringi prosesi pemakaman Dr. R. Soetomo, hingga akhirnya harus pulang karena tak sanggup menahan sakit. Di rumah, ia berkata:

“Rip, kalau saya terus-menerus sakit seperti ini, mungkin tiga bulan lagi saya pasti mati. Namun tidak apa-apa, asalkan kematian saya ini diakui di dalam kalangan Parindra, saya sudah merasa puas.”

Firasat itu menjadi kenyataan. Sekitar tiga bulan setelah wafatnya Dr. Soetomo, W.R. Soepratman meninggal dunia pada dini hari 17 Agustus 1938 di Surabaya, dalam usia sekitar 35 tahun. Menjelang embusan napas terakhir, Oerip kembali mencatat ucapan yang didengar langsung oleh keluarga:

“Ya, saudara-saudaraku semua, maafkanlah aku, aku sudah tidak kuat lagi, aku mau tidur.”

Setelah mengucapkan kalimat itu, menurut Oerip, Soepratman memeluk gulingnya dan berpulang dengan tenang.

Tidak Hanya Pencipta Lagu Kebangsaan

Artikel ini juga memperlihatkan sisi Soepratman yang jarang dibahas: ia bukan hanya komponis dan wartawan, tetapi juga seorang dermawan. Atas persetujuan keluarga, naskah asli (origineel) lagu-lagunya diserahkan kepada Pengurus Besar Parindra. Bahkan hak penerbitan potret dirinya diberikan kepada Panjebar Semangat, dengan ketentuan 20 persen hasil penjualannya disumbangkan kepada Perkoempoelan Pemeliharaan Anak Jatim (P.P.A.J.), lembaga sosial bentukan Parindra di Surabaya. Bagi Oerip, tindakan itu menjadi bukti bahwa Soepratman tidak hanya mewariskan karya, tetapi juga keteladanan. Melalui catatan Oerip, terlihat bahwa Soepratman memandang karya bukan sekadar milik pribadi, melainkan bagian dari pengabdiannya kepada masyarakat dan perjuangan bangsa.

Sebuah Amanah yang Dipikul Belasan Tahun

Mengapa Oerip menuliskan semua ini — dua kali, terpaut hampir tiga dasawarsa — bukan kebetulan. Pada 1951, W.M. van Eldik, kakak ipar Soepratman sekaligus guru musik Barat pertamanya, memberi Oerip keterangan rinci tentang kehidupan sang komponis selama dalam asuhannya di Makassar (1914–1924). Setahun kemudian, pada 1952, van Eldik memintanya menulis dan menerbitkan riwayat itu agar diketahui umum secara benar.

Amanah itu tidak langsung diwujudkan. Oerip memikul amanah itu selama belasan tahun sebelum akhirnya mewujudkannya dalam sebuah buku. Dorongan akhir datang pada 1964, ketika para mahasiswa Indonesia di luar negeri menanyakan riwayat Soepratman kepada R. Moeljono Soerjopramono, Sekretaris Umum Panitia Monumen W.R. Soepratman. Barulah pada Mei 1967, di Surabaya, Oerip menuntaskan buku “Lagu Kebangsaan Indonesia Raya dan W.R. Soepratman Pentjiptanja” — yang kata pengantarnya secara eksplisit diberi judul “Keluarga W.R. Soepratman”. Bagi Oerip, ini bukan sekadar menulis, melainkan menunaikan amanah sejarah. Dengan demikian, buku 1967 bukanlah karya yang lahir tiba-tiba, melainkan puncak dari amanah yang telah dipikul Oerip selama lebih dari lima belas tahun.

Meluruskan Kronologi Karya

Salah satu temuan penting dari naskah ini adalah koreksi terhadap kronologi karya Soepratman. Selama ini lagu Matahari Terbit sering dianggap sebagai karya terakhirnya pada 1938. Padahal Oerip mencatat lagu itu digubah pada 1935, ketika Soepratman beristirahat memulihkan diri di Randudongkal (Pemalang). Adapun karya-karya terakhir yang lahir di Surabaya pada 1937 adalah Parindra, Surya Wirawan, dan Indonesia Moeda. Perbedaan kecil ini penting agar kronologi akhir hayat sang komponis tidak bergeser.

Mengapa Kesaksian Ini Layak Dibaca Ulang

Nilai sebuah dokumen sejarah tidak hanya ditentukan oleh usianya, tetapi juga oleh kedekatan penulisnya dengan peristiwa yang dicatat. Dalam hal itulah tulisan Oerip Kasansengari memiliki arti penting: ia ditulis oleh anggota keluarga, saksi sezaman, dan kemudian diperkuat kembali melalui buku biografi yang disusunnya hampir tiga dasawarsa kemudian.

Dengan dasar itu, dapat dikatakan bahwa artikel 1938 karya Oerip Kasansengari merupakan salah satu sumber primer keluarga yang paling awal dan paling penting mengenai kehidupan W.R. Soepratman. Terbit 52 hari setelah sang komponis wafat, ditulis oleh keluarga yang menyaksikan langsung, lalu diperkuat buku 1967 — menjadikannya salah satu kesaksian keluarga yang paling dekat dengan kehidupan W.R. Soepratman yang diketahui hingga kini.

Melalui artikel tahun 1938 dan buku biografi tahun 1967, Oerip Kasansengari bukan sekadar mengenang iparnya. Ia menjaga agar perjalanan hidup W.R. Soepratman tetap berlandaskan pada kesaksian orang-orang yang benar-benar mengenalnya. Hampir sembilan puluh tahun kemudian, catatan itu tetap mengingatkan kita bahwa sejarah bangsa tidak hanya dibangun oleh tokoh-tokoh besar, tetapi juga diselamatkan oleh mereka yang memilih untuk mencatatnya.

 

Sumber kutipan: alih bahasa dari M. Oerip Kasansengari, “Babad W.R. Soepratman”, Panjebar Semangat, Tahun VI No. 6, Surabaya, 8 Oktober 1938.

* Penulis adalah Pembina Yayasan W.R. Soepratman – Meester Cornelis Jatinegara serta peneliti sejarah W.R. Soepratman, “Indonesia Raya”, dan periode pergerakan nasional Indonesia (1900–1945), berbasis di Jakarta.

Komentar