Minggu, 14 Juni 2026 | 02:45
NEWS

Samuel Silaen: Saat Kaum Cerdas Memilih Diam, Rakyat yang Menanggung Akibatnya

Samuel Silaen: Saat Kaum Cerdas Memilih Diam, Rakyat yang Menanggung Akibatnya
Samuel Silaen (Dok Panca)

ASKARA - Pengamat politik dan kebijakan publik Samuel F. Silaen melontarkan kritik tajam terhadap kondisi ruang publik di Indonesia yang dinilainya tengah mengalami krisis keberanian moral. Menurutnya, persoalan bangsa saat ini bukan terletak pada minimnya sumber daya manusia berkualitas, melainkan semakin sedikitnya orang-orang berilmu yang berani berdiri di pihak kebenaran.

Dalam keterangannya kepada awak media, Sabtu (13/6/2026), Samuel mengatakan Indonesia sesungguhnya tidak kekurangan akademisi, profesor, profesional, maupun pakar yang memiliki kemampuan intelektual tinggi. Namun, banyak di antara mereka justru memilih diam ketika melihat ketidakadilan atau kebijakan yang tidak berpihak kepada kepentingan rakyat.

"Indonesia tidak kekurangan orang pintar. Yang semakin langka adalah keberanian moral. Ketika orang-orang yang memahami persoalan memilih bungkam, maka rakyatlah yang akhirnya menjadi korban," kata Samuel.

Menurutnya, fenomena tersebut semakin mengkhawatirkan karena banyak kalangan terdidik lebih memilih mempertahankan kenyamanan, jabatan, dan akses kekuasaan dibanding mengambil risiko untuk menyampaikan kritik yang konstruktif.

"Banyak yang tahu ada masalah, tetapi memilih diam demi menjaga posisi dan kepentingannya sendiri. Padahal sejarah membuktikan, perubahan tidak pernah lahir dari sikap aman dan nyaman," ujarnya.

Samuel menilai pragmatisme yang semakin mengakar dalam kehidupan politik dan sosial telah menggerus fungsi kelompok intelektual sebagai penjaga nurani publik. Akibatnya, ruang demokrasi kehilangan suara-suara kritis yang seharusnya menjadi penyeimbang terhadap kekuasaan.

Ia mengingatkan bahwa kecerdasan tanpa integritas dan keberanian hanya akan melahirkan kelompok teknokrat yang sibuk menghitung untung-rugi politik, namun kehilangan keberpihakan terhadap kepentingan masyarakat luas.

"Orang cerdas yang takut bersuara justru bisa lebih berbahaya daripada orang yang tidak tahu apa-apa. Sebab mereka memahami masalah, tetapi membiarkan ketidakadilan berlangsung tanpa perlawanan moral," tegasnya.

Samuel mengatakan sejarah bangsa-bangsa besar menunjukkan bahwa perubahan selalu digerakkan oleh mereka yang memiliki keberanian mengambil sikap, bahkan ketika harus menghadapi tekanan dan konsekuensi yang tidak ringan.

Sebaliknya, ketika kaum intelektual memilih diam, ruang publik akan dengan mudah dikuasai kepentingan-kepentingan sempit yang belum tentu sejalan dengan aspirasi rakyat.

"Ketika orang-orang cerdas tak lagi berani, maka yang menang adalah kepentingan segelintir orang. Dan yang paling dirugikan adalah rakyat," katanya.

Menurut Samuel, ukuran kemajuan bangsa tidak cukup dilihat dari pembangunan fisik, pertumbuhan ekonomi, maupun kemajuan teknologi. Lebih dari itu, kualitas sebuah negara ditentukan oleh keberanian masyarakatnya dalam menjaga etika, integritas, serta menegakkan nilai-nilai kebenaran.

Karena itu, ia mengajak kalangan akademisi, mahasiswa, pemuda, dan seluruh elemen masyarakat untuk kembali menghidupkan budaya kritis serta keberanian moral dalam mengawal kehidupan demokrasi.

"Bangsa yang besar tidak dibangun oleh orang-orang yang hanya pandai berpikir, tetapi oleh mereka yang berani membela kebenaran. Jika keberanian itu hilang, maka kepentingan rakyat akan terus dikorbankan," pungkas Samuel F. Silaen.

 

Komentar