Rabu, 22 Juli 2026 | 19:04
COMMUNITY

Memahami Muhammadiyah Salafi Dan NU Bijak

Memahami Muhammadiyah Salafi Dan NU Bijak
Ilustrasi

ASKARA - Di tengah masyarakat Muslim Indonesia, nama Muhammadiyah, Salafi, dan Nahdlatul Ulama sering terdengar dalam pengajian, media sosial, hingga percakapan sehari-hari. Sebagian orang memahami perbedaannya dengan baik, tetapi tidak sedikit pula yang bingung bahkan saling menilai secara berlebihan. Padahal ketiganya sama-sama berada dalam lingkup Islam dan memiliki tujuan mengajak umat mendekat kepada Allah serta mengikuti ajaran Nabi Muhammad ﷺ dengan keyakinan dan cara yang mereka pahami.

Islam sejak awal mengajarkan persaudaraan dan adab dalam menyikapi perbedaan. Karena itu, memahami Muhammadiyah, Salafi, dan NU sebaiknya dilakukan dengan tenang, adil, dan penuh penghormatan. Jangan sampai perbedaan cara ibadah atau metode dakwah justru membuat sesama Muslim saling merendahkan. Sebab yang paling utama dalam Islam bukan sekadar perdebatan, tetapi keikhlasan, ilmu, dan akhlak mulia.

Allah ﷻ berfirman:

"وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا"

Artinya:
“Berpegang teguhlah kalian semuanya kepada tali Allah dan jangan bercerai-berai.”
(QS. Ali ‘Imran: 103)

Muhammadiyah merupakan organisasi Islam besar di Indonesia yang didirikan oleh KH Ahmad Dahlan pada tahun 1912. Organisasi ini dikenal sebagai gerakan pembaruan Islam atau tajdid. Muhammadiyah lahir dalam suasana masyarakat yang saat itu membutuhkan kemajuan pendidikan, kesehatan, dan pembinaan sosial umat. Karena itu Muhammadiyah sangat terkenal dengan sekolah, universitas, rumah sakit, dan kegiatan sosial yang luas.

Dalam bidang keagamaan, Muhammadiyah mengajak umat kembali kepada Al-Qur’an dan hadis dengan pendekatan yang dianggap lebih praktis dan sederhana. Muhammadiyah cenderung berhati-hati terhadap amalan yang dinilai tidak memiliki dasar kuat dari Nabi Muhammad ﷺ. Karena itu beberapa tradisi keagamaan yang umum di masyarakat, seperti tahlilan atau zikir tertentu secara berjamaah, tidak terlalu ditekankan dalam Muhammadiyah.

Namun perlu dipahami bahwa Muhammadiyah tetap mengajarkan dakwah yang santun dan menghormati sesama Muslim. Fokus utama Muhammadiyah adalah pendidikan, pembinaan akhlak, dan kemajuan umat Islam agar tidak tertinggal dalam ilmu pengetahuan maupun kehidupan sosial.

Sementara itu, kelompok yang dikenal sebagai Salafi memiliki semangat kuat untuk mengikuti ajaran generasi awal Islam yang disebut salafus shalih, yaitu para sahabat Nabi ﷺ, tabi’in, dan tabi’ut tabi’in. Sebagian masyarakat menyebut mereka Wahabi, meskipun banyak pengikutnya lebih senang disebut Salafi.

Salafi sangat menekankan pentingnya tauhid dan kemurnian ibadah kepada Allah. Mereka sangat berhati-hati terhadap segala bentuk praktik yang dianggap dapat membawa kepada syirik atau bid‘ah. Karena itu kelompok Salafi sering mengkritik tradisi tertentu yang berkembang di masyarakat apabila dianggap tidak memiliki contoh langsung dari Nabi ﷺ dan para sahabat.

Dalil yang sering mereka tekankan adalah firman Allah:

"إِيَّاكَ نَعْبُدُ وَإِيَّاكَ نَسْتَعِينُ"

Artinya:
“Hanya kepada-Mu kami menyembah dan hanya kepada-Mu kami meminta pertolongan.”
(QS. Al-Fatihah: 5)

Kelompok Salafi juga sering mengingatkan hadis Nabi ﷺ:

"كُلُّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ"

Artinya:
“Setiap bid‘ah adalah kesesatan.”
(HR. Muslim)

Karena itu mereka umumnya tidak menerima praktik seperti tahlilan, maulid Nabi, atau tawassul tertentu yang menurut mereka tidak dicontohkan langsung oleh Rasulullah ﷺ.

Di sisi lain, Nahdlatul Ulama atau NU merupakan organisasi Islam besar yang lahir tahun 1926 melalui perjuangan KH Hasyim Asy’ari dan para ulama pesantren Nusantara. NU dikenal membawa manhaj Ahlussunnah wal Jamaah atau Aswaja dengan pendekatan mazhab, tradisi pesantren, dan dakwah kultural.

NU umumnya mengikuti Mazhab Syafi’i dalam fikih, walaupun tetap menghormati mazhab lain. Berbeda dengan Salafi yang sangat ketat terhadap tradisi, NU lebih terbuka terhadap budaya lokal selama tidak bertentangan dengan syariat Islam.

Karena itu di lingkungan NU berkembang tradisi seperti:
- tahlilan,
- maulid Nabi,
- yasinan,
- ziarah kubur,
- qunut Subuh,
- selawatan,
- dan pengajian kampung.

Bagi warga NU, tradisi seperti itu dipandang sebagai sarana doa, dakwah, dan mempererat hubungan sosial masyarakat Muslim.

NU juga terkenal dengan pendekatan dakwah yang lembut dan dekat dengan budaya masyarakat. Para ulama NU sejak dahulu memakai pendekatan yang bijak dalam menyebarkan Islam di Nusantara sehingga Islam dapat diterima luas tanpa banyak benturan budaya.

Walaupun Muhammadiyah, Salafi, dan NU memiliki banyak perbedaan dalam beberapa masalah ibadah dan tradisi, sebenarnya mereka memiliki persamaan yang sangat besar. Ketiganya sama-sama:
- mengimani Allah dan Rasul-Nya,
- membaca Al-Qur’an,
- melaksanakan shalat,
- berpuasa Ramadan,
- menunaikan zakat,
- dan mencintai Nabi Muhammad ﷺ.

Perbedaan mereka lebih banyak berada pada cara memahami dalil dan metode menjalankan ajaran agama.

Muhammadiyah menekankan pembaruan dan pendidikan.
Salafi menekankan pemurnian tauhid dan sunnah.
NU menekankan mazhab, tradisi ulama, dan dakwah budaya.

Perbedaan seperti ini sebenarnya sudah ada sejak zaman dahulu. Bahkan di kalangan ulama besar pun terdapat perbedaan pendapat dalam masalah cabang agama. Namun para ulama tetap menjaga akhlak dan tidak mudah menghina sesama Muslim.

Imam Syafi’i رحمه الله pernah berkata:

“Pendapatku benar tetapi mungkin salah, dan pendapat orang lain salah tetapi mungkin benar.”

Perkataan ini menunjukkan pentingnya kerendahan hati dalam ilmu agama. Tidak semua perbedaan harus berubah menjadi permusuhan. Dalam Islam, adab lebih tinggi daripada sekadar menang dalam perdebatan.

Nabi Muhammad ﷺ bersabda:

"الْمُسْلِمُ أَخُو الْمُسْلِمِ"

Artinya:
“Seorang Muslim adalah saudara bagi Muslim lainnya.”
(HR. Bukhari dan Muslim)

Karena itu umat Islam perlu belajar memahami perbedaan dengan kepala dingin. Jangan mudah terpengaruh oleh ceramah atau media sosial yang gemar memecah belah umat. Sebab sering kali masalah menjadi besar bukan karena perbedaan itu sendiri, tetapi karena hilangnya adab dan kasih sayang.

Dari Muhammadiyah, umat dapat belajar tentang pentingnya pendidikan, disiplin, dan kemajuan.
Dari Salafi, umat dapat belajar menjaga tauhid dan semangat mengikuti sunnah.
Dari NU, umat dapat belajar kelembutan dakwah, penghormatan kepada ulama, dan pentingnya menjaga tradisi baik masyarakat.

Jika seluruh kebaikan itu dipadukan dengan ilmu dan akhlak, maka umat Islam akan menjadi kuat, damai, dan saling menghormati. Islam bukan agama yang dibangun di atas kebencian, tetapi agama yang mengajarkan hikmah, persaudaraan, dan rahmat bagi seluruh alam.

Allah ﷻ berfirman:

"ادْعُ إِلَىٰ سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ"

Artinya:
“Serulah ke jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik.”
(QS. An-Nahl: 125)

Akhirnya, memahami Muhammadiyah, Salafi, dan NU sebaiknya dilakukan dengan ilmu, bukan prasangka. Dengan begitu, perbedaan tidak akan menjadi sumber perpecahan, tetapi menjadi jalan untuk saling belajar dan memperkuat ukhuwah Islamiyah di tengah keberagaman umat.

Komentar