Rabu, 01 Juli 2026 | 21:20
OPINI

Membangun Wibawa Pokja PWI Jakarta Timur

Membangun Wibawa Pokja PWI Jakarta Timur
Rudolf Simbolon dan Arman Suparman, serta foto para Ketua Pokja PWI Walikota (Dok PWI Jaya)

Oleh: TB Adhi
Wakil Ketua Bidang Kerjasama PWI Jaya

ASKARA - Organisasi yang sehat tidak hanya ditandai dengan adanya kepengurusan, tetapi juga kemampuan untuk terus melakukan evaluasi dan pembenahan. Di tengah dinamika dunia pers yang terus berubah, langkah memperkuat struktur organisasi menjadi kebutuhan penting agar tetap adaptif, efektif, dan relevan menghadapi tantangan zaman.

Hal itulah yang menjadi salah satu pokok pembicaraan dalam diskusi hangat antara Sekretaris Umum PWI Jaya, Arman Suparman, dengan Ketua Pokja PWI Wali Kota Jakarta Timur, Rudolf Simbolon, di penghujung senja Kamis (7/5/2026).

Meski berlangsung santai dan penuh keakraban, pembicaraan keduanya menyentuh persoalan mendasar tentang bagaimana membangun organisasi wartawan yang solid, berwibawa, serta memiliki arah kerja yang jelas. Pokja PWI Wali Kota Jakarta Timur diharapkan tidak sekadar menjadi wadah berkumpul para wartawan, tetapi juga menjadi organisasi yang mampu membangun kolaborasi lintas sektor secara optimal.

Arman Suparman dalam perbincangan tersebut menegaskan bahwa organisasi yang besar lahir dari fondasi yang tertata dengan baik. Menurutnya, keberhasilan sebuah organisasi tidak datang secara instan, melainkan dibangun melalui sistem, tata kelola, dan kepemimpinan yang mampu merangkul seluruh anggotanya.

Keyakinan Arman terhadap Rudolf Simbolon bukan tanpa alasan. Sosok Rudolf dinilai memiliki pendekatan humanis dan rendah hati dalam membangun komunikasi. Ia dianggap mampu menjadikan Sekretariat Pokja PWI Wali Kota Jakarta Timur sebagai rumah bersama yang nyaman bagi seluruh anggota.

Hal itu bahkan sempat disinggung langsung oleh Wali Kota Administrasi Jakarta Timur, Munjirin, saat pengukuhan Rudolf Simbolon sebagai Ketua Pokja definitif pada 30 April lalu.

Dalam sambutannya, Munjirin menyampaikan kesan personal terhadap Rudolf yang dinilainya sederhana dan tidak pernah menuntut berlebihan.

“Bang Rudolf ini tidak pernah meminta-minta pada saya. Tidak pernah marah juga, justru lebih sering mengumbar senyum,” ujar Munjirin kala itu.

Pernyataan tersebut bukan sekadar candaan, melainkan cerminan hubungan baik antara pemerintah daerah dengan insan pers yang selama ini terjalin di Jakarta Timur.

Rudolf Simbolon sendiri terbilang berhasil menjawab tantangan Ketua PWI Jaya, Kesit Budi Handoyo, yang sebelumnya memberinya waktu tiga bulan untuk membentuk kepengurusan definitif sekaligus menghadirkan sekretariat resmi di lingkungan kantor wali kota.

Tantangan itu mampu dijawab dengan cepat. Tidak hanya terbentuknya kepengurusan, Pokja PWI Wali Kota Jakarta Timur kini juga telah memiliki sekretariat yang diresmikan langsung oleh Wali Kota Jakarta Timur.

Momentum pengukuhan tersebut terasa semakin istimewa karena dihadiri para ketua Pokja PWI dari lima wilayah kota administrasi lainnya di Jakarta. Kebersamaan itu menjadi simbol bahwa solidaritas antarwartawan di bawah naungan PWI Jaya tetap terjaga dengan baik.

Namun, pekerjaan besar sesungguhnya baru dimulai. Memiliki sekretariat hanyalah langkah awal. Tantangan berikutnya adalah bagaimana menghadirkan program kerja yang nyata, membangun kualitas anggota, menjaga profesionalisme, dan tetap menjunjung tinggi etika jurnalistik di tengah derasnya arus informasi digital.

Pokja PWI Wali Kota Jakarta Timur kini memiliki peluang besar untuk tumbuh menjadi organisasi wartawan yang tidak hanya aktif secara seremonial, tetapi juga kuat dalam kontribusi pemikiran, edukasi publik, dan penguatan profesi.

Dengan kepemimpinan yang terbuka dan semangat kebersamaan yang terus dijaga, bukan tidak mungkin Pokja PWI Wali Kota Jakarta Timur akan menjadi salah satu barometer organisasi kewartawanan di lingkungan PWI Jaya.

Dan di titik itulah, wibawa organisasi akan tumbuh secara alami, bukan karena jabatan, tetapi karena kerja nyata dan kepercayaan yang dibangun bersama.

 

Komentar