Menyair untuk Nusantara: Catatan dari PPN XIV Aceh
Oleh: Ismunandar
ASKARA - Di Banda Aceh, senja terasa terlambat turun. Setelah berbagai persiapan dan santap malam, barulah pada pukul sembilan malam penutupan Pertemuan Penyair Nusantara (PPN) XIV (28/6) dimulai. Selama sepekan, lebih dari 200 penyair dari 14 negara berkumpul, berdiskusi, dan meneguhkan tekad untuk merawat tradisi. Hadir mewakili Menteri Kebudayaan untuk menutup acara ini, saya merasakan momen yang begitu sakral. Aceh, dengan bentangan sejarahnya yang megah, kembali membuktikan diri sebagai rahim tempat kata-kata menjelma denyut kehidupan.
Malam itu, kompleks Gunongan menjadi saksi magisnya untaian bait. Para maestro lintas negara naik ke panggung. Ada Sutardji Calzoum Bachri, Sang Presiden Penyair, yang melantunkan puisi layaknya mantra purba. Ada pula Jose Rizal Manua serta penyair kenamaan Malaysia yang suaranya membelah keheningan malam. Di bawah langit Aceh, kata-kata bukan lagi sekadar rangkaian diksi di atas kertas, melainkan napas yang membara dan menggetarkan jiwa siapa saja yang mendengarnya.
Namun, bagi saya, magnet terbesar acara ini justru hadir di sela-sela panggung megah itu. Saya beruntung bisa berbincang hangat dengan LK Ara, maestro puisi Tanah Rencong yang kini telah menginjak usia 88 tahun. Dengan tubuh yang masih tegak dan tatapan mata berbinar, pria bernama asli Lesik Kati Ara ini mengisahkan perjalanan kreatifnya yang telah melahirkan sekitar 100 judul buku. Dari Angin Laut Tawar hingga Syair Tsunami, setiap baitnya adalah rekaman memori kolektif sebuah bangsa.
"Puisi itu perlawanan," bisiknya lirih, mengenang era ketika tradisi tutur seperti Hikayat Prang Sabi mampu membakar jubah semangat rakyat melawan kolonialisme. "Tapi sekarang, puisi adalah jembatan," lanjutnya sembari melempar senyum hangat.
Bagi LK Ara, puisi kini menyatukan perbedaan. Di usia senjanya, ia tak berhenti mengedit puluhan antologi sastra dan mendorong penerbitan buku-buku budaya di berbagai daerah. Semangatnya yang menolak padam adalah cerminan dari tema PPN XIV kali ini, "Dari Diksi Menjadi Aksi." Ini menjadi pengingat bahwa sastra tidak boleh mandek sebagai menara gading yang indah di awang-awang. Sastra harus membumi dan menggerakkan perubahan nyata di masyarakat.
Melalui perhelatan ini, kita melihat estafet kreativitas yang terus berjalan dari Sabang sampai Merauke, bahkan merambah Brunei Darussalam dan Malaysia. Kabar baiknya, karya-karya terkurasi dari pertemuan akbar ini akan segera diterbitkan oleh Perpustakaan Nasional RI agar dapat dinikmati masyarakat luas.
Para maestro boleh saja menua secara fisik, namun warisan pemikiran mereka akan tetap abadi. Bertemu mereka adalah sebuah pengingat reflektif bahwa menjadi penyair berarti menjadi penjaga memori dan jangkar sejarah bangsa. Terima kasih, Aceh, yang telah menjadi tuan rumah yang luar biasa. Sampai jumpa dalam rajutan diksi-diksi baru di Brunei Darussalam pada 2027 mendatang.

Komentar