Senin, 29 Juni 2026 | 01:22
OPINI

Merusak Nalar Berbahasa

Merusak Nalar Berbahasa
Ilustrasi merusak nalar berbahasa (Dok Gemini)

OLEH: JAYA SUPRANA

ASKARA - Kamus seharusnya berfungsi sebagai kompas yang menjernihkan arah komunikasi, bukan labirin yang membingungkan penggunanya. Namun, dalam sejarah leksikografi Indonesia, Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) berulang kali mempertontonkan fenomena "keserakahan semantis". Salah satu dosa terbesar KBBI dalam mengacak-acak logika berbahasa masyarakat terlihat nyata pada kodifikasi kata “canggih”. Dengan menumpuk berbagai makna yang saling bertolak belakang dalam satu kata tunggal, KBBI tidak sedang memperkaya kosakata, melainkan sedang merusak nalar berbahasa publik.

Jika kita membedah isi kamus, kata canggih dipaksa memikul beban leksikal yang luar biasa berat dan kacau. Pada lapisan makna historisnya (makna pertama dan kedua), canggihdidefinisikan sebagai "banyak cakap, bawel, cerewet," serta "suka mengganggu atau ribut." Ini adalah sifat peyoratif (negatif). Namun, melompat ke lapisan makna modern, kata yang sama tiba-mouse didefinisikan sebagai "kehilangan kesederhanaan yang asli (sangat rumit, ruwet, atau terkembang)" demi memadankan kata bahasa Inggris sophisticated, seperti pada frasa teknik elektronika yang canggih.

Di sinilah malpraktik kebahasaan itu terjadi. Bagaimanakah sebuah kata yang awalnya dilekatkan pada tabiat manusia yang menyebalkan, cerewet, dan mengganggu, tiba-tiba dicaplok secara paksa untuk menggambarkan kehebatan teknologi mutakhir?

Keserakahan birokrasi bahasa dalam menjejalkan makna-makna baru yang bertolak belakang ini menciptakan anomali logika yang fatal. Bahasa yang sehat membutuhkan ketegasan batas kelas kata dan konsensus nilai rasa (konotasi). Ketika KBBI mencampuradukkan nilai negatif (bawel) dan nilai positif-intelektual (teknologi tinggi) ke dalam satu wadah fonetis, kamus sedang memproduksi ambiguitas akut.

Bayangkan sebuah kalimat jurnalistik: "Sistem kecerdasan buatan itu sangat canggih." Secara semantik formal menurut hukum KBBI, kalimat tersebut sah-sah saja diartikan bahwa sistem AI tersebut "sangat cerewet, bawel, dan suka bikin ribut." Tentu ini adalah sebuah kegilaan logika. Menyerahkan beban pemisahan makna sepenuhnya kepada konteks kalimat—sebagaimana dalih klasik para leksikograf—adalah bentuk kemalasan akademis. Jalan pintas memborong makna ini diambil hanya karena keengganan menciptakan neologisme (kata serapan baru) yang lebih presisi untuk kata sophisticated.

Bahasa adalah perpanjangan dari cara kita berpikir. Ketika otoritas bahasa melegalkan kerancuan ekstrem seperti pada kata canggih, mereka sedang mendidik masyarakat untuk memaklumi ketidakpastian berpikir. Sikap kritis pengguna bahasa sangat diperlukan untuk menolak standardisasi yang serakah ini. Jika kamus resmi terus mempertahankan ego kodifikasi yang mengambang dan merusak nalar, maka sudah saatnya publik mengambil jarak dan mendikte balik kamus demi menyelamatkan kewarasan logika berbahasa kita sendiri.

Kuman di seberang lautan tampak, gajah di pelupuk mata sendiri tak tampak, maka bukan tidak mungkin, dengan menulis naskah tentang merusak nalar berbahasa ini, saya juga sedang melakukan perilaku merusak nalar berbahasa. Saya memang manusia biasa yang mustahil sempurna maka niscaya pernah berbuat kekeliruan sama halnya dengan para tokoh manusia yang menyusun KBBI.  Maka mari kita merujuk tanpa memberhalakan kamus.

 

Komentar