Harta Karun yang Tersembunyi - Restorasi Kapel Hati Kudus Yesus
ASKARA - Terus terang: Kagum, Takjim. Saya sampai berkali-kali menontong ulang. Penuh kekaguman, indah karena penuh makna simbolik dan intimitas relasi dengan Tuhan yang kental terasa demikian reflektif, adoratif, sekaligus mistis.
Sebenarnya Gereja Katolik tidak menghadirkan "Harta Karun" itu sekedar "hiasan". Seni melukis Kepel Hati Kudus Yesus di Biara Sanur Jl. Pos no 2 itu lahir dari satu keyakinan sederhana, yakni Allah tidak hanya berbicara kepada pikiran manusia, tetapi menjumpai seluruh diri manusia.
Manusia tidak hidup dari kata-kata; manusia itu melihat, merasakan, bergerak dan juga diam. Karean itu, perjumpaan dengan Allah pun tidak cukup hanya terjadi dalam kepala. Ia perlu menyentuh seluruh keberadaan kita.
Karya seni lukisan dalam Kapel adalah ekspresi liturgi, lewat indera warna, bentuk, lambang, keindahan, komposisi .. semuanya membantu manusia masuk ke dalam suasana doa secara elbih utuh, artinya sebagai peserta yang sungguh terlibat.
Simbol dalam liturgi dan sarana peribadatan Gereja Katolik bukan hanya penunjuk, tetapi pembawa makna yang hidup. Dengan simbol lukisan pada dinding-dinding Kapel sebagai ruang doa, hal-hal yang tak terlihat menjadi lebih dekat dan dapat dirasakan. Hati akan lebih mudah terangkat kepada Allah membentuk satu kesatuan doa yang indah, dimana manusia masuk dalam keikutsertaan karya Allah sendiri yang Ia kehendaki mesti kita lakukan sebagai abdi Tuhan.
Dalam lukisan, kakta-kata akan berhenti dan manusia belajar merasakan getaran jiwa untuk 'mendengarkan' kuasa Allah yang berbicara dalam diam.
Lukisan yang indah, teliti, detail pada akhirnya tidaklah menjadikan iman pada hal yang rumit. Justru sebaliknya, semuanya ada untuk membantu manusia beriman masuk lebih dalam ke hadirat misteri Allah dengan cara yang paling manusiawi. Sebab, dalam iman Kristiani, Allah tidak jauh dan abstrak. Ia telah mendekat dalam Yesus Kristus, yang lahir dalam sejarah manusia. Maka hiasan lukisan dalam Kapel Hati Kudus Yesus berbicara dengan cara yang sama: bukan lewat kata-kata, melainkan lewat warna, keindahan dan diam. Di balik semuanya itu, Gereja mengajak kita mengalami satu hal yang sangat sederhana namun mendalam: Allah itu dekat, hadir, dan sedang menyapa hidup kita dan terasa di hati. Itulah "Harta Karun" yang takkan lekang oleh waktu dan zaman.
Tanda-tanda liturgi seperti lukisan ikonik dalam dinding Kapel tidak hanya berfungsi sebagai simbol pengingat atau ilustrasi keagamaan. Lukisan indah dalam Kapel di Biara Santa Ursula itu memiliki daya sakramentalitas yang tidak hanya menunjukkan sesuatu, tetapi juga menghadirkan dan melaksanakan apa yang ditandainya. Selamat menghidupi "Harta Karun" yang tersembunyi .. Puri Batin dalam jiwa kita masing-masing tempat tinggal kerahiman, kemuliaan dan kemurahan Tuhan dapat kita rasakan.
Salam sehat, berlimpah berkat.
+ Rm Yos Bintoro, Pr

Komentar