Belajar dari Athena Versus Athena
OLEH: JAYA SUPRANA
ASKARA - Sejarah paling kejam bukan saat Athena kalah oleh Sparta. Tapi saat Athena kalah oleh dirinya sendiri.
Tahun 431–404 SM, Athena adalah adidaya: armada laut terkuat, ekonomi pelabuhan paling kaya, filsafat paling nyala. Sparta justru kalah jumlah, kalah dagang, kalah kebudayaan, kalah peradaban. Tapi yang menang perang Peloponnesia adalah Sparta.
Mengapa? Karena musuh Athena yang sesungguhnya bukan di utara. Musuhnya ada di dalam Agora.
Athena punya Tembok Benteng Panjang, gudang gandum, dan 300 kapal trireme. Tapi di dalam tembok itu terjadi perang narasi: Demagog melawan kaum bijak, miskin melawan kaya, pelabuhan melawan akademi. Kepercayaan runtuh lebih cepat dari tembok.
Jika rakyat sibuk saling serang di ruang digital, saling curiga pada pemerintah dan sebaliknya, saling batalkan satu sama lain, maka benteng kita sudah bolong dari dalam.
Pagebluk melanda Athena di tengah perang Peloponnesia. Panik menyebar. Tuduh-menuduh merebak. Rakyat kehilangan akal sehat kolektif. Filsafat kalah oleh ketakutan.
“Bangunlah jiwanya” didahulukan oleh Indonesia Raya karena alasan ini. Tanpa ketenangan, tanpa tabayun, tanpa rasa satu nasib, warga paling canggih pun akan lari dari tanggung jawab. Raga tanpa jiwa adalah barisan yang mudah bubar saat krisis.
Warga Athena berhenti berkata “Kami orang Athena”. Mereka bilang “Kami kubu ini, kami kubu itu”. Ketika identitas pecah menjadi faksi, musuh tidak perlu banyak. Cukup duduk dan menunggu.
Identitas kita bukan buzzer A vs buzzer B, bukan kampus X vs kampus Y. Identitas kita satu: Indonesia. Jika faksi lebih kuat dari bangsa, maka kita sedang mengulang skenario Athena.
Athena tidak ditaklukkan Sparta. Athena ditaklukkan Athena. Sparta hanya datang memungut reruntuhan. Bela Negara di era dron dan nuklir karenanya dimulai dari satu titik : menjaga Persatuan sebagai pertahanan pertama.Jaga jiwa bangsa agar tetap satu. Setelah itu, baru bangun raganya: skill, dron, siber, dan kesiapsiagaan.
Karena negara yang jiwanya utuh, musuh sebesar apa pun akan berpikir dua kali. Negara yang jiwanya pecah, musuh sekecil apa pun cukup menonton.

Komentar