Imajinasi John Lennon
OLEH JAYA SUPRANA
ASKARA - Imagine there’s no heaven, Imagine all the people living for today. Imagine there’s no countries. And no religion too. Imagine all the people living life in peace (John Lennon)
Mari aejenak kita renungi imajinasi John Lennon.
Andaikata pagi ini dunia bangun tanpa agama. Bukan karena agama hilang, tapi karena kita menaruhnya sejenak di rak. Kita buka jendela dan lihat tetangga sebelah: tanpa label, tanpa kiblat, tanpa ritual yang sama. Apa yang tersisa?
Mungkin kita kaget. Ternyata orang tetap menolong orang yang jatuh dari motor. Tetap memberi nasi ke yang lapar. Tetap mengusap mata bayi yang nangis. Kebaikan tidak butuh password. Kasih sayang tidak butuh KTP rohani.
Andaikata tiada agama, kita masih punya hati nurani. Itu “agama” pertama yang Tuhan tulis langsung di dada manusia, sebelum kitab diturunkan. Rasanya sama : malu kalau menyakiti, hangat kalau memaafkan, sesak kalau melihat duka. Tanpa agama, mungkin kita berhenti bertanya “kamu surga-nya di mana?” dan mulai bertanya “hari ini kamu cukup makan tidak?”. Kita berhenti sibuk mengunci pintu surga, lalu sibuk membuka pintu rumah. Wombat tetap gali tanah. Platypus tetap berenang buta pakai sonar. Koala tetap ngunyah daun. Anaconda tetap sabar nunggu rezeki. Monyet Sangeh tetap kurang ajar. Alam tidak debat teologi. Alam cuma bekerja.
Tapi andaikata juga: tanpa agama, kita kehilangan bahasa untuk bicara pada Yang Maha. Kehilangan ritme untuk menunduk. Kehilangan syair yang menenangkan waktu duka. Kehilangan cerita yang bikin manusia mau berkorban untuk orang yang bahkan belum lahir. Tanpa agama, “sakral” jadi kata langka. Semua jadi urusan hitung-hitungan.
Jadi kontemplasi ini bukan ajakan menghapus agama. Ini latihan imajinasi John Lennon. Dia tidak bilang “hapus agama”. Dia bilang “bayangkan”. Karena dengan membayangkan dunia tanpa label, kita baru sadar: inti dari semua agama sebetulnya sama. Welas asih. Kasih-Sayang. Kemanusiaan. Rendah hati. Hidup berdampingan.
Rahwana punya Sigiriya, Kasyapa punya Sigiriya, wisatawan punya Sigiriya, pemandu wisata punya Sigiriya. Batunya tetap sama. Yang beda cerita yang kita tempel di dindingnya. Andai kata tiada agama, semoga yang tersisa bukan kosong. Semoga yang tersisa adalah esensinya: manusia yang tetap memilih damai, meski tidak ada kitab suci yang menyuruh.
Dan kalau agama kita ambil lagi dari rak, kita bawa pulang satu pelajaran: Tuhan tidak butuh kita berdebat siapa paling benar. Tuhan butuh kita saling berpelukan . Hangat. Tanpa syarat. Tanpa kasta. Penuh kasih sayang.
The colors of the rainbow/ So pretty in the sky/ Are also on the faces/ Of people going by/ I see friends shaking hands Saying, "How do you do?", They're really saying I love you/ I hear babies cry/ I watch them grow/ They'll learn much more/ Than I'll ever know
And I think to myself : What a wonderful world

Komentar