Koperasi dan Militer
OLEH: JAYA SUPRANA
Koperasi itu rumahnya rakyat kecil. Logonya rantai, artinya gotong royong. Misi utamanya: simpan-pinjam, jualan bareng, hidup bareng, untung bareng.
Militer itu rumahnya disiplin. Logonya bintang, artinya komando. Misi utamanya: siaga, tertib, siap tempur.
Nah, pertanyaannya: kenapa rantai disuruh baris berbaris?
Entah siapa yang pertama bilang: “Biar manajer koperasi tangguh, kirim ke latihan militer!”. Kedengarannya keren. Tangguh, disiplin, tepat waktu, nggak telat setor iuran. Masalahnya, koperasi bukan batalyon. Manajer koperasi bukan prajurit. Kerjaan mereka bukan merayap di lumpur, tapi merayap di laporan keuangan yang lebih licin dari lumpur.
Bayangkan skenaro kurikulumnya: Pagi push-up 50x. Siang dikasih materi neraca. Sore disuruh yel-yel: “Koperasi Jaya!” Malam disuruh bikin RAB.
Hasilnya? Ada dua kemungkinan:
1. Manajernya jadi atlet: Ototnya naik, kas koperasinya tetap.
2. Manajernya jadi trauma: Lihat angka langsung keringat dingin, trauma disuruh “hukuman” kalau defisit.
Koperasi butuh literasi keuangan, tata kelola, audit, dan digitalisasi. Bukan mental tempur, tapi mental tertib pembukuan.
Yang paling tragis : kalau ada peserta yang jatuh sakit, pingsan, atau celaka di tengah “pendidikan karakter” model barak, siapa yang tanggung jawab? Koperasi? Panitia? Atau kita semua yang cuma bisa nulis status “Turut berduka”?
Koperasi dibentuk UU untuk menyejahterakan anggota. Bukan untuk menyeleksi siapa yang paling kuat fisiknya. Kalau tujuannya bikin manajer tahan banting, lebih murah kasih mereka training audit BPKP daripada training barak.
Hubungan koperasi dengan militer harusnya begini: saling menghormati, bukan saling menyeragamkan. Militer jaga kedaulatan negara. Koperasi jaga kedaulatan ekonomi warga. Titik.
Kalau mau manajer koperasi “militer”, maksudnya disiplin, transparan, tidakkorupsi. Itu bisa dilatih di kelas, bukan di lapangan lumpur. Koperasi kuat kalau anggotanya sejahtera, bukan kalau manajernya bisa plank 10 menit. Jangan sampai slogan "Koperasi Jaya” dibayar dengan keringat, air mata apalagi nyawa. Karena ujung-ujungnya, rakyat cuma bertanya satu hal: : "Kas koperasi saya nambah atau nggak, Pak?" Bukan "Manajernya bisa merayap nggak, Komandan?"

Komentar