Kamis, 23 Juli 2026 | 11:50
OPINI

Prapaskah: Iman yang Bergerak

Prapaskah: Iman yang Bergerak
Ilustrasi prajurit TNI dan Polri turun untuk melayani (Dok OCI)

ASKARA - Minggu Kedua Masa Prapaskah selalu menghadirkan dua gerak yang terasa kontras: pergi dan naik. Pergi seperti Abraham. Naik seperti para murid di gunung.

Dalam Kitab Kejadian 12:1–4a, Abram mendengar satu kalimat yang mengubah seluruh hidupnya: “Pergilah dari negerimu…” Tidak ada peta. Tidak ada jaminan detail. Hanya janji. Pada usia tujuh puluh lima tahun, ia meninggalkan Haran—tanah yang akrab, aman, dan terukur. Langkah itu bukan nekat, melainkan iman yang bergerak. Dari keberanian itu lahir sejarah keselamatan.

Lalu Injil membawa langkah kaki ke sebuah gunung tinggi. Dalam Injil Matius 17:1–9, Yesus dimuliakan di hadapan Petrus, Yakobus, dan Yohanes. Wajah-Nya bercahaya, pakaian-Nya putih berkilau. Musa dan Elia hadir. Suasana itu begitu indah sampai Petrus ingin mendirikan kemah dan menetap di sana. Siapa yang tidak ingin tinggal dalam momen terang seperti itu?

Namun kemuliaan di puncak bukan tujuan akhir. Setelah awan dan suara Bapa berlalu, mereka harus turun. Turun menuju Yerusalem. Turun menuju salib.

Di situlah Prapaskah menemukan nadinya: iman bukan sekadar pengalaman rohani yang menggetarkan, tetapi kesediaan melangkah saat arah belum sepenuhnya jelas.

Dalam kehidupan keluarga TNI dan Polri, kata “pergi” bukan hal asing. Penugasan ke daerah baru, rotasi jabatan, panggilan mendadak di tengah malam, atau hari raya yang dilalui dalam dinas—semua itu bagian dari irama pengabdian. Ada yang berpindah kota, ada yang berjaga saat yang lain beristirahat. Tidak selalu mudah. Kadang sunyi. Kadang melelahkan.

Sabda dari Surat Kedua kepada Timotius 1:8b–10 mengingatkan: jangan malu bersaksi tentang Tuhan, dan jangan takut memikul bagian dalam penderitaan demi Injil. Kekuatan itu bukan berasal dari kemampuan pribadi semata, melainkan dari rahmat yang sudah dianugerahkan dalam Kristus—yang telah mengalahkan maut dan membawa hidup yang tak binasa.

Mazmur 33 menenangkan hati: mata Tuhan tertuju kepada mereka yang berharap pada kasih setia-Nya. Di tengah dinamika tugas dan risiko, ada pandangan Ilahi yang tidak pernah lalai. Tidak ada pengorbanan yang luput dari perhatian-Nya.

Gunung Tabor mengajarkan satu hal penting: terang Tuhan kadang diberikan bukan untuk menetap, tetapi untuk menguatkan sebelum perjalanan berlanjut. Ada momen doa yang hening, ada Ekaristi yang menguatkan, ada pelukan keluarga yang memulihkan. Semua itu bekal untuk kembali turun—melayani dengan hati yang jernih.

Prapaskah bukan sekadar soal pengurangan atau pantang lahiriah. Prapaskah adalah perjalanan: berani melangkah seperti Abraham, berani turun gunung seperti para murid, dan tetap setia meski jalan mengarah pada salib. Dalam kesetiaan itulah kemuliaan perlahan dinyatakan.

Semoga terang Kristus yang pernah bersinar di gunung itu juga menerangi barak, markas, rumah dinas, dan setiap ruang keluarga. Di sanalah iman tumbuh—diam-diam, tetapi kokoh.

+Salam sehat berlimpah berkat.

Romo Yos Bintoro, Pr

Komentar