BIN Butuh Orang Dalam, Maroef Paling Paham Dapur Intelijen
ASKARA - Dalam dunia intelijen, ada satu hal yang tidak bisa dibeli oleh jabatan, tidak bisa dipercepat oleh kursus, dan tidak bisa digantikan oleh popularitas, yakni, pengalaman membaca anatomi lembaga dari dalam.
Karena itu, ketika publik kembali menyebut nama Marsekal Madya TNI AU (Purn.) Maroef Sjamsoeddin, wajar jika muncul satu gagasan yang terdengar sederhana, tetapi sebenarnya strategis, sudah sepantasnya Maroef kembali ke BIN.
Bukan karena kekurangan figur lain, bukan karena romantisme masa lalu, tetapi karena intelijen nasional membutuhkan sosok yang memahami satu hal paling krusial, BIN bukan sekadar institusi, melainkan sistem.
Dan sistem hanya bisa dibenahi oleh orang yang tahu persis letak urat nadi dan titik lemahnya.
BIN Butuh Orang yang Mengerti, Bukan Sekadar Mengisi
Sering kali kita keliru memandang jabatan intelijen seperti jabatan administratif biasa. Seolah cukup mengisi struktur, mengatur rapat, lalu menyusun program.
Padahal intelijen adalah kerja sunyi, kerja presisi, dan kerja yang berisiko tinggi. Di dalamnya ada jaringan, disiplin informasi, pengendalian operasi, dan perang psikologis yang tidak selalu tampak di permukaan.
Di titik ini, BIN tidak hanya butuh pejabat, tetapi butuh arsitek.
Dan Maroef adalah salah satu figur yang pernah hidup dalam ruang itu, bukan hanya melintas.
Jejak Karier yang Membentuk Karakter
Maroef Sjamsoeddin bukan orang baru dalam disiplin militer dan dunia operasi. Ia purnawirawan TNI Angkatan Udara dengan pangkat terakhir Marsekal Madya, berasal dari Korps Pasukan Khas (Paskhas) dan lulusan Akademi Angkatan Udara 1980.
Dalam perjalanan militernya, ia pernah menjadi Komandan Skuadron 465 Paskhas, yang kini dikenal sebagai Kopasgat. Satuan ini bukan tempat belajar teori, melainkan tempat membentuk mental dan ketahanan karakter.
Ia juga pernah ditugaskan sebagai Atase Pertahanan Indonesia di Brasil, sebuah posisi yang menguji kemampuan membaca lingkungan strategis internasional, di mana intelijen, diplomasi, dan kepentingan negara sering kali berkelindan.
BIN: Rumah Lama yang Pernah Ia Pahami
Namun yang membuat nama Maroef relevan untuk BIN bukan semata latar belakang militernya, melainkan rekam jejak intelijennya.
Ia pernah menduduki posisi penting di BIN, mulai dari: Direktur Kontra Separatis, Staf Ahli Hankam BIN, hingga Wakil Kepala BIN (2011–2014)
Ini bukan jabatan simbolik. Ini posisi yang bekerja di jantung isu nasional, seperti: separatisme, ancaman keamanan, stabilitas politik, dan pengendalian informasi.
Dalam konteks Indonesia hari ini, isu-isu itu tidak berkurang. Justru berkembang dalam bentuk baru, perang narasi, operasi digital, disinformasi, polarisasi, hingga ancaman ekonomi yang disusupi kepentingan asing.
Mengapa Kembali?
Pertanyaan paling penting bukan “mengapa Maroef?”, tetapi “mengapa sekarang?”.
Karena Indonesia sedang berada pada fase yang menuntut kecermatan intelijen tingkat tinggi. Dunia bergerak cepat, geopolitik semakin keras, dan ancaman tidak selalu datang dalam bentuk senjata.
Hari ini, ancaman bisa hadir dalam: investasi yang tampak manis tetapi mengikat, konflik sosial yang dipantik algoritma, ketegangan politik yang disulut rumor, hingga perang dagang yang diam-diam memukul ekonomi rakyat.
BIN membutuhkan figur yang tidak mudah terbawa arus opini, tidak mudah tergoda pencitraan, dan cepat mengambil keputusan.
Figur seperti itu biasanya lahir dari dua hal, pengalaman operasi dan kedewasaan institusional.
Dari BIN ke MIND ID: Membaca Dua Dunia
Menariknya, Maroef pada 5 Maret 2025 resmi ditunjuk sebagai Direktur Utama MIND ID, holding industri pertambangan milik negara.
Sebagian orang mungkin melihat ini sebagai “pergeseran jalur.” Namun dalam perspektif strategis, pengalaman di MIND ID justru memperkaya pemahaman tentang ancaman baru, intelijen ekonomi dan sumber daya.
Pertambangan bukan sekadar bisnis. Ia menyangkut, kepentingan negara, perebutan sumber daya, permainan oligarki, dan tarik-menarik kepentingan global.
Dengan pengalaman itu, Maroef bukan hanya memahami ancaman keamanan, tetapi juga memahami medan ekonomi yang sering kali menjadi “pintu masuk” operasi pengaruh.
BIN Tidak Bisa Dipimpin dengan Naluri Politik
Ini bagian yang sering dihindari untuk dibahas secara jujur.
Intelijen negara bukan tempat uji coba. BIN bukan panggung bagi kompromi politik. BIN bukan juga tempat “mengamankan stabilitas” dengan cara menutup fakta.
BIN harus bekerja untuk negara, bukan untuk kepentingan sesaat.
Karena itu, figur yang memahami anatomi BIN penting. Ia tahu batas antara operasi intelijen yang sah dan manuver yang merusak demokrasi.
Ia tahu kapan harus bergerak, kapan harus menahan diri.
Dan yang lebih penting: ia tahu bagaimana menjaga BIN tetap kuat tanpa menjadi alat kekuasaan yang liar.
Refleksi: Kita Butuh Ketenangan yang Berpengalaman
Indonesia terlalu sering berganti arah hanya karena pergantian orang. Terlalu sering mengulang pelajaran yang sama, seolah negara ini tidak pernah punya memori kelembagaan.
Dalam dunia intelijen, memori itu mahal. Bahkan lebih mahal dari anggaran.
Maroef Sjamsoeddin adalah salah satu potongan memori itu.
Ia tidak perlu dibesar-besarkan. Tidak perlu dibangun mitos. Tetapi kontribusinya tidak bisa diabaikan.
Jika negara ingin BIN tetap tajam, modern, dan berpihak pada kepentingan nasional, maka kembali menghadirkan figur yang paham anatomi BIN bukan langkah mundur.
Itu justru langkah menjaga agar lembaga intelijen tidak kehilangan arah di tengah gelombang perubahan.
Penutup
Ada masa ketika bangsa memerlukan pemimpin yang berani. Ada masa ketika bangsa memerlukan pemimpin yang bersih. Dan ada masa ketika bangsa memerlukan pemimpin yang paham medan.
Hari ini, Indonesia membutuhkan ketiganya.
Dan dalam konteks BIN, Maroef Sjamsoeddin adalah salah satu nama yang memenuhi syarat paling langka, mengerti dari dalam, paham dari pengalaman, dan matang dari perjalanan.
Jika negara ingin BIN bekerja dengan tenang, presisi, dan berwibawa, maka jalan pulang Maroef ke BIN bukan sekadar wacana.
Itu adalah kebutuhan.

Komentar