Jangan Lagi Ada Air Mata di Papua
Tokoh Adat Tabi: Stop Senjata, Papua Sudah Final NKRI
ASKARA - Di Papua, suara tembakan kadang lebih cepat terdengar daripada suara sekolah. Di beberapa kampung, cerita tentang anak yang pergi ke hutan membawa senjata lebih sering muncul daripada cerita anak yang berangkat membawa buku. Di tanah yang begitu kaya, rakyat kecil justru kerap hidup dalam rasa cemas: cemas ketika malam turun, cemas ketika jalanan sepi, cemas ketika kabar buruk datang dari ujung kampung.
Di tengah situasi itu, Hironimus Taime, Tokoh Adat Tabi dari Jayapura, menyampaikan seruan yang tidak hanya keras, tetapi juga penuh kepedihan. Seruan itu ia tujukan kepada generasi muda Papua yang masih memilih jalan senjata dengan alasan “berjuang”.
“Adik-adik Papua yang bergerak dengan alasan berjuang untuk Papua Merdeka, banyak yang tidak paham, atau paham tapi paksa diri,” kata Hiro.
Ia tidak sedang bicara dari ruang seminar ber-AC. Ia bicara sebagai orang Papua, sebagai tokoh adat, yang melihat luka-luka itu dari dekat. Luka yang tidak selalu tampak di televisi. Luka yang tinggal dalam tubuh masyarakat: anak-anak yang tumbuh dengan trauma, mama-mama yang menyimpan takut, dan kampung-kampung yang tertinggal karena hidup terlalu lama dalam bayang-bayang konflik.
Bukan Lagi Soal Wacana, Tapi Soal Nyawa
Bagi Hiro, perdebatan tentang status Papua sudah terlalu sering dijadikan bahan bakar emosi. Padahal, ia menegaskan, secara internasional Papua sudah diputuskan sejak lama.
“Papua kita sudah dibagi dengan hukum internasional melalui resolusi PBB… terakhir ditetapkan dengan Resolusi Nomor 2504 Tahun 1969 pasca Referendum PEPERA,” ujarnya.
Namun yang paling ia tekankan bukan sekadar resolusi atau dokumen. Yang ia tekankan adalah harga yang dibayar rakyat.
“Hitung saja sudah berapa nyawa melayang?” katanya.
Kalimat itu terdengar sederhana, tapi berat. Karena di Papua, kematian sering tidak tercatat sebagai angka. Ia tercatat sebagai cerita duka. Sebagai rumah yang tiba-tiba kehilangan anak. Sebagai mama yang berhenti tersenyum. Sebagai kampung yang mendadak sepi.
“Senjata Itu Bukan Jalan Pulang”
Hiro menyebut gerakan bersenjata selama ini masih memakai pola lama: perang konvensional. Bagi sebagian orang, itu terlihat gagah. Tapi bagi Taime, itu justru seperti bunuh diri perlahan.
“Gerakan bersenjata itu modelnya konvensional. Yang penting pegang senjata dan perang menembak atau ditembak. Itu sama dengan taruh nyawa di ujung senjata itu sendiri,” tegasnya.
Ia tahu, senjata memberi rasa “kuat” sesaat. Tapi ia juga tahu, senjata jarang membawa pulang siapa pun dengan utuh. Yang pulang sering hanya kabar kematian. Atau luka panjang yang tak bisa disembuhkan.
Papua Tidak Datang Belakangan
Dalam narasinya, Hiro Taime mengajak orang Papua untuk kembali menengok sejarah. Ia menegaskan bahwa orang Papua bukan sekadar “ikut” Indonesia. Orang Papua sudah hadir sejak awal perjalanan kebangsaan.
Ia menyebut bahwa tokoh Papua pernah hadir dalam Kongres Pemuda 1928 di Batavia, peristiwa yang melahirkan Sumpah Pemuda.
“Sejarah mencatat 27 tahun sebelum Indonesia merdeka, Orang Asli Papua sudah bersuara untuk Indonesia merdeka,” kata Taime.
Bagi Hiro Taime, fakta itu penting. Sebab banyak generasi muda Papua tumbuh dengan narasi bahwa Papua adalah korban sejarah. Padahal, dalam catatan sejarah, orang Papua ikut menorehkan tanda tangan kebangsaan.
“NKRI itu tanggung jawab bersama putra-putri Nusantara,” ujarnya.
Yang Membuat Papua Retak Bukan Cuma Politik, Tapi Luka Sosial
Taime menyebut bahwa narasi Papua Merdeka sejak 1961 adalah proyek Belanda. Ia menegaskan bahwa konflik panjang yang terjadi tidak bisa dilepaskan dari jejak kolonial.
“Papua Merdeka itu buatan orang Belanda,” katanya.
Namun, Taime tidak berhenti di sana. Ia membawa isu itu ke sesuatu yang lebih dekat: bagaimana konflik memecah orang Papua sendiri.
“Niat baik bantuan atau kebijakan apa pun bisa membuat masyarakat pecah belah kalau kita tidak hati-hati,” kata Taime dalam bagian lain seruannya.
Bagi Taime, konflik bukan hanya soal “siapa benar dan siapa salah”. Konflik adalah soal bagaimana masyarakat perlahan kehilangan rasa aman.
Pepera Dipersoalkan? Taime: Itu Tidak Paham Adat
Salah satu bagian yang paling tegas dalam pernyataan Taime adalah saat ia menanggapi kritik tentang Pepera yang tidak memakai sistem One Man One Vote.
“Kalau orang Papua mempersoalkan PEPERA itu tidak melibatkan semua orang Papua melalui One Man One Vote, itu sama dengan orang Papua tidak tahu adat,” tegasnya.
Ia menjelaskan bahwa dalam struktur adat, keputusan memang diwakili oleh kepala suku. Sama seperti sistem noken dalam pemilu yang diakui negara karena menghormati tradisi.
Di sini, Taime seperti ingin berkata: jangan pakai kacamata luar untuk menghakimi cara Papua mengambil keputusan.
Yang Dibutuhkan Papua: Air Bersih, Sekolah, Klinik
Setelah berbicara soal sejarah dan hukum, Taime kembali ke hal paling nyata: kebutuhan dasar.
Ia menyebut satu per satu: rumah layak huni, jalan dan jembatan, pasar, pertanian, perikanan, sekolah, klinik, puskesmas, listrik, air bersih.
“Mari kita bangun kampung halaman supaya terang rumah dan jalan, kantor dan sekolah, klinik dan puskesmas… air bersih hadir di rumah-rumah,” ujarnya.
Kalimat itu terasa seperti doa. Seperti harapan seorang tua kepada tanahnya sendiri. Harapan yang sederhana, tapi selama ini sulit diwujudkan jika konflik terus berulang.
“Daripada perang paling cuma tinggalkan air mata dan duka,” katanya.
Tentang Investasi dan Hak Ulayat: “Jangan Sampai Orang Luar Ambil Semua”
Taime juga mengingatkan bahwa Papua memang menjadi incaran investor asing. Karena itu, menurutnya, masyarakat pemilik hak ulayat harus cerdas menjaga tanahnya.
“Papua memang diincar investor asing. Masyarakat pemilik hak ulayat harus jaga bersama pemerintah,” ujarnya.
Ia mencontohkan bagaimana Freeport sejak 1996 memiliki skema dana sosial yang kemudian berkembang menjadi lembaga seperti YPMAK. Walau belum sempurna, Taime menganggap itu contoh bahwa investasi harus memberi manfaat langsung.
Namun ia memberi catatan paling tajam: semuanya harus dikelola dengan jujur.
“Jujur urus uang itu untuk tolong masyarakat,” katanya.
Akhirnya: Ini Tentang Pulang, Bukan Menang
Taime menutup seruannya dengan nada yang sangat Papua: hangat, tapi tegas. Ia mengajak semua pihak berdamai.
“Lebih baik sadar dan rekonsiliasi (berdamai) supaya jaga Papua tetap aman dan damai,” ujarnya.
Ia tidak sedang berbicara tentang menang atau kalah. Ia berbicara tentang pulang. Pulang ke rumah yang aman. Pulang ke kampung yang terang. Pulang ke Papua yang tidak lagi menyimpan tangis.
“Tuhan sayang ketong semua, mari baku sayang yah,” tutupnya.

Komentar