Rabu, 17 Juni 2026 | 19:53
Editorial

Gunung Padang dan Borobudur, Benarkah Satu Garis Peradaban Nusantara?

Gunung Padang dan Borobudur, Benarkah Satu Garis Peradaban Nusantara?
Borobudur sebelum ditata ulang (Dok IG GNFI)

ASKARA - Perdebatan tentang peradaban Nusantara kembali mengemuka setiap kali Gunung Padang disebut. Situs megalitik di Cianjur, Jawa Barat itu kerap memantik pertanyaan mendasar: apakah teknologi penyusunan batu-batu besar di Gunung Padang memiliki keterkaitan dengan kecanggihan bangunan candi-candi Hindu-Buddha yang tersusun dari batu andesit, dipotong presisi, dan diukir dengan detail tinggi?

Pertanyaan ini bukan sekadar romantisme sejarah, melainkan refleksi atas satu fakta tak terbantahkan: Nusantara memiliki tradisi pengolahan batu yang sangat panjang. Gunung Padang menunjukkan kemampuan menyusun batuan vulkanik dalam skala besar, dengan orientasi dan tata letak tertentu. Sementara Borobudur, Prambanan, dan candi-candi lain memperlihatkan fase lanjutan, ketika batu andesit tidak hanya disusun, tetapi dipotong simetris, disambung presisi, dan dihias dengan seni tinggi.

Secara arkeologis, kedua tradisi ini kerap dipisahkan oleh rentang waktu dan konteks budaya yang berbeda. Gunung Padang ditempatkan dalam tradisi megalitik, sedangkan candi-candi masuk dalam periode Hindu-Buddha. Namun, pemisahan kronologis tidak otomatis meniadakan kemungkinan kesinambungan pengetahuan. Peradaban tidak selalu “lahir baru”; sering kali ia mewarisi, menyempurnakan, lalu mentransformasikan teknologi dan kosmologi dari generasi sebelumnya.

Yang patut dicermati adalah kesamaan material: batuan vulkanik yang keras. Baik Gunung Padang maupun candi-candi besar Jawa sama-sama memanfaatkan hasil alam yang sama, andesit dan basal, yang membutuhkan pemahaman geologi, teknik pemotongan, serta metode penyusunan yang matang. Sulit membayangkan kecanggihan itu muncul tiba-tiba tanpa proses panjang pembelajaran kolektif.

Gunung Padang mungkin belum menunjukkan seni ukir seperti relief Borobudur, tetapi ia menampilkan logika struktural. Candi-candi Hindu-Buddha, di sisi lain, adalah puncak estetika dan simbolisme. Jika Gunung Padang adalah “arsitektur fungsi”, maka candi adalah “arsitektur makna”. Keduanya bisa jadi berada dalam satu garis evolusi pengetahuan, bukan dua dunia yang sepenuhnya terpisah.

Editorial ini tidak bermaksud menyimpulkan secara prematur bahwa Gunung Padang adalah leluhur langsung Borobudur. Ilmu pengetahuan menuntut kehati-hatian dan bukti. Namun, menutup kemungkinan adanya kesinambungan lokal juga sama kelirunya. Sejarah Nusantara terlalu sering diposisikan sebagai penerima pasif pengaruh luar, padahal jejak teknologinya menunjukkan kapasitas kreatif yang mandiri dan berkelanjutan.

Pertanyaan tentang hubungan Gunung Padang dan tradisi candi seharusnya menjadi pemicu riset yang lebih jujur, terbuka, dan lintas disiplin, arkeologi, geologi, teknik sipil, hingga kosmologi budaya. Bukan untuk membuktikan klaim sensasional, melainkan untuk memahami satu hal penting: Nusantara memiliki ingatan peradaban yang panjang, dan sebagian darinya mungkin belum sepenuhnya kita dengar.

Di sanalah letak tantangannya. Bukan memilih antara “percaya” atau “menolak”, tetapi berani meneliti tanpa prasangka. Sebab peradaban besar tidak lahir dari ruang kosong, melainkan dari akumulasi pengetahuan yang diwariskan batu demi batu, zaman demi zaman.

 

 

Komentar