Minggu, 19 Juli 2026 | 05:46
OPINI

Gunung Padang, Cermin Sunyi Kesombongan Manusia

Gunung Padang, Cermin Sunyi Kesombongan Manusia
Ilustrasi penulis dengan Gunung Padang (Dok Arman)

ASKARA - Ada yang bertanya mengapa saya masih sering datang ke Gunung Padang. Bukankah di sana tidak ada jabatan yang bisa diperebutkan, tidak ada panggung untuk mencari tepuk tangan, dan tidak ada kursi empuk yang bisa diduduki?

Justru karena itulah saya datang.

Gunung Padang mengajarkan sesuatu yang tidak pernah diajarkan oleh kursi-kursi kekuasaan: semakin tinggi seseorang melangkah menuju teras-terasnya, semakin ia sadar bahwa dirinya sesungguhnya sangat kecil. Batu-batu yang telah bertahan ribuan tahun seolah sedang menertawakan kesombongan manusia yang sering merasa abadi hanya karena diberi jabatan beberapa tahun.

Di dunia organisasi, saya pernah ikut mendorong orang agar sampai ke puncak. Saya ikut menyusun langkah, menguatkan semangat, bahkan percaya bahwa perjuangan bersama akan melahirkan persaudaraan yang panjang. Namun setelah puncak itu diraih, saya belajar bahwa tidak semua orang membawa ingatan yang sama usai menggapai puncak gunung kehidupan. Ada yang tetap menoleh ke belakang, ada pula yang memilih melupakan jejak-jejak yang telah mengantarnya.

Dulu saya sempat bertanya, mengapa manusia begitu mudah berubah? Jawabannya justru saya temukan ketika berkali-kali menapaki Gunung Padang. Di sana tidak ada batu yang meninggikan dirinya. Batu yang berada di teras paling atas tetap berasal dari bumi yang sama dengan batu di bawahnya. Hanya manusia yang sering lupa bahwa posisi bukanlah kemuliaan.

Di hadapan batu-batu purba itu, saya merasa semua gelar kehilangan suaranya. Ketua, pengurus, pejabat, atau tokoh hanyalah sebutan yang akan habis dimakan waktu. Yang tetap tinggal hanyalah jejak sikap dan ketulusan. Alam tidak pernah bertanya siapa ketuanya. Alam hanya menerima siapa pun yang datang dengan hati yang bersih.

Karena itu saya tidak lagi menyesali mereka yang berubah setelah mendapatkan kursi. Barangkali mereka sedang menikmati ujian yang berbeda. Saya memilih terus berjalan, sebab Gunung Padang telah mengajarkan bahwa perjalanan spiritual jauh lebih panjang daripada perjalanan menuju sebuah jabatan.

Batu-batu di Gunung Padang tidak pernah meminta dipuji, tetapi tetap kokoh melewati zaman. Sebaliknya, banyak manusia sibuk mengejar pujian, namun rapuh ketika kehilangan sanjungan. Mungkin itulah perbedaan antara menjadi bagian dari sejarah dan sekadar menjadi berita sesaat.

Kini saya memahami bahwa pertolongan yang pernah saya berikan kepada orang lain tidak pernah sia-sia, meski mungkin dilupakan manusia. Sebab setiap langkah menuju Gunung Padang selalu mengingatkan saya bahwa Tuhan tidak pernah salah mencatat. Manusia boleh lupa, waktu boleh berlalu, jabatan boleh berganti, tetapi setiap niat baik akan tetap menemukan jalannya kembali.

Maka saya akan terus datang ke Gunung Padang, bukan untuk mencari jawaban tentang orang lain, melainkan untuk mengingatkan diri sendiri agar tidak menjadi seperti mereka yang lupa ketika berada di atas. Sebab setinggi apa pun seseorang mendaki kehidupan, pada akhirnya ia akan kembali ke tanah yang sama, dan hanya kerendahan hati yang akan membuat namanya tetap hidup dalam doa, bukan sekadar dalam arsip organisasi.

 

* Pemerhati Gunung Padang

Komentar