Sekolah, Lingkungan Hidup Ketahanan Pangan dan Jalan Tengah Pembangunan
Oleh: Agusto Sulistio - Pegiat Sosmed._
ASKARA - Ada satu pelajaran penting yang sering terlupakan dalam pembangunan sebuah bangsa.
Bangunan yang megah, jalan tol yang panjang, kawasan industri yang terus bertambah, hingga pertumbuhan ekonomi yang tinggi pada akhirnya akan kehilangan makna apabila generasi penerusnya tumbuh tanpa karakter yang mencintai alam dan lingkungannya.
Karena itu, pembangunan nasional sejatinya bukan hanya membangun gedung, pelabuhan, bendungan, atau kawasan industri. Pembangunan juga berarti membangun manusia. Membangun cara berpikir, kebiasaan, dan karakter yang mampu menjaga keseimbangan antara kemajuan ekonomi dengan kelestarian lingkungan hidup.
Inilah makna yang dapat ditangkap dari kunjungan Menteri Lingkungan Hidup/Kepala Badan Pengendalian Lingkungan Hidup (KLH/BPLH), Moh Jumhur Hidayat, ke SMA Negeri 1 Gresik, Jawa Timur, pada 15 Juli 2026 lalu.
Sekilas kunjungan tersebut tampak seperti agenda rutin pemerintahan. Namun apabila dicermati lebih dalam, sesungguhnya terdapat sebuah strategi besar yang sedang dibangun, menjadikan sekolah sebagai titik awal lahirnya generasi Indonesia yang produktif, peduli lingkungan, sekaligus mampu memperkuat ketahanan pangan nasional.
SMA Negeri 1 Gresik dipilih bukan tanpa alasan. Berdasarkan penilaian KLH/BPLH, sekolah ini berhasil meraih predikat Adiwiyata Mandiri, penghargaan tertinggi bagi sekolah yang berhasil mengintegrasikan pendidikan lingkungan ke dalam budaya sehari-hari. Penilaian tersebut tidak hanya melihat keberadaan taman, pepohonan, atau bangunan yang hijau, melainkan terutama perubahan perilaku seluruh warga sekolah yang secara konsisten menjaga lingkungan.
Di sekolah ini terdapat rumah persemaian (greenhouse), kolam budidaya lele, ruang terbuka hijau, berbagai inovasi lingkungan, hingga sistem pengelolaan sampah yang terus diperkuat melalui bantuan drop box dari KLH/BPLH. Semua itu bukan sekedar fasilitas fisik, tetapi media belajar agar peserta didik memahami bahwa alam bukan hanya untuk dimanfaatkan, melainkan juga harus dirawat.
Dalam kunjungannya, Menteri Jumhur menegaskan bahwa keberhasilan SMAN 1 Gresik layak menjadi contoh bagi sekolah-sekolah di seluruh Indonesia karena mampu menumbuhkan kesadaran lingkungan sebagai bagian dari budaya hidup.
Data yang disampaikan KLH/BPLH juga cukup menggembirakan. Dari sekitar 1.346 satuan pendidikan di Kabupaten Gresik, sebanyak 156 sekolah telah menjadi Sekolah Adiwiyata selama periode 2021–2026. Angka ini menunjukkan bahwa ketika pemerintah daerah, sekolah, guru, orang tua, dan masyarakat berjalan bersama, perubahan budaya menuju kehidupan yang lebih ramah lingkungan bukanlah sesuatu yang mustahil.
Namun yang menarik, Program Adiwiyata di bawah kepemimpinan Menteri Jumhur tidak berhenti pada urusan penghijauan sekolah semata.
Program ini mulai diarahkan menjadi bagian dari pembangunan ekonomi masyarakat melalui penguatan ketahanan pangan. Lahan sekolah yang selama ini sering dianggap ruang kosong, kini didorong menjadi kebun produktif, tempat budidaya ikan, pusat pembelajaran pertanian sederhana, hingga laboratorium kewirausahaan bagi para siswa.
Di sinilah terlihat kepiawaian Menteri Jumhur dalam menerjemahkan visi besar Presiden Prabowo Subianto. Salah satu prioritas pembangunan nasional adalah memperkuat ketahanan pangan, meningkatkan kualitas sumber daya manusia, serta mewujudkan pembangunan yang berkeadilan antargenerasi.
Program lingkungan hidup tidak ditempatkan sebagai kebijakan yang berdiri sendiri, melainkan menjadi bagian yang saling menguatkan dengan agenda pembangunan nasional.
Pendekatan seperti ini penting karena selama bertahun-tahun sering muncul anggapan bahwa perlindungan lingkungan hidup selalu bertentangan dengan pembangunan ekonomi. Seolah-olah negara harus memilih salah satunya, mengejar pertumbuhan atau menjaga lingkungan. Padahal, pengalaman banyak negara menunjukkan bahwa pembangunan yang mengabaikan daya dukung lingkungan justru akan melahirkan persoalan baru, seperti krisis air, pencemaran, banjir, gagal panen, hingga meningkatnya biaya kesehatan masyarakat.
Sebaliknya, perlindungan lingkungan yang dilakukan secara ekstrim tanpa memperhatikan kebutuhan ekonomi rakyat juga dapat menghambat investasi, mengurangi lapangan pekerjaan, dan memperlambat pertumbuhan. Indonesia membutuhkan jalan yang lebih bijaksana.
Di sinilah terlihat pendekatan yang selama ini dibangun Menteri Jumhur. Lingkungan hidup diposisikan bukan sebagai penghambat pembangunan, tetapi sebagai pondasi agar pembangunan dapat berlangsung dalam jangka panjang. Dengan kata lain, pembangunan ekonomi dan pelestarian lingkungan tidak dipertentangkan, melainkan diselaraskan.
Pendekatan tersebut juga sejalan dengan komitmen Indonesia dalam berbagai forum internasional mengenai pengendalian perubahan iklim dan agenda dunia menuju "Net Zero Emissions" pada tahun 2050. Indonesia memiliki tanggung jawab sebagai salah satu negara dengan kawasan hutan tropis terbesar di dunia. Namun pada saat yang sama Indonesia juga memiliki kewajiban meningkatkan kesejahteraan rakyat, membuka lapangan pekerjaan, memperkuat industri nasional, dan menjaga ketahanan energi serta pangan.
Karena itu, jalan yang dipilih Indonesia bukanlah meniru begitu saja kebijakan negara lain, melainkan membangun transisi yang adil (just transition). Pengurangan emisi dilakukan secara bertahap tanpa mengorbankan kepentingan masyarakat, dunia usaha, maupun target pembangunan nasional.
Prinsip inilah yang selama beberapa kesempatan juga disampaikan Menteri Jumhur dalam berbagai forum internasional, yakni bahwa perlindungan lingkungan harus berjalan beriringan dengan keadilan sosial dan kesejahteraan rakyat.
Dalam konteks tersebut, Program Adiwiyata sesungguhnya memiliki makna strategis yang jauh melampaui dunia pendidikan. Program ini sedang menanam benih perubahan pola pikir. Anak-anak diajarkan sejak dini bahwa sampah memiliki nilai ekonomi apabila dikelola dengan baik, lahan sempit dapat menghasilkan pangan, pohon memiliki fungsi ekologis sekaligus manfaat ekonomi, dan lingkungan yang bersih akan meningkatkan kualitas hidup masyarakat.
Apabila kebiasaan seperti ini tumbuh di jutaan siswa Indonesia, maka dalam satu atau dua dekade mendatang Indonesia tidak hanya memiliki tenaga kerja yang cerdas secara akademik, tetapi juga memiliki generasi yang memahami pentingnya efisiensi sumber daya, ekonomi sirkular, konservasi air, pengelolaan sampah, serta produksi pangan yang berkelanjutan.
Dukungan Gubernur Jawa Timur, Khofifah Indar Parawansa, yang menginginkan model tersebut menjadi pilot project nasional juga menunjukkan bahwa sinergi antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah merupakan kunci keberhasilan.
Ketahanan pangan memang tidak selalu harus dimulai dari lahan yang luas. Dari halaman sekolah, pekarangan rumah, hingga ruang terbuka yang selama ini kurang dimanfaatkan, masyarakat dapat belajar menghasilkan pangan sekaligus menjaga lingkungan.
Pada akhirnya, pembangunan nasional yang dicita-citakan Presiden Prabowo tidak hanya diukur dari besarnya investasi, tingginya pertumbuhan ekonomi, atau bertambahnya infrastruktur. Keberhasilannya juga akan ditentukan oleh kualitas manusia Indonesia yang mampu menjaga keseimbangan antara kemajuan ekonomi, kelestarian lingkungan, dan keberlanjutan kehidupan.
Apa yang dilakukan Menteri Jumhur Hidayat melalui Program Adiwiyata menunjukkan bahwa keseimbangan itu bukan hanya konsep di atas kertas, lebih dari itu dapat diwujudkan melalui langkah-langkah sederhana, dimulai dari ruang kelas, halaman sekolah, dan kebiasaan sehari-hari para siswa.
Masa depan Indonesia bukan hanya ditentukan oleh apa yang kita bangun hari ini, tapi oleh karakter generasi yang kita bentuk sejak sekarang. Di situlah sekolah menjadi tempat menanam harapan, lingkungan menjadi ruang belajar, dan pembangunan nasional menemukan pondasinya yang paling kokoh, yakni manusia Indonesia yang mencintai bumi tempat kita berpijak.

Komentar