Kenisbian Kontes Kecantikan
OLEH: JAYA SUPRANA
ASKARA - Manusia bisa debat agama, politik, dan cara masak rendang. Tapi ujung-ujungnya kita sepakat kumpul tiap tahun buat kasih skor ke wajah dan tubuh perempuan. Namanya: *Kontes Kecantikan*.
Ajang paling demokratis untuk memaksakan selera.
1. Dalil Pertama: Selera Nisbi, Tapi Juri Sok Universal
Di satu tempat cantik = kulit putih, hidung mancung.
Di tempat lain cantik = gigi direnggang, leher pakai cincin, badan singset.
Di tempat lain lagi cantik = bebas jerawat + alis cetar.
Di tempat lain cantik = gembrot lambang kemakmuran.
Semuanya benar. Dan tidak ada yang benar. Cantik itu kayak sambal. Ada level 1, ada level 10. Tidak ada sambal yang "paling benar sedunia". Tapi panggung kontes maksa kita nunjuk SATU pemenang. Seolah kecantikan bisa ditimbang pakai timbangan daging. Padahal adanya di mata yang melihat.
2. Dalil Kedua: Konteksnya Dibajak Imperialisme Selera
Ini bagian paling absurd.
Standar "cantik" yang kita kejar hari ini sebagian besar adalah produk industri hiburan Amerika Serikat. Paket lengkap: rambut, body, gaya jalan, cara jawab "world peace". Laris manis, dikemas rapi, lalu diekspor ke seluruh dunia lewat film, iklan, dan Instagram. Didukung semangat imperialisme selera: mendikte bahwa "selera yang bagus = selera Hollywood". Kalau tidak mirip aktris Hollywood, berarti "kurang internasional".
Contoh paling fresh from the oven : waktu Helena diperankan Lupita Nyong’o. Internet langsung pecah. Pro kontra berkelanjutan. "Terlalu gelap", "kurang Eropa", "justru ini baru Helena". Bahkan dewi dari mitologi Yunani pun kalau tidak sesuai cetakan selera yang dominan, bisa jadi perang komentar. Padahal mitosnya sendiri bilang Helena itu "wajah yang meluncurkan 1000 kapal". Kapal dari mana aja. Bukan kapal dari satu studio film saja.
3. Absurditas Tertinggi: Memaksa Orang Suka Sate Kambing
Saya pribadi suka sate kambing. Enak, nendang, bumbunya meresap. Tapi konyol kalau saya maksa semua orang harus suka sate kambing. Termasuk yang vegetarian, yang alergi, yang memang dari sananya tidak suka.
Nah kontes kecantikan kerjanya juga begitu itu. Menjuri sesuatu yang sejatinya urusan selera yg subyektif dipaksa menjadi obyektif. Urusan "klik" di hati. Lalu dipaksa jadi keputusan nasional, bahkan global, yang disiarkan langsung kayak final piala dunia.
Juri menilai "jiwa" dan "intelektualitas" dalam 30 detik catwalk + 1 menit jawab "bagaimana menyelamatkan dunia". Hasilnya kita dapat ratu yang jago jalan, jago senyum, jago menghafal damai. Hebat. Tapi apakah itu definisi cantik? Atau itu definisi "paling cocok dengan brief tahun ini"?
Kompetisi kesenian pada hakikatnya sudah absurd, namun kontes kecantikan lebih absurd lagi. Kontes ini bukan tentang mencari cantik. Ini ritual. Ritual tahunan untuk menegosiasikan: "Tahun ini kita sepakat cantik itu begini".
Silakan soraki pemenangnya. Kagumi kerja kerasnya. Tapi ingat: Cantik itu kacamata, bukan mahkota. Dan setiap kacamata saling beda plus-minusnya.
Jadi kalau ada yang bilang "dia tidak cantik", jawab santai saja: "Iya. Itu menurut selera kamu".

Komentar