Rabu, 17 Juni 2026 | 18:42
NEWS

Aceh Terjepit Bencana, Baret ICMI Temui BRIN Bentuk Crisis Center

Aceh Terjepit Bencana, Baret ICMI Temui BRIN Bentuk Crisis Center
Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Prof. Dr. Arif Satria, S.P., M.Si., foto bersama Ketua Umum DPP Baret ICMI, Lili Erawati, serta Ketua Kelompok Kerja Baret ICMI Aceh, Zam Zam Mubarak (Dok Askara)

ASKARA - Badan Reaksi Cepat Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (Baret ICMI) melakukan pertemuan dengan Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Prof. Dr. Arif Satria, S.P., M.Si., guna membahas inisiatif pembentukan Crisis Center Bencana Aceh di wilayah Aceh Tengah, Rabu (31/12).

Crisis Center tersebut dirancang sebagai pusat koordinasi, riset, dan analisis data kebencanaan yang melibatkan perguruan tinggi serta berbagai pemangku kepentingan. Inisiatif ini diharapkan mampu memperkuat respons cepat dan penanganan bencana secara lebih terukur dan berbasis pendekatan teknokratis.

Pertemuan tersebut dihadiri Ketua Umum DPP Baret ICMI, Lili Erawati, serta Ketua Kelompok Kerja Baret ICMI Aceh, Zam Zam Mubarak. Dalam pertemuan itu, Zam Zam menegaskan pentingnya kolaborasi lintas sektor dalam penanganan bencana di Aceh.

“Penanganan bencana Aceh akan lebih mudah teratasi bila ada kolaborasi semua pihak dan pendekatan teknokratis yang didukung data dan riset,” ujar Zam Zam Mubarak.

Menurut Baret ICMI, keberadaan Crisis Center Bencana Aceh akan berfungsi sebagai simpul informasi dan koordinasi, mulai dari pemetaan risiko, analisis dampak, hingga rekomendasi kebijakan bagi pemerintah pusat dan daerah dalam menghadapi situasi darurat.

Saat ini, wilayah Aceh masih menghadapi kondisi kebencanaan yang kompleks. Penanganan bencana longsor dan banjir di sejumlah daerah belum sepenuhnya rampung, sementara Aceh Tengah kini berada dalam status siaga menyusul potensi aktivitas Gunung Api Burni Telong.

Baret ICMI menilai kondisi tersebut membutuhkan perhatian serius dan penguatan koordinasi nasional. Pemerintah pusat didorong untuk segera mengambil langkah strategis dalam memperkuat sistem penanganan bencana Aceh secara terpadu, berkelanjutan, dan berbasis ilmu pengetahuan.

“Crisis Center ini diharapkan menjadi bagian dari solusi jangka panjang dalam membangun kesiapsiagaan bencana Aceh,” tutup Zam Zam.

 

Komentar