Rabu, 17 Juni 2026 | 18:40
COMMUNITY

Baret ICMI Aceh Gagas Sekolah Siaga Bencana Berbasis Adat dan Ekologi

Baret ICMI Aceh Gagas Sekolah Siaga Bencana Berbasis Adat dan Ekologi
Pengurus Baret ICMI, Hardy Fauzi (Ketua Baret ICMI Aceh Tengah), Lili Erawati (Ketua Umum DPP Baret ICMI), Zam Zam Mubarak (Ketua DPW Baret ICMI Aceh) foto bersama Kepala Pelaksana BPBD Aceh Tengah (Dok Zam Zam)

ASKARA - Baret ICMI Aceh menyiapkan program “Sekolah Siaga Bencana” sebagai upaya membangun kesiapsiagaan jangka panjang pascabencana banjir bandang yang melanda Aceh Tengah pada 26 November 2025. Program tersebut dirancang dengan mengintegrasikan pendidikan mitigasi bencana, pemulihan ekologi, serta kearifan lokal masyarakat.

Ketua DPW Baret ICMI Aceh, Zam Mubarak, mengatakan kesiapsiagaan menghadapi bencana harus dimulai dari lingkungan sekolah karena ancaman bencana tidak dapat diselesaikan dalam waktu singkat.

“Kesiapsiagaan bencana harus dimulai dari sekolah. Ancaman bencana bersifat jangka panjang dan membutuhkan proses pendidikan yang berkelanjutan,” kata Zam Mubarak di Banda Aceh, Senin (1/6).

Menurutnya, siswa perlu dibekali pemahaman mendalam mengenai pentingnya menjaga wilayah hulu Daerah Aliran Sungai (DAS), khususnya di kawasan Gayo yang menjadi penyangga kehidupan masyarakat Aceh Tengah.

“Hulu DAS adalah jantung kehidupan. Jika siswa memahami fungsi hulu DAS, mereka akan mengerti pentingnya menjaga hutan, tanah, dan sumber air untuk keberlangsungan hidup generasi mendatang,” ujarnya.

Zam menjelaskan, program Sekolah Siaga Bencana yang digagas Baret ICMI Aceh akan bertumpu pada tiga pilar utama, yakni pendidikan mitigasi bencana, pembangunan ekosistem lingkungan sekolah yang sehat, serta penguatan nilai-nilai adat dan pengetahuan lokal.

Menurutnya, pendidikan mitigasi tidak cukup hanya berupa teori menghadapi bencana, tetapi harus diikuti dengan pembentukan lingkungan sekolah yang mendukung keberlanjutan ekologi melalui pelestarian vegetasi, pengelolaan air, dan perlindungan tanah.

“Pengetahuan lokal masyarakat Gayo selama ratusan tahun telah menjadi benteng dalam menjaga keseimbangan lingkungan. Nilai-nilai itu harus diwariskan kepada generasi muda melalui pendidikan,” katanya.

Dalam kesempatan tersebut, Zam juga menyoroti dampak bencana 26 November 2025 yang menurutnya memiliki konsekuensi jangka panjang terhadap lingkungan dan kehidupan masyarakat.

Ia menilai kerusakan yang terjadi di kawasan hulu DAS akibat banjir bandang dan longsor berpotensi menimbulkan dampak berkelanjutan terhadap sumber air, ketahanan pangan, akses pendidikan, hingga distribusi logistik masyarakat.

“Kerusakan di wilayah hulu DAS memiliki risiko yang berlangsung dalam jangka panjang karena menyangkut tanah, sumber air, dan ancaman longsor susulan yang dapat memengaruhi kehidupan masyarakat selama bertahun-tahun,” ujarnya.

Baret ICMI Aceh berencana menggandeng berbagai pihak, mulai dari pemerintah, akademisi, lembaga pendidikan, hingga komunitas adat untuk mengembangkan Sekolah Siaga Bencana berbasis adat dan ekologi sebagai model pemulihan pascabencana yang dapat diterapkan secara lebih luas.

“Kami ingin program ini menjadi model nasional bagaimana pendidikan, lingkungan, dan kearifan lokal dapat bersatu dalam membangun ketangguhan masyarakat menghadapi bencana,” pungkas Zam Mubarak.

 

Komentar