Inspirasi Prof. Rokhmin Dahuri: Meniti Jalan Berkah Dengan iman, salat, dan infak
ASKARA - Dalam riak kehidupan yang penuh tantangan, Rektor Universitas UMMI Bogor, Prof. Dr. Ir. Rokhmin Dahuri, MS bukan hanya dikenal sebagai pakar kelautan dan tokoh pembangunan berkelanjutan, tetapi juga sebagai sosok yang menjadikan iman, salat, dan infak sebagai fondasi utama dalam setiap langkahnya.
Di tengah gelombang dunia akademik, birokrasi, dan pengabdian masyarakat, beliau menunjukkan bahwa spiritualitas bukanlah pelengkap, melainkan pusat gravitasi dari seluruh perjuangan hidup.
Prof. Rokhmin Dahuri menekankan pentingnya iman dan takwa sebagai fondasi kebahagiaan dunia dan akhirat. Hubungan dengan Allah (ibadah mahdhah) dan hubungan dengan sesama manusia (ibadah ghaira mahdhah) harus berjalan seimbang.
“Ketika iman, salat, dan infak menjadi bagian dari hidup, maka Allah meninggikan derajat dan melimpahkan nikmat-Nya,” ujar Anggota Komisi IV DPR RI ini dalam quotes inspirasi pagi, Ahad (25/10).
Kalimat ini bukan sekadar nasihat, melainkan cerminan dari perjalanan panjang yang beliau tempuh—dari desa pesisir Gebang Cirebon hingga panggung nasional dan internasional.
Iman sebagai Kompas Kehidupan
Iman baginya ini bukan sekadar keyakinan, melainkan kompas yang menuntun arah. Dalam setiap keputusan strategis, baik sebagai akademisi maupun pejabat publik, beliau senantiasa menimbang nilai-nilai keadilan, keberlanjutan, dan kemaslahatan umat. Iman menjadi sumber keberanian untuk berkata benar, bahkan ketika arus politik dan kepentingan ekonomi mencoba menggoyahkan prinsip.
Salat sebagai Titik Keseimbangan
Di tengah jadwal yang padat dan tanggung jawab yang luas, salat menjadi titik keseimbangan. Prof. Rokhmin meyakini bahwa salat bukan hanya ritual, tetapi ruang dialog dengan Sang Pencipta, tempat ia mengurai kegelisahan, memohon petunjuk, dan memperkuat tekad.
“Salat lima waktu adalah jeda yang menyegarkan jiwa, dan sumber energi untuk terus berbuat baik," kata Guru Besar Fakultas Kelautan dan Perikanan IPB University ini.
Infak sebagai Manifestasi Kepedulian
Infak, dalam pandangan beliau, adalah bentuk nyata dari cinta kasih dan solidaritas. Tak hanya dalam bentuk materi, tetapi juga ilmu, waktu, dan tenaga. Prof. Rokhmin aktif membina generasi muda, mendukung riset-riset strategis, dan terlibat dalam berbagai kegiatan sosial. Ia percaya bahwa memberi bukan mengurangi, melainkan melipatgandakan keberkahan.
Pada tahun 2007, saat ia masih menjabat Menteri Kelautan dan Perikanan, terungkap bahwa infak dan zakat juga dibayarkan dari dana non-bujeter kementerian. Meskipun ini lebih merupakan laporan fakta, namun menunjukkan bahwa infak adalah hal yang dianggap penting dalam praktik kehidupan beragama.
Derajat yang Ditinggikan, Nikmat yang Dilimpahkan
Kehidupan adalah bukti bahwa ketika spiritualitas menjadi inti, maka keberhasilan bukan hanya soal jabatan atau penghargaan, tetapi tentang dampak dan legacy.
Ia dihormati bukan hanya karena keahliannya, tetapi karena integritasnya. Ia dicintai bukan hanya karena prestasinya, tetapi karena ketulusan dan kepeduliannya.
Dosen Kehormatan Mokpo National University Korea Selatan itu mengkritik pemimpin yang fokus pada tujuan duniawi semata, karena menurut beliau, dimensi akhirat lebih sulit digenggam. Beliau menyampaikan pandangan ini sebagai bagian dari nasihatnya tentang pentingnya akhlak mulia untuk mencapai kesuksesan dan kebahagiaan dunia serta akhirat, dan bukan hanya mengejar keuntungan duniawi.
"Sekarang banyak pemimpin yang hubbuddunya, takut kasus hukumnya terbongkar jadi tersandera. Hukum bukan untuk menegakkan keadilan tetapi untuk kepentingan pribadi, mengorbankan kepentingan akhirat untuk dunia," tegasnya.

Komentar