Jumat, 21 Agustus 2026 | 08:41
COMMUNITY

Inspirasi Jum'at, Prof Rokhmin: Kemerdekaan Sejati Adalah Saat Masjid Makmur, Laut Sejahtera, dan Rakyat Bersatu

Inspirasi Jum'at, Prof Rokhmin: Kemerdekaan Sejati Adalah Saat Masjid Makmur, Laut Sejahtera, dan Rakyat Bersatu
Prof. Rokhmin Dahuri (dok.kabarcirebon)

ASKARA – Suasana berbeda terasa di Masjid Nurul Huda, Jalan Cipto Mangunkusumo, Kesambi, Kota Cirebon, Senin (17/8) lalu. Tepat setelah Salat Subuh berjamaah yang bertepatan dengan HUT ke-81 Kemerdekaan RI, ratusan jamaah tak beranjak. Mereka bertahan untuk menyimak tausiyah kebangsaan putra asli Cirebon, Prof. Dr. Ir. Rokhmin Dahuri, MS.

Acara yang dimulai pukul 05.15 WIB itu dihadiri Ketua DKM, tokoh masyarakat Kesambi, pemuda masjid, hingga ibu-ibu majelis taklim. Gema takbir kemerdekaan masih terasa, doa untuk pahlawan dipanjatkan bersama sebelum tausiyah dimulai.

Guru Besar Fakultas Kelautan dan Perikanan IPB University tampil sederhana dengan baju koko putih dan peci hitam. Pria kelahiran Desa Gebang Mekar, Kampung Nelayan, 16 November 1958 itu mengaku sengaja memilih pulang dan Subuh di Kesambi di hari kemerdekaan.

"Saya SD sampai SMA di Cirebon, jadi setiap menginjak Cirebon, darah saya berdesir. Alhamdulillah, 81 tahun Indonesia merdeka kita bisa Subuh berjamaah dengan tenang di Masjid Nurul Huda ini. Ini adalah nikmat kemerdekaan yang paling hakiki yang sering kita lupa," buka Prof. Rokhmin Dahuri.

3 Pesan Merdeka dari Mimbar Subuh

Dalam tausiyah bertema "Mengisi Kemerdekaan dengan Iman, Ilmu, dan Cinta Tanah Air Bahari", Ketua Umum Dulur Cirebonan ini menyampaikan tiga pesan penting:

1. Syukur yang Produktif, Bukan Syukur yang Tidur

Menurutnya, syukur atas kemerdekaan tidak cukup dengan upacara dan pesta. Syukur yang hakiki adalah bekerja lebih keras.

"Allah beri kita 17.000 pulau, 108.000 km garis pantai, 70% wilayah kita adalah laut. Anugerah terluas di dunia. Tapi kalau masjid kita makmur hanya untuk ibadah ritual, sementara ekonomi umat lemah, laut kita dikuasai bangsa lain, itu namanya kita belum merdeka seutuhnya. Jangan mau jadi kuli di negeri sendiri," tegasnya.

2. Pemimpin Harus Punya Sifat Rasulullah

Di momen kemerdekaan, ia menegaskan Indonesia butuh pemimpin yang memiliki sifat Sidiq, Amanah, Tabligh, dan Fathanah.

"Kalau pemimpin Sidiq jujur, Amanah tidak korupsi, Fathanah cerdas dan berilmu, Tabligh menyampaikan kebenaran, maka persatuan bangsa akan kokoh. Inilah yang diajarkan Rasulullah, dan inilah ruh dari Pancasila, UUD 1945, NKRI dan Bhinneka Tunggal Ika," ujarnya.

3. Masjid Pusat Kebangkitan Peradaban Bahari

Menteri Kelautan dan Perikanan RI 2001-2004 itu memuji DKM Nurul Huda yang berhasil memakmurkan Subuh. Ia menyebut kebangkitan harus dimulai dari masjid jam 5 pagi, bukan dari mal jam 5 sore.

"Masjid Nurul Huda ini di jalan utama Kota Cirebon. Kalau Subuhnya saja penuh seperti ini di hari kemerdekaan, saya yakin Cirebon akan menjadi episentrum kebangkitan ekonomi bahari dan ekonomi umat. Dari masjid kita atur koperasi nelayan, beasiswa anak pesisir, dan literasi digital," katanya.

Soroti Data Kemenag: Hanya 39% Umat Islam Salat

Poin yang paling menyentak adalah saat Prof Rokhmin menyinggung data Kementerian Agama yang menyebut hanya 39 persen umat Islam Indonesia yang rutin salat.

"Data tersebut sudah disampaikan secara terbuka dan telah banyak diberitakan. Karena diteliti oleh lembaga yang kredibel, insyaallah datanya dapat dipertanggungjawabkan," ujarnya.

Anggota Komisi IV DPR RI Dapil Cirebon-Indramayu itu menyebut angka tersebut sebagai alarm keras. Salat adalah rukun Islam kedua dan tiang agama, sekaligus amal pertama yang akan dipertanggungjawabkan.

"Kalau data itu benar, tentu cukup memprihatinkan. Angka 39 persen ini seharusnya menjadi bahan evaluasi dan renungan bersama," ajaknya.

Ia berharap data itu tidak berhenti jadi perdebatan, tapi menjadi momentum introspeksi agar kualitas salat tercermin dalam kehidupan sosial, kejujuran, dan kepedulian.

Tausiyah ditutup dengan doa khusus untuk para pahlawan, keselamatan Kota Cirebon dari banjir rob dan kemiskinan pesisir, serta kemajuan Masjid Nurul Huda sebagai mercusuar dakwah.

Acara berakhir pukul 06.30 WIB dengan musafahah dan sarapan nasi jamblang khas Cirebon di halaman masjid. Sejumlah jamaah tampak antusias berdiskusi soal potensi tambak dan perikanan di pesisir Kesambi.

 

Komentar