Kamis, 04 Juni 2026 | 06:49
NEWS

Jangan Asal Tuduh Evakuasi Rinjani Lambat!

Jangan Asal Tuduh Evakuasi Rinjani Lambat!
Anggota SAR tengah berupaya melakukan evskuasi (Dok Basarnas)

ASKARA – Praktisi pendakian gunung sekaligus pendiri pencinta alam Elpala, Dar Edi Yoga, turut menyampaikan keprihatinan mendalam atas tewasnya pendaki perempuan asal Brasil, Juliana, di Gunung Rinjani, Lombok, Nusa Tenggara Barat. Namun Edi juga menegaskan bahwa komentar miring warganet Brasil yang menyalahkan pemerintah Indonesia atas lambannya proses evakuasi, dinilai tidak tepat dan cenderung emosional.

"Kami ikut berduka, ini tragedi besar bagi dunia pendakian. Tapi jangan asal menuduh tanpa tahu medan. Evakuasi di Rinjani itu bukan urusan mudah, ini medan berat, bukan jalanan kota," kata Edi Yoga, yang juga dikenal sebagai manajer pendakian Sabar Gorky, pendaki tunadaksa yang sukses menaklukkan empat puncak tertinggi dunia, Kamis (26/6).

Edi menjelaskan, lokasi jatuhnya Juliana berada di dasar kawah sedalam sekitar 600 meter. Untuk mencapai dan mengevakuasi korban dari titik tersebut, dibutuhkan peralatan khusus, tenaga ahli, dan waktu yang tidak sedikit.

"Satu gulungan tali karmantel rata-rata panjangnya 200 meter. Bayangkan, korban jatuh 600 meter ke bawah. Perlu beberapa gulungan tali, anchor untuk tambatan, dan itu semua tidak serta-merta tersedia di desa Bayan atau pos BTNGR," paparnya.

Selain faktor peralatan, akses menuju lokasi kejadian juga sangat sulit. Tim penyelamat harus menempuh perjalanan darat selama sekitar 13 jam melalui jalur terjal dan berbahaya.

Terkait seruan sebagian pihak agar menggunakan helikopter, Edi menegaskan hal itu nyaris mustahil dilakukan.

"Tinggi Rinjani itu 12.224 kaki, helikopter sipil maksimal cuma sanggup 10.000 kaki. Ditambah faktor cuaca pegunungan yang tak menentu dan angin kencang, ini bukan soal niat, tapi soal batas kemampuan teknologi," tegasnya.

Melihat tragedi ini, Edi justru mendorong pemerintah dan pengelola gunung agar membentuk SAR Unit (SRU) permanen di kawasan wisata pegunungan, termasuk Rinjani.

"Ini momentum introspeksi. Setiap gunung besar, apalagi yang jadi tujuan wisata dunia, harus punya tim SAR tetap. Guide dan porter lokal yang paling paham medan dilatih profesional, dilengkapi alat standar internasional. Jangan tunggu korban dulu baru ribut," tutur Edi.

Ia juga mengingatkan wisatawan mancanegara, termasuk para pendaki dari Brasil, untuk tidak meremehkan tantangan alam Indonesia.

"Gunung bukan tempat sekadar selfie. Ini alam liar, penuh risiko. Hormati alam, hormati prosedur keselamatan. Jangan begitu ada musibah, ujung-ujungnya semua disalahkan. Mari kita belajar bersama, bukan saling serang," pungkas Edi Yoga.

 

 

Komentar