Selasa, 21 Juli 2026 | 18:35
OPINI

Bukan Sekadar Wartawan! Ini Deretan Peran yang Diemban Sosok Inspiratif Ini

Bukan Sekadar Wartawan! Ini Deretan Peran yang Diemban Sosok Inspiratif Ini
Dar Edi Yoga ketika tampil sebagai narasumber di Kompas TV (Dok Kompastv)

ASKARA - Kecintaan Dar Edi Yoga pada Gunung Padang bukan sekadar ketertarikan pada situs purbakala. Bagi dia, tempat itu adalah simbol keteguhan peradaban, tentang akar, tentang jejak, tentang warisan yang harus dijaga. Dari sana pula, semangat pengabdiannya seperti menemukan makna, membangun hari ini tanpa tercerabut dari nilai-nilai luhur masa lalu.

Jejak hidupnya memang berlapis. Di dunia pers, ia mengemban berbagai amanah strategis. Wakil Ketua Dewan Pertimbangan SMSI Pusat, anggota Pokja Pendataan Dewan Pers, Wakil Sekjen Confederation of ASEAN Journalists (CAJ), hingga pernah menjabat Wakil Bendahara Umum PWI Pusat. Ia memimpin media komunitas kaum muda sebagai Pemimpin Redaksi, dipercaya sebagai Ketua Umum Forum Pemred Media Siber Indonesia (2024-2029), serta Bendahara PWI Jaya (2023-2028).

Namun, jabatan-jabatan itu tidak pernah ia tempatkan sebagai tujuan akhir. Semua dijalaninya sebagai sarana untuk memperkuat integritas profesi dan memperluas manfaat. Baginya, pers bukan sekadar industri informasi, melainkan pilar peradaban yang harus dijaga marwahnya.

Konsistensi itu terlihat pula dalam kiprahnya di forum internasional, termasuk kehadirannya dalam peringatan Hari Kebebasan Pers Dunia di Seoul. Ia membawa semangat jurnalisme Indonesia, tetapi tetap berpijak pada kesadaran bahwa perubahan besar selalu berawal dari komitmen pribadi.

Di luar redaksi, ia menapaki jalur spiritualitas sebagai Master Sahaja Yoga dan praktisi hipnoterapi. Ia pernah melatih tenaga dalam Rasa Jati, bahkan dipercaya melatih personel Detasemen Deteksi Paspampres dan Komando Lintas Laut Militer. Ia percaya keseimbangan batin adalah fondasi ketangguhan lahir.

Kecintaannya pada alam juga nyata. Sejak muda aktif di komunitas pecinta alam, ia kemudian menjadi manajer pendakian bagi Sabar Gorky dalam ekspedisi ke empat puncak dunia, Gunung Elbrus, Kilimanjaro, Carstensz Pyramid, dan Aconcagua. Dari gunung, ia belajar bahwa puncak bukan untuk disombongkan, melainkan untuk disyukuri.

Dalam ranah sosial, ia terlibat di berbagai organisasi lintas profesi dan kebangsaan, ikut mendirikan Beranda Ruang Diskusi, serta menginisiasi pagelaran sendratari di Gunung Padang pada Desember 2025 sebagai bentuk kepedulian terhadap budaya dan sejarah bangsa. Ia memandang dialog lintas gagasan sebagai kebutuhan zaman.

Seluruh kiprah itu memperlihatkan satu benang merah, kesetiaan pada nilai. Ia menunjukkan bahwa seseorang dapat aktif di banyak ruang tanpa kehilangan arah, asalkan pijakannya jelas, pengabdian.

Dari Gunung Padang hingga ruang redaksi, dari forum global hingga ruang-ruang sunyi spiritualitas, Dar Edi Yoga memberi teladan bahwa hidup bisa dijalani secara utuh. Bahwa jabatan adalah amanah, kegiatan adalah laku, dan inspirasi lahir dari konsistensi merawat makna.

 

 

Komentar