Rabu, 22 Juli 2026 | 20:04
OPINI

Udara, Nafas dan Roh

Udara, Nafas dan Roh
Ilustrasi Roh Kudus mengajak oranf keluar dari zona nyaman (Dok Rm Yote)

ASKARA - Pada awal kejadian, Roh Allah melayang-layang di udara. Dunia kala itu masih kacau dan tak teratur. Namun oleh karya-Nya, semuanya dijadikan-Nya amat baik. Manusia pun diciptakan dari tanah yang semula tiada, dihidupkan oleh hembusan nafas-Nya.

Udara bukanlah tanah. Tanah (Adam) itu rapuh, fana, dan tak berarti apa-apa. Namun nafas-Nya menjadikan manusia berarti—berakal budi, berhikmat, mengenal Tuhan, berani, lemah lembut, sabar, mampu menguasai diri, dan memiliki rasa takut akan Allah.

Semakin terang cahaya, semakin gelap dan pekat pula bayangannya. Namun, terang yang murni tak pernah dapat disentuh oleh bayangannya, sebab iman menembus batas realitas yang kasat mata.

Daya Roh Kudus adalah nafas kehidupan yang membentuk jati diri manusia—suatu kekuatan yang tak bisa disaingi oleh kecerdasan buatan.

Hanya mereka yang beriman dan percaya pada kuasa Roh Kudus yang mampu menapaki peziarahan hidup ini secara konsisten—bagai bahtera yang sanggup bertahan di tengah badai dan gelombang kesulitan.

Tuhan tidak mencari hasil yang sempurna, tidak memilih yang kuat dan perkasa. Tuhan mencari hati yang mau bertobat dan berpaling kepada-Nya.

Selama kita masih bernafas, masih ada waktu untuk bertumbuh dalam kasih.

Salam sehat dan berlimpah berkat.

Rm Yos Bintoro, Pr

 

Komentar