Filsafat Melayu
Budi Bahasa Budaya Kita
OLEH: JAYA SUPRANA
Budi Bahasa Budaya Kita
ASKARA - Kearifan Filsafat Melayu bicara tentang `Budi dan Bahasa`. Lembut, berlapis, dan dalam.
Filsafat Melayu tidak berteriak. Ia `berpantun`. Musiknya beiramanya Zapin.
Inti Filsafat Melayu ada di 3 pilar: `Budi, Bahasa, dan Bertempat`.
1. BUDI: UKURAN MANUSIA
Orang Melayu tidak bertanya `“Kamu siapa?”`
Yang ditanya: `“Budi pekertimu bagaimana?”`
`Budi` = akal + rasa + adab.
Tanpa budi, manusia sama dengan `binatang`.
Dengan budi, manusia jadi `manusia`.
Karena itu ada pepatah: “Biar putih tulang, jangan putih mata. Biar patah tulang, jangan patah hati.”`
Martabat lebih penting dari nyawa. Tapi martabat itu dijaga dengan `halus`, bukan kasar.
2. BAHASA: SENJATA YANG TIDAK MELUKAI
Melayu percaya `bahasa menentukan nasib`.
Maka lahirlah budaya `berlapik, berselindung, berkias`.
Marah? Tidak maki. Pakai pantun.
Menolak? Tidak tolak mentah. Pakai `“nanti kita rundingkan”`.
Menasehati? Tidak ceramah. Pakai `gurindam`.
`“Tepuk dada tanya selera”`
`“Seperti aur dengan tebing”`
Bahasa Melayu adalah filsafat yang dibungkus keindahan. Tujuannya satu: `menjaga hati orang`.
Karena menurut Melayu, `melukai hati = merusak dunia`.
3. BERTEMPAT: HIDUP SELARAS
Filsafat Melayu sangat `ekologis` dan `komunal`.
`“Dimana bumi dipijak, disitu langit dijunjung”`
`“Bagai pinang dibelah dua”` - hidup harus sepadan, seimbang.
Laut, sungai, hutan, kampung. Semua punya `tuan` dan `adat`.
Manusia bukan penguasa alam. Manusia adalah `penjaga`.
Hubungan vertikal ke Tuhan, horizontal ke sesama, dan diagonal ke alam harus `serasi`.
Maka Melayu anti `berlebihan`. Ada istilah `cukup, sedang, patut`.
Hidup bukan untuk menang. Hidup untuk `muafakat`.
KESIMPULAN :
Filsafat Melayu itu cermin.
Ia tidak memaksa kamu berubah. Ia menunjukkan: `inilah wajahmu kalau kau punya budi pekerti`.
Dari Riau, Jambi, Palembang, sampai ke Malaysia, Brunei, Singapura, Thailand Selatan : Pattani - `jiwa Melayu` satu:
`Halus tapi berprinsip. Lunak tapi berdaulat. Diam tapi bermakna.`
Kalau Filsafat Aceh bilang `hidup adalah perjuangan`, Filsafat Melayu bilang `hidup adalah penjagaan` - jaga adab, jaga bahasa, jaga nama.
Dan puncaknya ada di satu kalimat: “Tak Melayu Hilang di Dunia”`
Selama budi dan bahasa dijaga, maka peradaban Melayu tidak akan sirna .

Komentar