Kamis, 17 September 2026 | 10:50
OPINI

Filsafat Melayu

Budi Bahasa Budaya Kita

Filsafat Melayu
Ilustrasi Filsafat Melayu (Dok Gemini)

OLEH: JAYA SUPRANA

Budi Bahasa Budaya Kita

ASKARA - Kearifan Filsafat Melayu bicara tentang `Budi dan Bahasa`. Lembut, berlapis, dan dalam.

Filsafat Melayu tidak berteriak. Ia `berpantun`. Musiknya beiramanya Zapin.

Inti Filsafat Melayu ada di 3 pilar: `Budi, Bahasa, dan Bertempat`.

1. BUDI: UKURAN MANUSIA

Orang Melayu tidak bertanya `Kamu siapa?”`

Yang ditanya: `Budi pekertimu bagaimana?`

`Budi` = akal + rasa + adab.

Tanpa budi, manusia sama dengan `binatang`.

Dengan budi, manusia jadi `manusia`.

Karena itu ada pepatah: “Biar putih tulang, jangan putih mata. Biar patah tulang, jangan patah hati.”`

Martabat lebih penting dari nyawa. Tapi martabat itu dijaga dengan `halus`, bukan kasar.

2. BAHASA: SENJATA YANG TIDAK MELUKAI

Melayu percaya `bahasa menentukan nasib`.

Maka lahirlah budaya `berlapik, berselindung, berkias`.

Marah? Tidak maki. Pakai pantun.

Menolak? Tidak tolak mentah. Pakai `nanti kita rundingkan`.

Menasehati? Tidak ceramah. Pakai `gurindam`.

`Tepuk dada tanya selera`

`Seperti aur dengan tebing`

Bahasa Melayu adalah filsafat yang dibungkus keindahan. Tujuannya satu: `menjaga hati orang`.

Karena menurut Melayu, `melukai hati = merusak dunia`.

3. BERTEMPAT: HIDUP SELARAS

Filsafat Melayu sangat `ekologis` dan `komunal`.

`Dimana bumi dipijak, disitu langit dijunjung`

`Bagai pinang dibelah dua` - hidup harus sepadan, seimbang.

Laut, sungai, hutan, kampung. Semua punya `tuan` dan `adat`.

Manusia bukan penguasa alam. Manusia adalah `penjaga`.

Hubungan vertikal ke Tuhan, horizontal ke sesama, dan diagonal ke alam harus `serasi`.

Maka Melayu anti `berlebihan`. Ada istilah `cukup, sedang, patut`.

Hidup bukan untuk menang. Hidup untuk `muafakat`.

KESIMPULAN :

Filsafat Melayu itu cermin.

Ia tidak memaksa kamu berubah. Ia menunjukkan: `inilah wajahmu kalau kau punya budi pekerti`.

Dari Riau, Jambi, Palembang, sampai ke Malaysia, Brunei, Singapura, Thailand Selatan : Pattani - `jiwa Melayu` satu:

`Halus tapi berprinsip. Lunak tapi berdaulat. Diam tapi bermakna.`

Kalau Filsafat Aceh bilang `hidup adalah perjuangan`, Filsafat Melayu bilang `hidup adalah penjagaan` - jaga adab, jaga bahasa, jaga nama.

Dan puncaknya ada di satu kalimat: “Tak Melayu Hilang di Dunia”`

Selama budi dan bahasa dijaga, maka peradaban Melayu tidak akan sirna .

 

Komentar